• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Buah Cinta Sang Budayawan

    Ensiklopedi Sunda : Alam, Manusia, dan Budaya Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi Penyusun : Ajip Rosidi dkk. Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, bekerja sama dengan The Toyota Foundation dan Yayasan Kebudayaan Rancage, 2000 Tebal halaman : 714 halaman. Dari 465 suku bangsa di Indonesia (M. Junus Melalatoa, 1995), ternyata baru etnis Sunda yang sudah memiliki ensiklopedi lengkap. Warga Sunda memang suku terbesar kedua di Indonesia, dengan jumlah sekitar 40 juta jiwa pada tahun 2000. Kehadiran ensiklopedi ini adalah hasil kerja keras tim redaksi dan penggagas utamanya: Ajip Rosidi, yang mengerahkan 40 orang, termasuk para penulis Belanda, Jepang, dan India. Tanpa memeras otak dan keringat disertai kecintaan kepada budaya Sunda, niscaya ensiklopedi ini tak kan pernah terbit. Waktu pengerjaan yang semula diperkirakan lima tahun ternyata molor sampai hampir sepuluh tahun. Tim redaksi terbentur kenyataan bahwa ahli suatu bidang tidak banyak terlatih menulis, apalagi menulis ensiklopedi, yang memerlukan persiapan khusus. Akibatnya, hampir semua naskah yang masuk harus ditulis ulang atau disunting berat. Persoalan lain adalah beberapa orang yang semula bersedia duduk sebagai anggota redaksi mengundurkan diri dengan berbagai sebab dan alasan. Dalam perjalanan penyusunan selama hampir satu dasawarsa itu, beberapa orang yang memberi bantuan tidak sempat melihat hasilnya. Mereka antara lain ialah H.K.S. Kostaman, Haryoto Kunto, dan Sayudi, yang telah lebih dulu meninggal dunia. Toh, banting tulang mereka berbuah manis. Ensiklopedi yang memuat sekitar 3.500 lema ini dipuji pakar senior sastra dan budaya Indonesia dari Leiden, Prof. Dr. A. Teeuw. "Saya sangat terkesan oleh kualitas ilmiah ensiklopedi ini, berdasarkan pengetahuan luas dan mendalam mengenai hal-hal yang dibahas. Ditulis informatif dan jelas, bahasa Indonesia yang dipergunakannya enak dibaca," begitu komentarnya. Acungan jempol datang pula dari Ketua LIPI, Prof. Dr. Taufik Abdulah, yang menyatakan, "Sungguh suatu pekerjaan raksasa. Merupakan sumbangan besar bagi dunia ilmu." Tak dapat dimungkiri, tulisan mendalam, jernih, dan enak dibaca menjadi salah satu kelebihannya, terutama bila dibandingkan dengan ensiklopedi lain, semisal Ensiklopedi Nasional Indonesia (PT Cipta Adi Pustaka, 1988). Tema yang dikemukakan memang sangat luas. Diawali dengan lema Aam Amilia, seorang pengarang merangkap wartawan, diakhiri lema Zainal Asikin Kusumah Atmadja, pensiunan hakim agung. Aneka ragam tradisi rakyat, religi, pantun, kesusastraan, peralatan sehari-hari, makanan, pencak silat, permainan anak-anak, sejarah, biografi singkat tokoh, majalah, koran, dan pelbagai manifestasi kebudayaan Sunda tercakup di dalamnya. Banyak hal yang belum pernah kita dengar sebelumnya, misalnya Agrabintana, sebuah kerajaan yang pernah berdiri di Tanjungkidul—sekarang disebut Ujung-genteng, Surade, Sukabumi Selatan, suatu kerajaan yang jarang didengar orang. Ensiklopedi ini juga memaparkan aneka religi di tanah Sunda, seperti agama Jawa-Sunda yang diajarkan Madrais dari Cigugur, Kuningan, dan agama Sunda Wiwitan yang dianut komunitas Badui di Kanekes, Banten. Yang lebih unik lagi, pelbagai permainan anak-anak tradisional seperti pacici-cici putri, paciwi-ciwit lutung, dan oray-orayan juga dimasukkan dalam entri. Komposisi tokoh Sunda yang tercakup berjumlah 497 tokoh, 274 (55,1 persen) di antaranya adalah seniman yang terdiri dari 110 sastrawan, 85 penyanyi dan penari, 35 pelukis, 31 orang pekerja dan pemain film dan teater, 12 orang dalang, dan 1 orang pematung. Sementara itu, tokoh lain yang berjumlah lumayan banyak adalah ilmuwan/akademisi, yang berjumlah 55 orang, tokoh militer berjumlah 32 orang, ulama 35 orang, aktivis kemasyarakatan 31 orang, politisi 21 orang, dan seterusnya. Menyimak data di atas, wajarlah bila muncul kesimpulan yang agak berbau spekulasi: warga Sunda mencapai puncak prestasinya di bidang kesenian dan tercecer di bidang politik dan ekonomi. Menurut Ajip Rosidi, saat peluncuran ensiklopedi ini, memang ada perasaan rendah diri di kalangan orang Sunda karena pengalaman masa lampau mereka yang suram. Sejak kerajaan Sunda jatuh oleh pasukan gabungan Kesultanan Cirebon dan Banten pada 1579, orang Sunda Priangan "pareum obor" ("kehilangan obor"). Tanah Sunda terkoyak-koyak di antara kekuasaan Kompeni Belanda (sejak 1610) dan Mataram Islam (sejak 1625). Perlahan tapi pasti, tanah Sunda jatuh ke genggaman orang Belanda, dan dimulailah eksploitasi bear-besaran terhadap kekayaan ekonomi dan demografi Sunda. Kepedihan orang Sunda bukan hanya datang dari penjajah Belanda, melainkan juga dari penguasa lokal mereka sendiri, seperti yang terungkap dalam novel kondang Max Havelaar dan disertasi sejarah Nina Herlina Lubis berjudul Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942 (1997). Tak mengherankan bila menghadapi kondisi ini, salah satu jalan keluar yang diambil adalah menenggelamkan diri dalam kegiatan kesenian. Gejala serupa terjadi pula di keraton-keraton Mataram Islam. Setelah Kerajaan Mataram terbelah dua dalam Perjanjian Giyanti pada 1755, lantas terbelah empat—dan wilayahnya makin sempit dicaplok Belanda—seni adiluhung keraton mencapai puncaknya. Tak ada gading yang tak retak. Seperti diutarakan Ajip Rosidi, "Tentu saja kami sendiri sangat tidak puas dengan hasil yang kami sampaikan karena masih banyak segi manusia, alam, dan budaya Sunda yang belum dapat ditulis." Barangkali itu sebabnya dalam ensiklopedi ini hanya tercantum tiga olahragawan Sunda. Kampiun lainnya, seperti almarhum Popo Hartopo, juara moto-cross tingkat Asia; Tonton Suprapto, juara balap sepeda tingkat Asia pula; Ricky Subagja dan Susy Susanti, keduanya mencapai puncak prestasi olahraga dunia, antara lain di All England dan Olimpiade Atlanta; tidak muncul. Kekurangan lain adalah tidak adanya lema suku Naga, yang tinggal di Desa Negasari, Kecamatan Salawu, Tasikmalaya. Mereka diakui memiliki sistem kepercayaan dan sistem norma yang khas bila dibandingkan dengan yang berlaku pada orang Sunda umumnya (Junus Melalatoa, 1995: 615-617). Dapat ditemukan pula ketidak-konsistenan data demografi suatu kabupaten, misalnya absennya data lema Kabupaten Cirebon, Indramayu, dan Majalengka. Masalah lain yang agak mengganggu adalah ketidakjelasan konsep etnisitas dan geografi Sunda. Siapakah orang Sunda? Apakah mereka yang mewarisi budaya Sunda, atau semata-mata karena ia lahir di tanah Sunda? Ketidakjelasan konsep ini mengakibatkan munculnya lema yang agak janggal. Misalnya lema tercantumnya nama Eros Djarot, orang Jawa yang dilahirkan di Rangkasbitung, Slamet Rahardjo Djarot, yang dilahirkan di Serang, dan Teguh Karya, yang dilahirkan dengan nama Steve Lim Tjoan Hok di Pandeglang, yang kemudian digolongkan sebagai tokoh Sunda. Dalam antropologi mutakhir, kriteria suatu kelompok etnis lazimnya didasarkan pada budaya dominan dan pengakuan orang tersebut. Ketiga tokoh tadi boleh saja disebut orang Sunda, asalkan budaya Sunda tampak dominan dalam perilaku mereka sehari-hari, atau mereka mengakui dirinya sebagai urang Sunda. Betapapun, sekelumit kekurangan di atas hanyalah bak sebutir debu di sekeranjang permata. Bambang Harymurti

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif