• Home
  • 29 Januari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Januari 2001

    Pelajaran Budi Pekerti

    THOMAS Merton, penulis buku Mysticism in Nuclear Age, pernah menyatakan, ?Tidak ada satu sistem, teori, ideologi, atau apa pun namanya dapat menyelamatkan dunia dari berbagai krisis. Dunia sekarang lebih memerlukan kehadiran seorang manusia berbudi pekerti daripada manusia-manusia nalar.? Pernyataan Thomas Merton tersebut memang tidak dapat dimungkiri kebenarannya, dan karena itu dapat disimpulkan bahwa berbagai krisis yang terjadi di Tanah Air selama ini adalah akibat bobroknya budi pekerti masyarakat kita. Dan, sebaliknya, keluhuran budi pekerti masyarakat kita sendirilah yang bisa diandalkan sebagai penyelamat bangsa kita untuk keluar dari berbagai krisis yang menimpa. Maka, upaya satu-satunya yang harus ditempuh dalam mencari solusi berbagai krisis yang kita alami sekarang ini tidak lain bergantung pada tinggi-rendahnya budi pekerti kita dalam menyikapi kehidupan ini. Sayangnya, orientasi dunia pendidikan kita, yang mempunyai peranan besar dalam pembinaan watak anak didik (bangsa), selama ini tidak begitu mendukung. Hal itu bisa terjadi karena orientasi pendidikan kita selama ini cenderung berbau ?materialistis?. Akhirnya lembaga pendidikan kita tidak ubahnya sebuah pabrik pembuat manusia-manusia robot yang tidak bermoral, yang tidak memiliki kepedulian terhadap nasib sesama dan lingkungan sekitar. Jika kelak ia jadi ahli hukum, ia akan dengan cepat mengetahui pasal mana yang dapat dipakai untuk memenangi perkara tetapi ia buta dengan isyarat keadilan, sehingga klien berubah menjadi sapi perahan. Jika kelak ia menjadi pejabat, ia akan melihat kumpulan rakyat kecil sebagai angka yang dapat dikalikan dengan satuan maya dan menghasilkan proyek miliaran rupiah. Tetapi ia tidak mampu memandang butir-butir air mata kepedihan di balik mata-mata yang cekung dan ungkapan kemiskinan di sela-sela tulang rusuk yang menua. Jika ia menjadi dokter, ia tidak akan mampu melihat sentuhan kemanusiaan di tubuh pasien, sehingga ia memandang pasien hanya sebagai sebongkah tubuh yang dapat dikalikan dengan ribuan rupiah biaya periksa. Mengingat orientasi dunia pendidikan kita selama ini terlalu materialistis, wajar jika Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin punya rencana akan mewajibkan pelajaran budi pekerti bagi siswa SD, SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi. Dan perlu disadari, memang, sejarah telah mencatat bahwa kemajuan (kecanggihan) ilmu pengetahuan dan kebudayaan sering sejalan dengan kemunduran (kebobrokan) budi pekerti. Bahkan, Jean Jacques Rousseau pernah mengingatkan: ?Semakin banyak orang pintar, semakin sulit dicari orang jujur.? Menimbang betapa telah tingginya angka kenakalan remaja (tindakan kriminalitas) yang dilakukan anak didik akhir-akhir ini, yakni seperti tawuran pelajar, narkoba, aborsi dan perbuatan negatif lainnya, seyogianyalah kita mendukung rencana menteri tersebut. Terakhir?tetapi bukan berarti terkecil artinya?sebagus apa pun kurikulum pelajaran budi pekerti tersebut bagi pembentukan watak anak didik, jika lingkungan sekitar tidak mendukung, seperti bobroknya moral orang tua, guru, pejabat, maraknya peredaran narkoba dan CD porno, tentu akhirnya kurikulum pelajaran budi pekerti tersebut tidak akan menemui sasarannya. ERWIN SIREGAR, S.H. Divisi Litbang, Serikat Pengacara Indonesia (SPI) Jalan Brigjen Katamso 41, Medan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Ironi di Tengah Gemerlap Imlek

Album

Meninggal Dunia

Buku

Teror Negara, Kematian bagi Jiwa

Catatan Pinggir

Rivai Apin

TEMPO|interaktif

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif