• Home
  • 12 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 12 Februari 2001

    Gula Impor Bila Si Manis Tak Kunjung Tiba

    STOK gula menipis dan sebentar lagi kosumen barangkali akan kehilangan si manis. Menurut neraca gula tahun 2000 yang dikeluarkan Sekretariat Dewan Gula Nasional 2000, diperkirakan stok gula awal tahun 2001 hanya 740.923 ton, jauh lebih sedikit dari stok awal tahun lalu sebanyak 1.064.021 ton. Jika setiap bulan konsumsi gula rata-rata 200 ribu-300 ribu ton dan tidak ada pasokan tambahan, stok itu hanya cukup untuk 2-3 bulan ke depan. Nah, pasokan tambahan itulah yang sulit didapat. Maklum, produsen gula lokal baru memasuki masa giling April-Mei mendatang. Sedangkan importir gula sudah mulai menarik diri. Mereka tidak mengimpor karena terhadang bea masuk 20-25 persen. Selain itu, harga gula di pasaran internasional cenderung naik. "Kalau mengimpor, kita tak bisa bersaing dengan gula lokal," itulah kesimpulan Wangsa dari bagian penjualan CV Kurnadi, Jakarta. Dari pemantauan di lapangan, terungkap bahwa CV Kurnadi bukan satu-satunya importir gula yang menghentikan kegiatannya. Importir gula yang lain juga mengalihkan usaha mereka. Ada yang tertarik memasarkan gula dari Lampung karena lebih menjanjikan keuntungan. Data dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan memperkuat aksi tarik diri para importir itu. Sampai September 2000, impor gula hanya 1,2 juta ton, sedangkan total impor gula tahun 1999?ketika bea masuk masih nol persen?mencapai 2,2 juta ton. Data yang lain menunjukkan, sebagian besar gula impor itu digunakan untuk bahan baku industri?jadi, bukan untuk keperluan rumah tangga. Seorang pedagang gula membenarkan keengganan importir untuk terjun ke bisnis gula. Keterangan ini klop dengan sepinya pengapalan gula ke Indonesia dalam 2-3 bulan terakhir?seperti terlihat di London Futures Exchange. Ini berarti gula impor yang ada di pasar merupakan stok lama. Penurunan impor gula ini bisa bermakna ganda. Bagi produsen gula lokal, terbukalah kesempatan untuk memperkuat cengkeramannya di pasar. Bahkan, kini harga gula lokal bersaing ketat dengan gula impor. Pekan lalu, di pusat perkulakan Makro, Jakarta, harga gula lokal lebih murah seratus rupiah dari gula impor. Tentu saja, kalau pasok tidak mencukupi kebutuhan nasional, harga gula otomatis akan terdongkrak. Jika harga sampai tidak terkendali?antara lain karena banyak yang menangguk di air keruh?konsumen akan dirugikan. Dan seperti biasa, akan dimunculkan "kambing hitam" yang harus menelan caci-maki dari kanan-kiri. Gula memang manis, tapi tanpa mekanisme pasar yang canggih, rasa gula bisa jadi kecut. Karena itu, konsumen perlu berjaga-jaga. Tahun ini, konsumsi gula nasional diperkirakan mencapai 3 juta ton. Menurut Ketua Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Faruk Bakrie, produsen gula lokal diperkirakan bisa memasok 1,7 juta ton?jadi, kekurangannya sebanyak 1,3 juta ton harus diimpor. Nah, gula bisa hilang dari pasar jika harga gula impor, yang kini naik, kian tak terjangkau karena adanya bea masuk 20-25 persen. AGI sendiri tidak menolak gula impor, asalkan pemasukannya memenuhi ketentuan yang ada. Saat musim giling, misalnya, gula impor tidak usah didatangkan. Tapi, di luar musim giling dan kalau ada kebutuhan yang besar, misalnya menghadapi hari raya, silakan mengimpor si manis. "Jadi, jangan semrawut. Asal ada izin dan ada uang, tentu bisa mendatangkan gula impor," Faruk memperingatkan. Menurut pengamat masalah gula, Bustanul Arifin, pengaturan itu penting bila dikaitkan dengan manajemen stok. Ini perlu karena gula adalah komoditi strategis. Sebab itu, pergerakan distribusi gula mesti dipantau, mengingat suplai yang sangat terbatas saat ini. "Saya kira, kok, tidak bakal terjadi kelangkaan, asal manajemen stoknya matang. Apalagi April-Mei nanti kan sudah mulai panen tebu," ujar Direktur Indef itu, optimistis. Hal yang sama diutarakan oleh Agus Pakpahan, Dirjen Perkebunan Departemen Kehutanan dan Perkebunan, yang juga sekretaris Dewan Gula Nasional. Bustanul mengusulkan agar pemerintah tidak kaku dengan ketentuan bea masuk 20-25 persen. Ada baiknya model arisan lewat automatic tax adjustment dicoba diterapkan di sini. Dengan sistem ini, pemerintah bisa menaikkan atau menurunkan bea masuk secara fleksibel. Sementara itu, keuntungannya selalu berputar: kadang di importir, kadang di produsen gula lokal. Dalam kalkulasi Bustanul, pemerintah bisa mengenakan bea masuk sampai 40-45 persen di saat harga gula sekitar 12-13 sen dolar AS per kilogram. Tapi, jika harga gula dunia tinggi, katakanlah mendekati 30 sen dolar AS per kilogram, bea masuk 5 persen sudah maksimal. Saat ini, harga gula dunia sekitar 25-27 sen dolar AS per kilogram. Bertolak dari sistem tarif yang luwes, pemerintah bisa menurunkan bea masuk gula. Berapa besarnya, itu bisa dihitung kembali. Yang perlu diingat, tarif bea masuk jangan sampai merugikan produsen gula lokal. Di saat yang sama, jangan pula menyulitkan konsumen. Saat ditanyakan pendapatnya tentang hal ini, Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo belum sedia berkomentar. "Wah, saya mesti melihat dulu aturannya," ujarnya. Dwi Wiyana

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Empasan Gelombang Zaman Baru

Buku

… Dan Perang pun Belum Usai

Para Penyusun Pleidoi

Gerakan Mahasiswa yang Antiklimaks

Catatan Pinggir

Pelan

Seni Rupa

Dicari: Politisi Suci

TEMPO|interaktif

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif