• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

    Apa kabar, Lat? Masih bulat? Masih menciptakan komik strip untuk New Strait Times? "Masih, masih, seminggu tiga kali," jawabnya kepada Purwani D. Prabandari dari TEMPO melalui telepon internasional (tentu saja dengan aksen Melayu yang kental). Suaranya berat. Kita kemudian membayangkan tubuh gendut kartunis yang nama aslinya Mohamad Nor Khalid ini di Ipoh, Perak, Malaysia sana, terguncang-guncang karena kaget tiba-tiba mendapat telepon dari Jakarta. "Saya pernah diajak syuting di Senen oleh Christine Hakim, lalu saya karikaturkan suasana stasiun Senen," ia mengenang. Lo, lo, yang diingat kok artis, bukan almarhum majalah Humor—tempat sang Kartunis dulu menjadi kontributor—atau almarhum Arwah Setiawan (bekas ketua Lembaga Humor Indonesia), atau kartunis-kartunis Indonesia, atau teman-teman sesama kartunis seperti Priyanto S. dan G.M. Sidharta? "Ha-ha-ha...," tawanya menggelegak mengalir ke telepon Jakarta. "Eh, Encik dah tahu belum geger Shin-chan di Indonesia? Ibu-ibu pada protes karena komik itu dianggap jorok." "Wah-wah-wah, saya tidak pernah membaca Shin-chan. Tapi memang komik Jepang banyak seksnya. Kita tak perlu ikut-ikut," jawab Lat serius. Itulah Lat. Jika majalah ini ingin mencari pendapat tentang Crayon Shin-chan pada kartunis Malaysia yang bergelar Darjah Datuk Paduka Makota Perak ini—sebuah gelar tertinggi pemberian kesultanan Malaysia—tentu bukan tanpa alasan. Pertama, tokoh trilogi komiknya yang paling kesohor, Kampung Boy, Town Boy, dan Mat Som, adalah sosok anak-anak (yang tumbuh remaja). Komik Kampung Boy, yang telah diterjemahkan ke bahasa Jepang, misalnya, adalah cerita riwayat hidup Lat di pedesaan Ipoh sejak Lat lahir sampai berumur 10 tahun. Seperti juga Shin-chan, masa kanak-kanak Lat yang berambut keriting itu beserta teman-teman sebayanya digambarkan secara visual ataupun tekstual sebagai anak yang bandel minta ampun, sulit diurus. Disuruh mandi malah memilih nyemplung di kali atau kolam ikan. Masih telanjang bulat, dia akan lari sipat kuping menghindari setrap. Tingkah laku isengnya juga luar biasa. Sang Kampung Boy akan membuat jengkel para bapak haji yang sedang kenduri. Tapi, bagaimanapun, di balik kenakalan sosok ciptaan Lat itu, kita juga merasakan kearifan dan penekanan etika hormat terhadap orang tua dan lingkungan. Sementara itu, kenakalan tokoh Crayon Shin-chan ciptaan Yoshito Usui lebih sering menyebalkan pembacanya. Norak. Shin-chan memang anak yang sangat curious, sangat ingin tahu tentang perubahan organ tubuhnya. Hampir setiap panel komiknya memperlihatkan betapa "obsesifnya" ia terhadap seksualitas, sehingga pecinta komik Indonesia—seperti Masyarakat Komik Indonesia (MKI), sekumpulan komikus muda dari Jakarta, Malang, Bandung, Solo, Yogya, dan Padang—pun merasa risih. "Seharusnya Shin-chan untuk konsumsi orang-orang tua yang punya anak kecil," tutur Wahyu Sugianto, Ketua MKI, saat dia berdemonstrasi membela komik lokal di halaman gedung grup Kompas-Gramedia, pekan lalu. Alasan lain untuk berbincang dengan Lat perihal "keganasan komik Jepang" ini adalah karena Lat satu-satunya kartunis Asia Tenggara yang bisa mencuri perhatian publik kartun Amerika. Pada periode 1995-1997, Lat pulang-balik Kuala Lumpur-Los Angeles untuk menggarap 26 episode animasi Kampung Boy yang diproduksi oleh Measat (Malaysian East Asia Satellite). Amerika Serikat adalah gudang komik dunia. Buku kartun atau komik strip tiap minggu—di harian-harian terkemuka— banyak yang menampilkan tokoh anak-anak. Sebut saja Dennis the Menace, Peanuts, dan Calvin and Hobbes, hingga Bart Simpson, yang tampil pada periode generasi MTV. Karena itu, tentu saja Lat dianggap sebagai kartunis Melayu yang berprestasi karena berhasil menembus "gudang komik dunia" itu dan menyumbangkan leluconnya di sana. "Setiap wilayah punya selera sendiri. Apa yang lucu di negara lain belum tentu lucu bagi kita. Di Hong Kong, orang yang pandai menipu dalam permainan poker dianggap lucu, tapi warga Indonesia dan Malaysia tidak (menganggapnya lucu)," demikian Lat menuturkan resepnya. Memang benar. Semua kritikus sepakat akan kekuatan utama kartun Lat, yang mampu menampilkan atmosfer kehidupan Melayu. Lat dikenal sebagai seseorang yang selalu merindukan agar dunia kanak-kanak yang indah di desa tak hilang karena hiruk-pikuk metropolitan. Gagasan utama kartunnya selalu berupa kontras kehidupan antara desa dan kota. Katakanlah soal renang dalam komik Kampung Boy (komik yang dibuatnya setelah mengalami arti kesepian di New York sendirian pada tahun 1979, dan kangen terhadap desanya), dilukiskan keriaan dan kenakalan anak-anak desa belajar renang di kali, tak kenal takut. Setiap hari mereka jungkir-balik bergelut di lumpur, sawah, hutan, bermain dengan katapel, gasing dari bambu, layang-layang, pistol dari pohon karet. Pendeknya, mereka bersentuhan dengan mainan tradisional buatan sendiri. Sementara itu, komik Town Boy menggambarkan anak-anak Kuala Lumpur yang belajar renang di sebuah kolam renang supercanggih bersama instruktur, dengan penjagaan bodyguard, satpam, ayah dan ibunya. Atau, mereka juga digambarkan terkungkung sendirian dengan mainan serba elektronik. Menurut Lat, alam kanak-kanak di desa memiliki detik-detik menakutkan, tapi juga lucu. "Waktu kecil dulu, kami bertunggang-langgang apabila melihat Tok Mudim (tukang sunat) mengendarai sepedanya," katanya mengenang. Detik-detik "menakutkan" itu dikartunkannya secara detail. Pengalamannya bekerja sebagai reporter kriminal di harian New Strait Times banyak membantunya untuk menangkap hal-hal yang dilupakan orang. Terhadap warga kampung, tokoh Kampung Boy meski usil tetap bersuasana akrab, hangat. Misalnya, bagaimana Lat melukiskan guru galak berkacamata tebal. "Itu watak guru saya di tahun keempat dan kelima di sekolah rendah. Kacamata butterfly-nya memang begitu," demikian Lat berkisah dengan asyik kepada TEMPO. "Dia garang, tapi sungguh menyayangi anak-anak muridnya. Sampai sekarang, saya masih sering bertemu karena dia dan suaminya tinggal di Ipoh," tutur Lat. Ia berprinsip, bagaimanapun anak-anak ataupun remaja harus menghormati yang lebih tua. "Usia saya kini 50 tahun. Dengan siapa pun yang berumur 51 tahun, saya mesti memanggil abang dan akan saya dengar nasihat baiknya," tuturnya. ITULAH LETAK perbedaannya dengan perangai Crayon Shin-chan. Lahirnya anak kecil super-usil itu memang tak bisa lepas dari kondisi industri komik Jepang yang liberal. "Komik di Jepang gila-gilaan. Dari yang sadis dengan darah bercecer-cecer sampai yang jorok semuanya laris," kata bapak Panji Koming, komikus Dwi Koen. Baik orang dewasa maupun anak-anak di Jepang dikenal gandrung komik. Bahkan komik seks menjadi komoditi utama industri komik Jepang. Komik untuk anak lelaki di negeri bunga sakura itu disebut shonen manga, komik untuk anak perempuan diistilahkan shojo manga. Cerita-cerita shonen manga banyak diilhami spirit samurai, yang mengeksplorasi semangat pertempuran. Di situ ditampilkan para jagoan yang memiliki etos buyuden (keberanian) yang populer sejak teater Kabuki. Serial Kungfu Boy termasuk jenis ini. "Gaya pertempuran ini sudah ditiru Hong Kong dan Taiwan," tutur Lat. Akan halnya shojo manga didominasi oleh dunia bunga dan alam mimpi angan-angan gadis cantik. Cinta, persahabatan, ketulusan, keharuman tebaran bunga menjadi karakter utama. Yang beredar di sini adalah serial Sailor Moon. Nah, menginjak tahun 1960-an, seperti dicatat Frederik L. Schodzt, penulis buku The World of Japanese Comics, para komikus mulai menyelenggarakan eksperimen, yaitu dengan memasukkan unsur seks dalam shonen manga. Kartunis kelompok Fujio Akatsuka, misalnya, memperkenalkan unsur-unsur sado-masokisme ke dalam komik humor anak-anak. Pada tahun 1968 sampai 1972, majalah Shonen Jump menerbitkan serial komik berjudul Harenchi Gakuen (sekolah tanpa malu) karya komikus Go Nagai, yang penuh erotisme blak-blakan. Komik anak-anak ini dimaksudkan untuk mengejek sistem monolitik pendidikan di Jepang. Serial ini mengisahkan sebuah sekolah yang guru dan murid laki-lakinya suka mengintip murid-murid cewek yang ganti pakaian. Pada pelajaran gimnastik (olahraga senam), para guru sengaja menyuruh murid pria ataupun wanita harus telanjang dan hanya memakai sepatu senam. Pada tahun 1974, terbitlah komik anak-anak cabul berjudul Gaki Deka (polisi bocah) karya Tatshusiko Yamagami. Meskipun menuai banyak protes, komik yang dimuat di mingguan Shonen Champion ini sangat populer di kalangan anak-anak, dan terjual jutaan kopi. Tokoh utama komik ini seorang polisi yang penampilan sehari-harinya telanjang—hanya memakai topi polisi, dasi, dan celana dalam polka dot. Kesukaan sang polisi ini adalah memelorotkan polka dot-nya, memperlihatkan bokongnya, dan mempermainkan testikelnya di hadapan orang. Jadi, bila melihat tingkah laku Shin-chan yang suka usil, secara tak terduga memelorotkan celananya, itu bukanlah hal baru dalam sejarah komik anak-anak Jepang. Komikus pencipta Shin-chan, Yoshito Usi, boleh jadi pengagum serial Gaki Deka. Secara psikologis, menurut psikolog Seto Mulyadi, usia lima hingga sepuluh tahun sesungguhnya adalah tahap kepatuhan anak pada apa-apa yang dikatakan orang tua tanpa mengerti alasannya. Sementara itu, yang dilakukan Shin-chan adalah ketidakpatuhan tanpa alasan apa pun. Energi isengnya luar biasa. Atas dasar itulah stasiun televisi RCTI sangat berhati-hati menyiarkan film kartun Shin-chan. Meski animasi Shin-chan dianggap lebih santun daripada serial komiknya yang beredar di berbagai tempat penjualan majalah, stasiun RCTI tetap melakukan sensor berlapis-lapis bagi serial animasi ini. Lazimnya untuk progam tayangan asing, sensor dilakukan dua lapis. Khusus untuk Shin-chan, RCTI melakukannya hingga tiga kali. "Selain dari LSF, kami menambah dua kali sensor. Jadi, boleh dikatakan ada tiga penyaringan yang harus dilalui," kata Stanny Sibblad, Manajer Perencanaan Progam dan Jadwal RCTI. Saat film ditayangkan, itu pun ditambah dengan pesan: "anak baik tidak boleh melakukan hal ini". Kini, di RCTI , serial kartun Crayon Shin-chan menduduki peringkat ketiga setelah serial Doraemon dan Ninja Hatori. Tapi, bukan hal yang mustahil apabila rating-nya semakin meningkat karena posisi yang dicapainya kini hanya diraih dalam waktu tak sampai enam bulan. "Itu termasuk prestasi luar biasa," tutur Stanny. Penerbit Gramedia, yang dikenal laris memasarkan Kungfu Boy dan Dragon Ball tapi urung menerbitkan Shin-chan, akhirnya merelakan sebuah penerbit tak dikenal, PT Indorestu Pacific dengan alamat hanya PO Box 4633 Jakarta, mengeruk keuntungan besar. "Kepolosannya sering kelewatan, sih" demikian alasan Retno Kristi, Wakil Pemimpin Redaksi PT Elex Media Komputindo. Ia menunjuk, ketika sekolah Shin-chan berpiknik naik bis, tiba-tiba Shin-chan menutupi mata sopirnya. Menurut Retno, akan berbahaya sekali bila kelakuan semacam itu ditiru anak-anak. Tapi, bagi Ade Armando dari Media Watch, sesungguhnya bila unsur cabul dalam komik itu dihilangkan, komik itu tak berdampak apa-apa bagi anak-anak. "Komikusnya kreatif melihat bentuk-bentuk ekstrem kenakalan anak-anak," kata kolumnis harian Republika ini. Dan ternyata, tak semua ibu khawatir Shin-chan bakal membawa pengaruh buruk bagi putra-putrinya. Henni, ibu dari Ria Putri Kusniarsih, murid kelas 4 SD di Matraman yang sangat gandrung membaca Shin-chan, menganggap Shin-chan justru lebih baik dibanding film kartun lain termasuk Doraemon. Baginya, komik Doraemon tidak mendidik. "Nobita bodoh, tidak mau susah-payah. Dia hanya mau gampang dan selalu minta tolong Doraemon," ujarnya. Sependapat dengan Ade Armando, Henni beranggapan, jika tingkah laku cabul dihilangkan, sebetulnya Shin-chan adalah komik yang bagus. Jadi, hanya satu hal pada diri Shin-chan yang jadi permasalahan, yaitu kecenderungannya untuk cabul dan obsesif terhadap tema seksual. LALU, bagaimana komik strip Amerika menampilkan sang bocah yang nakal? Bagaimana dibandingkan dengan Shin-chan? "Di AS, leluconnya lebih pintar, yang terkena adalah orang yang bodoh," demikian pendapat Lat. Ada begitu banyak komik strip di harian-harian edisi minggu Amerika yang menampilkan tokoh-tokoh bocah. Dari tahun 1950-an dan 1960-an, yang paling legendaris adalah Pogo karya Walt Kelly, Krazy Kartz karya George Herriman, dan Peanuts karya Charles M. Schulz. Peanuts, dengan sosok terkemuka Snoopy, boleh jadi adalah komik strip yang paling banyak menampilkan tokoh-tokoh bocah. Ini adalah kisah rivalitas antargang bocah-bocah semasa sekolah dasar, antara lain Charlie Brown (majikan Snoopy), Sally, Marcie, Peppermint Patty, Lucy, Rerun, Linus, dan Frankli. Yang khas pada diri semua anak itu, Schulz tidak menciptakan sosok hero. Charlie Brown, sang alter-ego Schulz, adalah bocah yang berkepribadian pemalu, canggung, kagok. Di sekolah, ia terlihat pendiam, tidak suka atletik, dan selalu saja berada di pihak yang kalah. Dialah the looser, si pecundang sejati. Charlie Brown mencintai bocah berambut merah (The Little Red-Haired Girl), tapi tak pernah terbalas. Selama lebih dari 50 tahun komik ini dimuat secara intensif di harian di AS, si kecil Charlie Brown selalu tampil sebagai pecundang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia tak pernah bertemu dengan sang gadis idaman, tetapi ia toh selalu optimistis. Tokoh bocah lainnya juga ditampilkan Schulz penuh kegagalan dan harapan. Tokoh bayi bernama Linus Van Pelt, yang selalu mengulum ibu jarinya, misalnya, selalu rindu bertemu The Great Pumpkin, labu raksasa perayaan Halloween. Tapi ia tak pernah bisa berjumpa akibat selalu terlambat datang ke karnaval. Seorang penulis Amerika dari Partai Demokrat, Meg McConahey, menganggap bahwa kekuatan serial Peanuts adalah kemampuannya memantulkan potret diri (baca: ambisi dan paradoks-paradoks) Amerika dari satu masa ke masa lain. Filsuf Umberto Eco, penulis Travel in Hyper Reality, menyebutkan bahwa kisah Brown dan anjing mungilnya menarasikan kelakuan kanak-kanak kapitalisme modern. Garry Trudeau, kartunis komik Doonesbury, menyebut Peanuts sebagai komik strip post-modern pertama dan terakhir. Sementara itu, kartunis Mort Walker, kreator Beetle Bailey, pada sebuah tulisan dalam majalah berita Newsweek menyebut Charlie Brown sebagai sosok anak-anak yang memiliki perasaan pathos: perasaan sakit tertolak dan kehilangan. Menurut Walker, inilah yang tertanam di dalam bawah sadar warga masyarakat Amerika modern. Brown. Contohnya serial Calvin and Hobbes, komik strip terkemuka Amerika karya komikus Bill Watterson. Calvin and Hobbes bisa disebut komik strip paling idealis di tahun 1980-an karena sang komikus menolak untuk melakukan merchandising. Kalau toh ada kaus atau gelas mug yang bergambar Calvin Hobbes, artinya itu adalah hasil bajakan. Watterson sebagai penggemar kartun Charlie Brown menyebut serial Peanuts sebagai sebuah kartun eksistensialis. Dalam pidatonya di Festival Kartun di Universitas Ohio, 27 Oktober 1989, Watterson mengatakan: "Peanuts di satu sisi begitu lucu, tapi di sisi lain begitu menyedihkan. Penderitaan Charlie Brown begitu privat, jujur, ada kesedihan mendalam. Peanuts adalah metafora tentang betapa kerasnya suatu pencarian kebahagiaan dalam hidup, tentang alienasi, tentang ambisi." Atmosfer ini yang juga merembes dalam karakter Calvin, sosok rekaan Watterson. Sesungguhnya, tingkah laku Calvin jauh berbeda dengan Charlie Brown. Ia adalah anak yang luar biasa aktif, bandel, cenderung mudah berang, tapi cerdas minta ampun. Masih sekolah dasar, tapi ia memiliki pengetahuan yang luas tentang dinosaurus, stegosaurus, dan brontosaurus. Kosakatanya luar biasa cerdas dan bahkan brilian, tapi kecerdasannya hampir tak berguna di sekolah yang begiu konvensional. Sedangkan Charlie Brown adalah bocah pendiam, introvert, dan perenung. Calvin adalah anak umur enam tahun (setahun lebih tua dari Shin-chan) yang memiliki boneka macan bernama Hobbes, tapi dalam imajinasinya boneka itu hidup sebagai macan beneran. Setiap hari ia bermain, bercakap, berdiskusi, bergulung-koming mengarungi petualangan secara "nyata" dengan Hobbes. Sementara itu, orang lain tetap menganggap Hobbes sebagai boneka biasa. Yang diinginkan Calvin sehari-harinya adalah menghajar Susie Derkins, cewek tetangga sebayanya, dengan lemparan bola salju karena selalu ingin menculik Hobbes. Calvin adalah sosok yang ingin memperoleh ketenaran. "Saya ditakdirkan untuk besar," kata Calvin kepada Hobbes. "Mereka akan memanggil saya Calvin the Great." Dalam imajinasi si bocah cilik ini, misalnya, ia menjadi manusia super yang mengagumkan. Tapi, kenyataannya, dalam lomba lukis antarkelas saja ia selalu kalah. Di sinilah kita tersentuh. Di sinilah Calvin menjadi bocah yang tampak senasib dengan Charlie Brown. Nama Calvin pun terlihat sebagai parodi atas rasionalitas. Nama Calvin diambil dari John Calvin, teolog Prostestan yang tak percaya soal takdir. Sedangkan Hobbes diambil dari nama filsuf Thomas Hobbes, penganut utilitarian Inggris yang tenar dengan diktum homo homini Lupus (manusia adalah pemangsa bagi manusia lainnya). Seperti juga Charlie Brown, yang sering mencurahkan hati kepada anjingnya, Calvin juga merasa aman, cinta, dan berkisah tentang kegagalan, yang ia tumpahkan kepada Hobbes, sang macan sahabatnya, dan bukan kepada orang tuanya. Dalam dialog debat-debat saling curhat keluhan antara Calvin dan Hobbes itulah, tanpa bermaksud menggurui atau berpretensi moral, komik ini sering memercikkan nuansa politik, sosial, dan teologi yang dalam. Persahabatan antara bocah dan macan (Calvin dan Hobbes) serta bocah dan anjing yang tulus (Charlie Brown dan Snoopy) ini menjadi metafora bagi problem alienasi manusia modern. "Saya membaca Marx, tapi saya juga membaca Calvin and Hobbes," demikian ditulis Joel Tena, redaktur The California Aggie. Dibandingkan dengan komik Lat atau lebih-lebih Snoopy atau Calvin and Hobbes, komik Crayon Shin-chan terkesan dangkal, kurang memiliki unsur renungan yang bisa menguak hipokrisi seseorang. "Surprise is the essence of humor and nothing is more surprising than truth," demikian tulis Watterson dalam epilog buku ulang tahun ke-10 Calvin and Hobbes. Sementara itu, kejutan dalam komik Crayon Shin-chan adalah kejutan fisik, lahiriah, dan verbal. Tapi justru mungkin kejutan semacam itu yang bisa lebih dinikmati banyak orang. Sebab, kejutan macam ini tidak menuntut suatu pemahaman konteks sosial di balik banyolan seperti yang sering dibutuhkan bila membaca serial Peanuts atau Calvin and Hobbes. Persoalan lain, meski serial komik itu sudah dijual di toko-toko buku di Indonesia—terutama Calvin and Hobbes, yang dijual dengan sangat mahal— karya-karya itu belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setelah anak-anak Indonesia diserbu videogame pertarungan model Jepang dari Nintendo sampai Sega, mereka kini diserbu humor-humor slapstick gaya Crayon Shin-chan. Almarhum Arwah Setiawan pernah memberi nasihat: anak-anak memerlukan humor. Humor itu untuk menjaring nuansa lucu dalam pergaulan sehari-hari. Namun, kini, yang disebut lucu di tahun 2001 dan yang membuat anak-anak Indonesia tergelak-gelak adalah melihat gundul Shin-chan benjol sebesar telur akibat ceplesan sang ibu, atau Misae "La-chan" Nohara yang jengkel memiliki sepasang dada dengan ukuran bra 89 cm tapi toh sang anak menyebut dadanya datar. Seno Joko Suyono, Purwani Dyah Prabandari, dan Dwi Arjanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Whitney Houston Tutup Usia  

Whitney Houston Tutup Usia  

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir  

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut  

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI  

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade

Olahraga

Mali Juara Ketiga Piala Afrika 2012  

Rentetan Kecelakaan di Jalan Raya Awal 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif