Tak salah lagi, tiba saatnya Indonesia berkaca diri. Dan kepada cermin yang tergantung di dinding, bertanyalah, "Apakah aku masih secantik dulu, apakah aku masih menarik minat para investor itu?" Setelah "berintrospeksi" lewat cermin, para pengambil keputusan perlu segera menimbang-nimbang. Kalau memang Indonesia tak lagi menarik, kajilah sebab-sebabnya, lalu tetapkan kebijakan baru agar tidak semakin banyak investor yang lari.
Mungkin, dalam penilaian sejumlah pengamat, introspeksi itu terlambat. Soalnya, dalam beberapa tahun terakhir, citra Indonesia kian merosot, dan seiring dengan itu, para investor berpaling ke negara lain. Investasi langsung (foreign direct investment) boleh dibilang mandek, seperti yang diakui Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Luhut Binsar Panjaitan. Yang sudah menanamkan modalnya di sini pun hengkang ke luar, terutama setelah terjadi kerusuhan rasial pada 1998. Gelombang eksodus ini berlanjut terus sampai kini, kendati alasannya berbeda-beda.
Faktor keamanan tampaknya merupakan penyebab utama. Berbisnis menjadi sangat riskan karena berbagai kerusuhan di sejumlah daerah, pengeboman di mana-mana, penjarahan, pendudukan pabrikoleh buruh ataupun penduduk setempatdan pemblokiran jalan masuk ke pabrik. Itu semua membuat perusahaan asing merasa tidak aman. Dengan latar belakang ini, tak mengherankan jika citra Indonesia di mata internasional juga semakin buruk.
Hasil survei sejumlah lembaga internasional mengenai Indonesia menunjang persepsi itu. Survei yang dilakukan Transparency International (TI), misalnya, menghasilkan indeks persepsi korupsi 1,7 bagi Indonesia. Dengan indeks itu, Indonesia menempati posisi ke-86 terbawah dari 90 negara yang disurvei. Pendeknya, Indonesia adalah negara kelima paling korup di dunia. Dan Indonesia tak kunjung mampu meningkat ke posisi lebih baik.
Survei yang dilakukan The Political and Economic Risk Consultancy Ltd. (PERC) pun memberikan hasil yang tak banyak berbeda. Dalam jawabannya, para pengusaha yang disurvei mengatakan bahwa Indonesia memiliki sistem hukum yang paling buruk di ASEAN plus Cina. PERC juga meneliti soal pengelolaan perusahaan (corporate governance). Lagi-lagi, hasilnya mengenaskan. Dan jangan terkejut, posisi Indonesia hanya setingkat lebih baik dari Vietnam.
Dalam berbagai hal lain, Indonesia juga berada di posisi paling buncit. Daya saing Indonesia, misalnya, melempem dan cuma menduduki posisi ke-45 dari 47 perusahaan yang disurvei. Peringkat Indonesia lebih buruk daripada negara eksportir yang menjadi pesaing utama, seperti Malaysia, Thailand, dan juga Cina (lihat tabel).
Bagaimana dengan negara lain? Malaysia, Thailand, dan Filipina jelas lebih baik daripada Indonesia. Malaysia, misalnya, dalam banyak hal sudah melampaui posisi Indonesia, meskipun pada dekade 1960-1970 negeri jiran ini masih belajar dari kita. Dan Cina juga kian jauh meninggalkan Indonesia. Investasi di pasar modal Cina sepanjang tahun lalu mencapai US$ 38 miliar. Menurut ekonom CSIS, Hadi Soesastro, Cina rata-rata mendapatkan 50-60 persen investasi di Asia. Indonesia jelas tak mungkin disandingkan dengan Cina. Bahkan, Indonesia belakangan ini sibuk "menangkis" produk Cina.
Sangat boleh jadi, Vietnam akan menjadi pesaing utama Indonesia di masa datang. Tanda-tandanya sudah kelihatan. Sejumlah investor asing mulai mengurangi kapasitas produksinya di Indonesia dan memindahkannya ke Vietnam. Kementerian Perencanaan dan Investasi Vietnam memperkirakan, investasi langsung ke negaranya tahun ini akan melampaui tahun lalu. Pada tahun 2000, investasi yang sudah dikucurkan ke Vietnam mencapai US$ 2,28 miliar.
Negara yang pernah berperang lawan Amerika Serikat ini juga tengah merencanakan berbagai langkah untuk meningkatkan investasi asing. Termasuk dalam upaya itu, mengurangi tarif jasa dan komoditi, menyiapkan kerangka hukum yang jelas, menerapkan sistem tarif tunggal untuk listrik, telekomunikasi, dan transportasi. Vietnam juga mampu menyediakan upah buruh yang sangat murah dan harga bahan bakar yang paling murah di ASEAN. Pendeknya, Vietnam siap menjadi pesaing utama Indonesia.
Walaupun demikian, banyak juga yang tidak yakin akan potensi Vietnam. Paling tidak, ada sejumlah kendala yang harus lebih dulu diatasi untuk melancarkan berbagai strategi tersebut. Dan tidak sedikit perusahaan yang mencatat pengalaman buruk dengan Vietnam. Menurut mereka, birokrasinya berbelit-belit, sistem hukumnya tidak menunjang, dan korupsinya terang-terangan. Pemerintah Vietnam sudah mencoba menghilangkan borok-borok itu. "Tapi tidak cukup fundamental, hanya menyentuh kulitnya," kata Frederick Burke dari Baker and McKenzie, seperti dikutip Asia 2000 Yearbook, yang diterbitkan Far Eastern Economic Review. Hadi Soesastro juga melihat hal yang sama. "Ekonomi Vietnam sedang menurun sekarang," katanya.
Kalau kesimpulan itu benar, peluang mengejar ketinggalan masih terbuka bagi Indonesia. Ini berarti, introspeksi di depan cermin tak perlu lagi. Agar tak lagi ketinggalan, segeralah turun ke lapangan dan ciptakan iklim berusaha yang nyaman.
M. Taufiqurohman dan Rommy Fibri
| Indonesia, Asean, Cina (Perbandingan Kinerja Ekonomi dan Penegakan Hukum) | Parameter | Indonesia | Malaysia | Thailand | Filipina | Vietnam | Cina | Pertumbuhan ekonomi 1) | 4,8% | 6,3% | 3,8% | 3,8% | 6,4% | 7,7% | Pertumbuhan ekspor 1) | 16,5% | 13,2% | 8,0% | 8,0% | 13,1% | 10,0% | Upah minimum bulanan | 0,97-1,80 | 2,00-12,00 | 4,40-5,40 | 5,15 | 0,81 | 0,60-2,02 | Harga BBM 2) | 0,058 | 0,185 | 0,350 | 0,291 | 0,021 | n.a | Indeks daya saing 3) | 12,21 | 42,12 | 29,31 | 22,89 | n.a | 34,32 | Indeks korupsi 3) | 1,70 | 5,10 | 3,20 | 3,60 | 2,60 | 3,10 | Indeks sistem hukum 4) | 9,38 | 7,43 | 6,67 | 6,50 | 9,00 | 9,33 | Indeks corporate governance 4) | 8,29 | 6,20 | 6,67 | 5,00 | 8,89 | 8,22 | Keterangan: 1) Perkiraan 2001 2) Harga minyak diesel 3) Makin kecil angkanya makin buruk 4) Makin besar angkanya makin transparan Dari berbagai sumber |
