• Home
  • 29 Januari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Januari 2001
    Israel

    Di Balik Misi Rahasia Tuan Horesh

    Secret Mission to Indonesia?. Begitu judul yang dibuat Buzzy Gordon, wartawan harian The Jerusalem Post. Dalam edisi 25 Januari lalu, koran terbesar di Israel itu mengungkap sebuah peristiwa penting. Reuven Horesh, Direktur Jenderal Kementerian Perdagangan dan Industri Israel, awal bulan Januari lalu bertemu dengan Presiden Abdurrahman Wahid untuk membahas hubungan bisnis kedua negara. Pertemuan yang berlangsung di Jakarta itu dilakukan secara tertutup dan bersifat sangat rahasia. Kepada TEMPO, seorang pejabat pemerintah Israel mengatakan bahwa pertemuan Abdurrahman-Horesh, yang berlangsung sekitar 10 Januari itu, mencapai kesepakatan penting: "Pemerintah Indonesia berjanji akan mencabut larangan perdagangan langsung," kata sumber itu. Dalam pertemuan itu, Presiden Abdurrahman hanya ditemani oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut B. Panjaitan. Sedangkan Horesh hanya ditemani Zohar Perry, Kepala Bagian Perdagangan Kementerian Luar Negeri Israel. Namun, saat dikonfirmasi TEMPO, Juru Bicara Kepresidenan Wimar Witoelar menegaskan bahwa berita yang ditulis The Jerusalem Post tidak benar. "Presiden Abdurrahman tak pernah bertemu dengan Reuven Horesh," kata Wimar berulang kali. Anehnya, karena kurang koordinasi, Menteri Luhut Panjaitan justru berpendapat lain. Menurut bekas duta besar RI untuk Singapura ini, dia diminta Presiden Abdurrahman agar ikut dalam pertemuan rahasia itu. Ketika itu, Horesh menyatakan niat Israel untuk membuka kantor dagang resmi di Indonesia. Menurut Horesh, doktor ekonomi lulusan Universitas Columbia, Amerika Serikat, kantor itu akan mengurus soal perdagangan langsung kedua negara. Tapi, kata Luhut Panjaitan, Presiden Abdurrahman tak menyanggupi usul pembukaan kantor perwakilan. Soalnya, gerakan anti-Israel di Indonesia masih sangat kuat. Apalagi, hubungan Israel-Palestina masih runyam. Bagaimana soal bisnis? Menteri Luhut Panjaitan punya pendapat cukup pragmatis. "Sesuai dengan aturan WTO, pemerintah tak bisa melarang perdagangan bilateral," katanya. Apalagi, menurut Luhut, selama ini tidak ada larangan tertulis untuk melakukan perdagangan langsung dengan Israel. Seperti menyiram api dengan bensin. Langkah kontroversial Presiden Abdurrahman Wahid segera menuai kecaman keras. Sekitar 500 demonstran dari Gerakan Anti-Zionisme dan Amerika (GAZA), Jumat pekan lalu, melakukan aksi protes di depan Istana Merdeka. Para demonstran menuding Abdurrahman telah menjadi antek Zionisme, suatu gerakan politik Israel yang menyebabkan rakyat Palestina terusir dari tanahnya. Tudingan GAZA bukan tanpa alasan yang masuk akal. Abdurrahman Wahid dikenal sebagai salah satu pendiri Yayasan Shimon Peres, sebuah lembaga yang didirikan pada 1997 oleh sang mantan perdana menteri Israel. Reaksi Senayan pun tak kalah keras. Para penentang Presiden Abdurrahman seperti mendapat amunisi baru. "Presiden telah melanggar kesepakatan soal hubungan dengan Israel," kata Faisal Baasir, Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan. Di luar ingar-bingar politik yang mulai bermunculan, hubungan dagang antara Indonesia dan Israel sebenarnya telah berlangsung lama. Dari data resmi Kedubes Isarel di Singapura, pada periode 1999 ekspor Indonesia mencapai US$ 11 juta. Sedangkan impor dari Israel hanya sekitar US$ 6 juta. Umumnya, Indonesia mengekspor produk minyak dan bahan tambang. Pada sisi lain, Indonesia banyak mengimpor produk kimia dan peralatan listrik. Dari surplus yang dapat dibukukan, bisa disimpulkan bahwa hubungan dagang bilateral ini cenderung menguntungkan pihak Indonesia, setidaknya dalam jangka pendek. Sayangnya, hubungan dagang itu lewat perantaraan Singapura. Tapi ekonomi tak pernah bisa dipisahkan dari isu politik serta hak asasi manusia. Meski hanya sebuah misi dagang, Israel memperoleh legitimasi politik besar dari negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, sekaligus memperkuat posisi tawarnya di hadapan Palestina. Sebaliknya, Abdurrahman Wahid sedang mempertaruhkan kursi kepresidenannya yang kian rapuh. Setiyardi, Purwani D. Prabandari, Ardi Bramantyo

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ironi di Tengah Gemerlap Imlek

Album

Meninggal Dunia

Buku

Teror Negara, Kematian bagi Jiwa

Catatan Pinggir

Rivai Apin

TEMPO|interaktif

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif