• Home
  • 29 Januari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Januari 2001

    Yang Nakal karena Otak?

    IBU mana yang tak ingin anaknya tumbuh sehat dan cepat besar? Agaknya, hasrat manusiawi itulah yang membuat seorang ibu memberikan obat hormonal kepada anak. Memang, si anak lantas jadi remaja yang cepat tinggi atau lebih besar fisiknya ketimbang anak-anak sebaya. Tapi, selain hasil yang kasat mata itu, ada pula ongkos mahal yang mesti ditanggung. Ternyata, pemberian obat yang merangsang pertumbuhan hormon di otak justru mengganggu perkembangan otak si anak yang berangkat remaja. Akibatnya?ini yang mungkin kurang disadari si ibu?perilaku sosial sang remaja menyimpang. Dia sering cepat gelisah, pemarah, berang, bahkan melanggar norma yang berlaku. Dampak negatif yang amat serius itu tergambarkan dari hasil penelitian Fulton Crews, Kepala Pusat Penelitian Saraf Universitas Carolina Utara, Amerika Serikat. Menurut penelitian Fulton, awal tahun ini, penggunaan obat-obatan tadi menyebabkan gangguan pada urat saraf di otak. Rupanya, perubahan hormon kemudian mengakibatan kontradiksi urat saraf. Buntutnya, rangkaian sistem jaringan saraf di otak sebelah kiri mandek. Aktivitas otak sebelah kiri itu lalu ditanggapi oleh otak dalam yang berfungsi mengatur perilaku sosial anak-anak sampai menjelang dewasa. Melalui penelitian itu, Fulton menandaskan bahwa sinyal-sinyal impuls yang dikirim ke saraf otak sebelah kiri terhambat di otak dalam, sehingga terakomodasi dalam bentuk perilaku sosial si anak. Ternyata, tak lama setelah hasil penelitian Fulton muncul, Linn Ponton, psikolog di Universitas California, mendukungnya. Lewat salah satu edisi jurnal ilmiahnya, Ponton menambahkan bahwa masa remaja merupakan masa kritis bagi perkembangan otak. Sebab, pada masa itulah otak anak yang sedang berkembang ke remaja sedang giat-giatnya merekam dan meniru pelbagai perilaku sosial di sekitarnya, yang kemudian diakses oleh sinyal-sinyal saraf ke otak dalam. Menurut Ponton, perkembangan itu berlanjut hingga anak menjadi dewasa atau berusia usia 21 tahun?saat pertumbuhan otak diperkirakan maksimal. Ponton juga mengingatkan, pemakaian obat jenis lainnya pun bisa mengganggu kinerja otak. Apalagi, kata Ponton, bila remaja yang sedang tumbuh itu sampai mengonsumsi alkohol atau rokok dalam dosis berlebihan. Tak cuma Ponton yang mendukung hasil penelitian Fulton. Craig Ferris dari Fakultas Kedokteran Universitas Massachusetts juga membenarkannya. Rupanya, Ferris menemukan kecocokan hasil penelitian itu dengan hasil penelitiannya terhadap tupai. Dari riset Ferris diperoleh hasil, ternyata ada perbedaan sifat antara tupai remaja dan dewasa. Tupai dewasa dengan kemampuan otak yang stabil memperlihatkan sikap jauh lebih tenang. Sedangkan tupai remaja yang disuntik dengan sedikit hormon tampak begitu agresif. "Hal itu membuktikan bahwa semakin stabil pertumbuhan otak, akan semakin mampu pula ia mengendalikan perilaku sosialnya," tutur Craig. Dengan membesarnya dukungan terhadap hasil penelitian Fulton, seakan-akan semakin kuat teori yang menganggap bahwa perilaku sosial seseorang yang menyimpang ataupun remaja yang amat nakal tak lain disebabkan kondisi otaknya yang terganggu. Tapi, sesederhana itukah korelasinya? Dengan kalimat lain, kenakalan remaja disebabkan hanya oleh faktor tunggal berupa kelainan pada otak yang bermula dari perlakuan hormon? Seto Mulyadi, psikolog anak dan remaja di Yayasan Nakula Sadewa, mengaku tak setuju dengan kesimpulan penelitian Fulton. Bagi Seto, ia masih berpegang pada pendapat bahwa kenakalan remaja lebih disebabkan oleh hasil interaksi sosialnya. "Psikososial yang ada dan dialami seorang anak atau remaja lebih berpotensi menyebabkan munculnya penyimpangan perilaku sosial. Teori perubahan hormon dan perubahan otak tidak signifikan dengan masalah kenakalan remaja," kata Seto. Itu berarti Seto lebih mempercayai lingkungan sosial serta interaksi antara anak dan dinamika masyarakat di sekitarnya yang dominan mempengaruhi perilaku anak. Pendapat senada juga diutarakan Susanto Wibisono dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Memang, Susanto mengakui bahwa kerja otak sebagai pengontrol sikap dan perilaku seorang anak serta remaja punya peranan penting. Tapi, "Otak bukan satu-satunya faktor penentu munculnya kenakalan remaja. Penyebabnya sangat kompleks, tak bisa hanya dari sisi spesifik soal kerja saraf otak. Kondisi sosial dan faktor lain juga menyebabkan kenakalan remaja," kata dokter yang juga memahami soal saraf itu. Hadriani Pudjiarti

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ironi di Tengah Gemerlap Imlek

Album

Meninggal Dunia

Buku

Teror Negara, Kematian bagi Jiwa

Catatan Pinggir

Rivai Apin

TEMPO|interaktif

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif