• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

    LAT berarti bulat. Sebab, wajahnya yang tambun itu memang bulat berseri menampilkan cahaya bakat dan kerendahan hati. Lahir pada 1951 di sebuah kampung di Malaysia Utara, Mohamed Nor Khalid identik dengan si Kampung Boy, sosok rekaan seorang anak kecil agak gendut dan berambut acak-acakan serta sering mengenakan sarung dan kaus tanpa lengan. Kenakalannya selalu membuat kita sebagai pembaca tersenyum mengingat apa yang kita lakukan di waktu kecil. Komik Kampung Boy memang dibuat untuk nostalgia bagi orang dewasa dan pendidikan bagi anak-anak. Dan entah bagaimana, meski terasa kental dengan budaya Melayu, komik itu beredar dalam berbagai bahasa, termasuk Jepang, dan laku keras di mancanegara. Tak aneh, meski berbagai komiknya sering menampilkan wajah Perdana Menteri Mahathir Mohamad dengan teks Dr. M itu, sang Perdana Menteri mengaku sebagai pengagumnya dan konon menggantungkan salah satu coretan Lat di rumahnya. Dan tak aneh pula, sang komikus yang dianggap sebagai kebanggaan negerinya ini kini dilengkapi dengan nama Dato' Lat karena dia diberi penghargaan Darjah Paduka Mahkota Perak oleh Sultan Perak. Itu tentu tak mengubah sikap rendah hati sang komikus. Sebab, dia adalah pencinta kehidupan sederhana dan memulai semua kisah suksesnya dari bawah. Ketika masih di kelas 6 SD, ia ditawari bayaran 25 ringgit oleh Sinaran Brothers Limited untuk buku komiknya Tiga Sekawan yang diterbitkan pada 1964. Namun, karir profesionalnya dimulai ketika dia berumur 13 tahun, saat kartunnya dimuat di Majalah Fillem dan Movie News. Dan saat ia berusia 16 tahun, kartunnya Keluarga Si Mamat muncul rutin seminggu sekali di Berita Minggu selama 26 tahun. Prestasi yang luar biasa. Lulus dari Senior Cambridge (SMP), dia mencari kerja di bagian seni di The New Straits Times, tapi malah ditempatkan sebagai reporter kriminal. Karena kecintaannya dengan dunia gambar, akhirnya Lat berhenti sebagai reporter kriminal. Pada 1974, dia menjadi kartunis untuk Times. Tahun 1980-an, Lat benar-benar meninggalkan New Straits Times Group dan menjadi freelancer. Tapi dia tetap menjadi kontributor untuk The New Straits Times tiga kali seminggu. Pada 1995-1997, Lat banyak terbang ke Los Angeles untuk produksi animasi serial kartun Kampung Boy, yang menggambarkan kehidupan kanak-kanaknya. Buku komiknya yang lain yang cukup terkenal di antara 20-an bukunya adalah Kampung Boy: Yesterday and Today. Buku kartun ini dibuat tidak hanya untuk anak-anak, tapi untuk semua orang yang mau mengingat hidup yang lebih mudah. Lat menyerang lingkungan sekarang yang terus mengalami dehumanisasi. Dia menggunakan serangkaian flashback yang bagus dengan masa mudanya di kampung. Dia dan teman-temannya tidak terburu-buru untuk tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Mereka menikmati masa kanak-kanak mereka. Anak-anak bermain sendirian dengan permainan canggihnya. Saat flashback dimulai, panel pertama yang muncul adalah gambar dia yang telanjang dan berkata, "Sebagai sebuah fakta, saya tidak mengenakan apa-apa." Nostalgia Lat tidak hanya digambarkannya di dalam kartun-kartunnya. Demi masa depan keempat anaknya, Lat membawa keluarganya kembali ke Ipoh, kampung halamannya. "Saya ingin anak-anak tumbuh dan berkembang dalam suasana yang lebih nyaman," ujar Lat dengan suara beratnya. Lat pun banyak bercerita saat ditelepon Purwani Diyah Prabandari dari TEMPO di tengah kesibukannya yang luar biasa di Ipoh. Berikut ini petikannya.
    Bagaimana Anda menemukan karakter Kampung Boy? Watak Kampung Boy adalah saya sendiri sewaktu zaman kanak-kanak. Komik Kampung Boy pertama diterbitkan pada 1979. Itu kisah bagaimana anak kampung tumbuh dalam suasana keheningan desa. Pada pertengahan 1970-an, saya sudah mulai dikenal sebagai kartunis The New Straits Times. Saya tinggal di Kuala Lumpur, yang begitu modern. Tapi saya tetap merindukan kehidupan kampung dan rekan-rekan waktu dulu. Kuala Lumpur terlalu keras. Itu sebabnya saya melukiskan cerita Kampung Boy. Saya tidak menyangka dia akan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sebuah nostalgia bagi yang dewasa dan pengajaran yang lucu bagi si muda yang ingin tahu tentang cara kehidupan ibu-bapak mereka di waktu kecil. Bagaimana dengan proses pembuatan komik Kampung Boy: Yesterday and Today? Itu mengenai permainan. Saya tinggal di Kuala Lumpur selama hampir 30 tahun. Buku itu dimulai dengan permainan-permainan lama yang kita buat sendiri di kampung. Anak-anak tidak punya uang untuk membeli mainan. Anak-anak sekarang kan pada punya uang banyak dan main video game. Dulu kami menebang kayu dan membuat mainan dari kayunya. Juga permainan waktu itu ada musimnya. Kalau musim layang-layang, semua main layang-layang. Musim gasing, semua main gasing. Tapi semua itu sekarang sudah hilang dan ditransfer ke komputer. Kita sendiri duduk di kamar dan main game. Karena itukah Anda kemudian membuat animasi Kampung Boy? Memang ada anak muda sekarang yang mengenal Kampung Boy dalam bentuk animasi TV yang saya buat bekerja sama dengan Malaysia East Asia Satellite TV pada 1995 hingga 1997. Dan untuk serial ini, kami telah membuat 24 episode. Praproduksinya dilakukan di Los Angeles dan seterusnya diusahakan oleh para animator dan pelukis di Manila. Suara karakter-karakter dalam serial ini direkam di Malaysia. Bagaimana dengan karakter dalam Kampung Boy seperti Moira Hew? Apa dia juga ada orangnya dalam kehidupan masa kecil Anda? Watak Moira Hew (guru) adalah guru saya sewaktu saya di tahun keempat dan kelima di sekolah rendah dulu. Dia memang garang orangnya. Tapi dia sungguh menyayangi anak-anak muridnya. Dan sebenarnya wajahnya tidaklah seperti watak dalam kartun itu! Tidak sama sekali! Hanya gurauan…. Tapi kacamata butterfly itu memang benar. Kami sering juga bertemu hingga hari ini karena dia dan suaminya juga tinggal di Ipoh (my hometown), tempat saya sudah kembali menetap bersama istri dan empat orang anak saya. Saya sekeluarga telah meninggalkan Kuala Lumpur empat tahun lalu. Dalam Budak Kampung, anak-anak begitu takut dengan orang tua. Apakah itu memang budaya anak-anak Asia? Anak muda harus menghormati yang tua. Itu budaya kita. Usahakan agar yang masih anak-anak ataupun yang muda atau bahkan yang tua pun mesti menghormati yang lebih tua lagi. Yang tua mesti menghormati yang muda sebagai golongan yang sedang dipimpin. Bagaimana Anda melihat komik dan animasi Jepang dan Barat yang menyerbu Asia Tenggara? Memang sudah menjadi adat, barang yang milik kita sendiri tidak populer. Di India juga demikian. Mereka selalu bertanya bagaimana perkembangan animasi India, sementara mereka sendiri lebih banyak menonton animasi Hollywood. Bagaimana mengatasinya? Kalau kita mau membuat komik atau film, jangan membuat yang seperti Hollywood. Itu sudah ada. Jadi, kita buat yang lain. Tapi harus yang universal, sehingga bisa dijual di mana-mana. Banyak komik Jepang yang agak terbuka dengan urusan seks meski itu komik untuk anak-anak. Bagaimana menurut Anda? Unsur seks dalam komik untuk kanak-kanak, itu bukan tempatnya. Biarkan kalau di Jepang boleh. Kita tidak perlu ikut. Yang populer di Indonesia adalah komik dan animasi Jepang yang penuh kekerasan dan juga seks, seperti komik Crayon Shin-chan, yang banyak diprotes. Apa memang perlu dibuat komik khusus untuk orang dewasa dan anak-anak? Komik itu tidak mesti untuk anak-anak, karena akan tetap dibaca oleh orang dewasa. Jadi, ada juga komik untuk orang dewasa. Kita juga susah mengontrolnya (dari anak-anak). Anak-anak itu juga nantinya akan besar dan membaca komik-komik untuk orang dewasa itu. Tapi di AS, mereka punya komik underground yang sangat terkenal. Dan komik-komik underground ini bercerita tentang radikalisme, antiestablishment, atau juga kebebasan seks. Mereka sangat populer, tapi dijualnya di tempat terbatas dan hanya dibeli orang dewasa. Dan di sana ditulis for adult only. Tapi, menurut saya, sebetulnya komik semacam itu memang khas untuk pikiran orang dewasa. Anak-anak yang membacanya tidak akan paham. Kartun atau komik macam apa yang bagus dibaca anak-anak? Yang bagus kalau ada nasihatnya. Tapi di sana juga dibuat agar anak-anak yang menonton atau membaca merasa terlibat. Walaupun kartun, komik, atau film dari luar negeri, dia bisa saja terlibat. Misalnya memiliki masalah di rumah yang sama dengan yang ada dalam film. Mengenai persahabatan, mengenai cinta, mengenai keluarga, secara universal, semua sama. Dia tidak merasa terpinggirkan. Bagaimana Anda melihat perkembangan kartun atau komik sekarang ini? Perkembangannya juga cukup pesat. Sudah begitu banyak kartun dan komik. Tapi mutunya tidak bagus. Kebanyakan mengandung unsur violence (kekerasan). Dan ini pengaruh dari Jepang, Hong Kong, dan Taiwan. Jadi, kita memiliki komik bersambung, bisa sebulan sekali atau dua minggu sekali. Biasanya isinya pertarungan. Dan pertarungan itu tidak pernah habis. Minggu ini bertarung dengan satu musuh, besok musuh yang lain lagi. Dan anak-anak muda ini kelihatannya memang tertarik dengan kekerasan itu. Menurut Anda, mengapa justru kekerasan itu yang mendominasi komik ataupun animasi sekarang ini? Dalam hidup sehari-hari, kita tidak boleh meluapkan perasaan kita. Jadi, dalam hiburan atau buku atau bacaan lain, kita merasa puas apabila perasaan kita dikeluarkan dalam kartun atau dengan watak-watak kartun. Jadi, apa yang tidak bisa kita puaskan dalam bentuk ekspresi kita puaskan dalam bentuk kartun. Apa karakteristik yang cukup berbeda antara komik atau kartun Asia dan Barat? Memang ada perbedaan. Kita lebih halus. Thailand dan India lebih bebas dari segi politik. Kartun-kartun politik di Indonesia memang cukup bermutu, juga cukup lucu. Sedangkan pembaca komik Hong Kong lebih menyukai komik yang berkisah siapa yang pandai menipu dalam main poker. Jadi, setiap wilayah memang punya selera humor sendiri. Sementara itu, di Barat, komiknya cenderung melibatkan teknologi, seolah-olah semua orang adalah individu yang tidak kenal individu lain. Urusan kita adalah urusan kita sendiri. Sebagai kartunis, bagaimana kondisi kebebasan berkarya di Malaysia? Di Malaysia juga bebas, tapi memang tidak sebebas di Thailand atau India. Apakah Anda pernah diperingatkan oleh pemerintah karena karya Anda? Tidak ada. Kalau saya membuat kartun politik, biasanya tidak begitu mendalam. Saya lebih suka melukis orang ramai atau masyarakat sendiri, misalnya orang di stasiun atau di jalanan. Saya pernah pergi ke Stasiun Senen di Jakarta. Saya diajak syuting film oleh Christine Hakim. Jadi, saya membuat kartun tentang Stasiun Senen. Anda pernah mendapat protes dari publik karena karya Anda? Tak pernah. Tapi pernah terjadi salah paham. Misalnya, saya menggambar tikus. Orang bertanya siapa tikus itu. Saya bilang, itu tikus. Mereka tak percaya. Mereka yakin itu pasti politisi tertentu. Jadi, itulah yang terkadang terjadi, salah anggapan.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif