• Home
  • 29 Januari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Januari 2001

    Babad Sebuah Kitab

    G30S adalah kisah dalam lorong gelap dan berbahaya. Daripada menanggung risiko, lebih baik niat untuk membuatnya benderang itu diurungkan saja. Itulah yang ada dalam benak para pembesar Gramedia Pustaka Utama. Secara tiba-tiba, penerbit terbesar di negeri ini itu membatalkan penerbitan buku kesaksian Subandrio, Kesaksianku tentang G30S . Padahal, buku yang dicetak sebanyak 10 ribu buah itu siap diterbitkan. Tentu saja ini mengecewakan. Subandrio merupakan tokoh penting dalam peristiwa G30S yang selama ini selalu memilih bungkam, dan keterangannya tentang peristiwa itu selalu ditunggu-tunggu. Apalagi, saat peristiwa itu meletus, dia menduduki tiga jabatan penting, yakni Wakil Perdana Menteri I, Menteri Luar Negeri, dan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI). Dari dirinya, diharapkan kabut tentang misteri ini sedikit bisa tersingkap. Dan benar saja, isi naskahnya?sudah beredar di mana-mana dalam bentuk fotokopi?memang mengejutkan. Dalam bukunya itu, Subandrio (86 tahun) mengungkap tentang pengakuan Untung, bekas Komandan Cakrabirawa, dan tentang peran Soeharto dalam peristiwa pemberontakan itu. Keterangan Untung disampaikan di dalam bui menjelang pelaksanaan eksekusi hukuman matinya. Dalam perbincangan antara Untung dan Subandrio itu, Untung menyatakan dirinya tidak bekerja sendiri, tapi dibantu Mayjen Soeharto, yang saat itu menjadi Panglima Kostrad. "Jika menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada saya bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianatinya," kata Subandrio, seperti tertulis dalam buku itu. Itukah yang menyebabkan buku itu urung diterbitkan? Inilah yang belum jelas. Pihak Gramedia Pustaka Utama selalu menolak memberikan keterangan soal ini. Kepada wartawan TEMPO yang mengonfirmasi soal ini, mereka menyatakan persoalan buku itu dianggap sudah selesai. Menurut sumber TEMPO, batalnya penerbitan buku itu lebih disebabkan oleh ketakutan penerbit Gramedia. Ini merupakan keputusan yang antiklimaks. Semula, pihak penerbit Gramedia menyambut antusias penerbitan buku itu dan merencanakan peluncurannya di sebuah hotel mewah sebelum tanggal 30 September. Dan itu disetujui oleh big boss Gramedia, Jakob Oetama, tanpa lebih dulu mengetahui isi buku itu. Rencana pun disusun. Namun, pemilik hotel yang bakal dijadikan tempat pesta itu menyatakan ketakutan bila terjadi sesuatu dalam acara itu. Apalagi saat itu Jakarta memang sedang demam diguncang ancaman bom. Sejak itulah pihak Gramedia mulai ketar-ketir terhadap dampak yang akan muncul setelah buku itu terbit. Karena bimbang, naskah itu diserahkan kepada Jakob Oetama, sang bos besar. Hasilnya di luar dugaan. Setelah berembuk dengan tim di dalam penerbit, Gramedia memutuskan untuk tidak menerbitkannya dengan alasan buku ini langsung menusuk jantung Soeharto. Keesokan harinya, menurut sumber TEMPO itu, semua buku itu dimusnahkan. Menurut Sri Kusdiantinah, istri Subandrio, pihak Gramedia mengirim wakilnya untuk menemui Subandrio. "Mereka bilang ke Bapak bahwa buku tersebut tidak jadi diterbitkan. Bapak sangat kecewa," demikian tutur Sri. Selain itu, Subandrio marah besar kepada penyunting buku yang juga menjadi penghubung dengan pihak Gramedia. Tapi, tak lama berselang, dia berhasil mendapatkan penerbitnya lain yang mau menerbitkan buku itu. Rencananya, buku itu akan diterbitkan dengan jumlah yang sama, yakni 10 ribu eksemplar. Namun, apa yang terjadi kemudian sami mawon. Buku itu pun urung terbit. Cuma, kali ini Subandrio sendiri yang membatalkan penerbitan buku itu. Rupanya dia merasa ketakutan dengan dampak yang akan timbul jika bukunya itu diterbitkan. Kini, menurut Sri Kusdiantinah, buku tersebut tengah diedit ulang oleh sebuah tim yang dipimpin seorang menteri pada masa Bung Karno. Tim tersebut akan mengikutsertakan sejarawan. Tapi, benarkah semata karena ancaman dari pendukung Soeharto yang menyebabkan buku itu tak jadi diterbitkan? Seorang sumber TEMPO yang lain punya pendapat yang berbeda. Menurut dia, persoalannya lebih pada soal autentisitas cerita yang disampaikan Subandrio. Menurut dia, tak satu pun yang bisa menjamin kebenaran cerita itu, termasuk Subandrio sendiri, karena dia dianggap tidak memiliki bukti-bukti kesaksiannya. "Benar atau salah kita tak bisa memutuskan," kata sang sumber. Alasan itu cukup masuk akal. Sebagai buku yang mengungkap sejarah, ia memiliki beberapa data yang perlu diperbaiki. Kesalahan itu umumnya berupa penulisan nama, tempat, dan waktu. Misalnya, soal peran Gatot Soebroto. Padahal, jenderal itu sudah meninggal tiga tahun sebelum peristiwa itu meletus. Menurut editor buku Subandrio?yang tak mau disebut namanya?pihak Gramedia sebetulnya sudah membuat delapan buah catatan kesalahan yang harus diperbaiki. Asvi Warman Adam, ahli sejarah dari LIPI, menunjuk kesalahan itu lebih disebabkan oleh kondisi fisik dan memori Subandrio, yang sudah tidak prima. Ditambah lagi, penyuntingnya tidak membandingkan dengan sumber yang lain. Asvi juga menyangsikan beberapa keterangan Subandrio, seperti penuturan tentang saat Subandrio kehilangan sepatu dan naik sepeda di antara para demonstran. "Masa, para demonstran tidak mengenali Subandrio," tuturnya. Sedangkan soal keterlibatan Soeharto dalam peristiwa ini, menurut Asvi, itu merupakan gugatan terhadap apa yang telah ditulis tentang Soeharto, yang selama ini selalu ditampilkan sebagai penyelamat negeri ini. Meski begitu, hal itu perlu dikonfirmasikan pada Soeharto. Sebetulnya biografi Soeharto yang sudah terkenal itu telah berkali-kali menulis versi Soeharto tentang G30S. Kecuali Soeharto berniat merevisi ucapan dan tindakannya pada tahun 1965 itu, pembaca awam diharapkan bersikap kritis untuk memilah kesaksian para pelaku sejarah yang saling kontradiktif itu. Irfan Budiman, Purwani Diyah Prabandari, Dwi Arjanto, Setiyardi

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ironi di Tengah Gemerlap Imlek

Album

Meninggal Dunia

Buku

Teror Negara, Kematian bagi Jiwa

Catatan Pinggir

Rivai Apin

TEMPO|interaktif

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif