• Home
  • 29 Januari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Januari 2001

    Bencana Merkuri Mengintai

    ADA kecelakaan yang merepotkan PT Newmont Nusatenggara, perusahaan multinasional bidang pertambangan tembaga dan emas di Sumbawa. Pekan lalu, saluran pipa pembuangan limbahnya bocor sebesar dua sentimeter. Lubang kecil itu menyemburkan bahan berupa gerusan batuan dan air laut. Mengantisipasi kecemasan masyarakat, pihak Newmont buru-buru mengungkapkannya ke pers dan masyarakat setempat, Selasa, sehari setelah kebocoran. ''Kebocoran yang kini sudah diatasi itu menyemburkan suatu campuran bahan yang tidak beracun," kata T. Iradati Fuad, Pejabat Humas Newmont, menenangkan. Kecemasan masyarakat terhadap bahaya semburan limbah itu wajar adanya. Soalnya, perusahaan tambang emas memang biasanya menghasilkan limbah beracun, terutama merkuri (Hg). Juga, ada presedennya. Contohnya adalah PT Newmont Minahasa Raya di Sulawesi Utara, yang beroperasi sejak 1996. Menurut Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), sebuah LSM di Jakarta yang bergerak di bidang lingkungan, Newmont Minahasa setiap hari membuang limbah ke Teluk Buyat sebanyak 2.000 ton. Pembuangan limbah yang dilakukan sejak 1997 itu melalui pipa sepanjang 900 meter dari tepi pantai. Limbah itu diduga masih mengandung berbagai jenis logam berbahaya, antara lain merkuri. Tak mengherankan jika ada tuduhan bahwa Newmont Minahasa mencemari lingkungan. Ikan-ikan dilaporkan menggelepar mati, juga timbul gangguan kesehatan yang dialami masyarakat sekitar Teluk Buyat. Namun, laporan paling gres datang dari Walhi, yang melakukan uji kesehatan terhadap 20 orang warga Kecamatan Buyat dan Kecamatan Bolaang-mongondow, Sulawesi Utara. Sampel darah mereka dianalisis di laboratorium Santa Monica, Amerika Serikat. Tes yang tuntas pada Oktober 2000 itu, menurut Raja Siregar dari Walhi, intinya menyatakan bahwa sebanyak 13 responden memiliki kadar merkuri berlebih. Tes juga menunjukkan bahwa 19 responden memiliki kadar Arsen (As) berlebih. Namun, tudingan Walhi itu dibantah. Menurut Tri Harjono, Manajer Hubungan Masyarakat dan Pemerintahan Newmont Minahasa, beberapa penelitian yang dilakukan Newmont di lokasi tambang belum menyimpulkan terjadinya pencemaran. Selain Newmont Minahasa, laporan pencemaran merkuri juga terdengar dari Bogor, Surabaya, Manado, Samarinda, Jambi, dan lain-lain. Pencemaran itu terjadi terutama di sekitar kawasan pertambangan emas. Gubernur Kalimantan Timur, H. Suwarna A.F., diberitakan pernah menyesalkan terjadinya pencemaran sianida (CN) dan merkuri (Hg) di Sungai Kelian, yang mengalir di Kabupaten Kutai. Pencemaran akibat penambangan emas PT Kelian Equatorial Mining (KEM) itu dinilai membahayakan kesehatan ratusan warga Dusun Gadonggo, Kecamatan Long-iram, Kabupaten Kutai. Di Surabaya, pencemaran bahan beracun di laut menjadi bahan studi Anwar Daud S.K.M., mahasiswa S2 pascasarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Surabaya. Sumber pencemaran yang dituding adalah 26 perusahaan industri di kota besar kedua di Indonesia itu. Untuk riset itu, Anwar memakai sampel 44 orang kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya, yang mengonsumsi ikan dan kerang dari laut. Menurut catatan wartawan TEMPO di Surabaya, Jalil Hakim, hasilnya menunjukkan bahwa para responden mengeluhkan berbagai macam gangguan kesehatan, antara lain sakit kepala disertai demam, pusing, gemetar bibir, rasa nyeri di bagian punggung, pinggang, dan tungkai, penurunan nafsu makan, dan gangguan keseimbangan. Laporan kelam juga terdengar dari Sumatra Barat. Ir. Darman Siri, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Sumatra Barat, mengungkapkan temuan di beberapa lokasi tambang emas rakyat di Sumatra Barat pada Oktober 2000. Hasil survei itu menunjukkan, buruh tambang emas di Bukitmalintang, Desa Bonjol, Pasaman, tercemar merkuri. Kadar merkuri yang terkandung dalam rambut mereka sudah mencapai 11,7 mg hingga 89 mg per kilogram?jumlah yang mendekati koridor pencemaran merkuri pada kasus Teluk Minamata di Jepang, yaitu 12,7 mg sampai 705 mg per kg. Akibat pencemaran itu, sejumlah penambang emas menderita tangan gemetaran dan gejala penuaan yang lebih cepat. Ada salah urus dalam soal pembuangan limbah penambangan emas ini. Misalnya, pada kasus Newmont Minahasa. "Seharusnya pemerintah segera melarang pembuangan limbah ke laut," kata Raja. Kekhawatiran itu beralasan karena hampir semua penambangan emas di Indonesia membuang limbahnya ke laut. "Jika ini dibiarkan, tentu Indonesia akan menjadi neraka keracunan merkuri terbesar di dunia," kata Raja. Bila pencegahan tidak dilakukan, bencana Teluk Minamata di Jepang, yang menewaskan puluhan orang, bisa saja kembali terulang di Indonesia. Kelik M.N., Agus H., Febrianti (Padang), Verianto M. (Manado)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ironi di Tengah Gemerlap Imlek

Album

Meninggal Dunia

Buku

Teror Negara, Kematian bagi Jiwa

Catatan Pinggir

Rivai Apin

TEMPO|interaktif

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif