• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

    CRAYON Shin-chan sudah menyebar bak "virus". Dia ada di tangan mungil anak-anak berusia lima tahun, di mal, di pinggir jalan, di toko buku, dan di layar televisi. Dia menciptakan kehebohan. Dia menimbulkan rasa ngeri di rumah tangga Indonesia karena hidup bak tumor yang menjalar ke dalam tubuh anak-anak. Kelakuan bocah ini memang tak lazim. Dia gemar membaca majalah orang dewasa, sehingga dia hafal di luar kepala nama-nama perempuan seksi yang suka berpose telanjang. Tak aneh bila pandangan anak kecil berusia lima tahun itu penuh dengan visualisasi dan imajinasi seksual. Di depan siapa saja, tak terkecuali gurunya, Shin-chan sering merogoh celananya dan memamerkan "sang burung". Bila dia bertemu dengan wanita cantik, Shin-chan langsung beraksi. Biasanya, itu dimulai dengan pertanyaan standar: suka makan cabai hijau, lalu menawarkan kebaikan, dan tiba-tiba tersembur dari mulutnya ajakan untuk kawin. Itu belum seberapa. Shin-chan menjadikan kedua orang tuanya sebagai obyek kejahilannya. Dia tidak pernah ragu mengolok-olok Misae Nohara, ibunya, karena memiliki buah dada yang rata. Dia juga tak ragu-ragu mengangkat rok ibunya di depan orang-orang bila permintaannya tidak dipenuhi. Yang mengejutkan pembacanya, seksualitas tidak berhenti hanya pada imajinasi kanak-kanak yang penuh ingin tahu, tapi juga pada visualisasi adegan yang cukup rinci. Dalam salah satu episode, kedua orang tuanya, Hiroshi dan Misae, tengah bermesraan. Seperti yang disajikan dalam jilid pertama komik ini, Shin-chan memergoki keduanya tengah bercinta. Dengan entengnya, Shin-chan nimbrung sambil berucap, "Kok, main gulat enggak ajak-ajak?" Intinya, baik di Indonesia maupun di negaranya sendiri, Shin-chan tidak dianggap sebagai role model yang baik buat anak-anak. Protes pun bermunculan. Ruang surat pembaca di koran-koran dipenuhi dengan keberatan para orang tua terhadap penerbitan komik yang laris manis ini. Umumnya surat itu datang dari kalangan ibu. Menurut mereka dalam suratnya, kelakuan negatif Shin-chan ternyata diikuti oleh anak-anak. Shin-chan, di mata para orang tua Indonesia, adalah setan kecil penebar virus. Di negeri asalnya, Crayon memang bukanlah bacaan anak-anak, melainkan untuk kalangan remaja. Bila terjadi kontroversi yang dahsyat di Indonesia, itu lebih disebabkan oleh keteledoran penerbitnya, PT Indorestu Pacific. Awalnya, penerbit itu sama sekali tidak memberikan batasan usia untuk membaca komik ini. Namun, protes berhamburan dengan deras dan tak henti-henti. Akhirnya, penerbit itu mulai melekatkan label batasan bacaan untuk usia 15 tahun ke atas. Komik ini muncul pertama kali di Jepang pada 1992 dalam mingguan komik (manga) Action. Komik garapan Yoshito Usui, 43 tahun, ini langsung menarik perhatian permbacanya. Popularitasnya kian menjulang setelah dibuat animasinya (anime). Pertunjukan anime ini tergolong sebagai salah satu pertunjukan yang diminati di Jepang. Namun, dalam bentuk animasi, kekonyolan Shin-chan hilang. Beberapa adegan sengaja absen dengan alasan mingguan komik alias manga itu banyak mengetengahkan adegan porno yang dianggap tidak lazim ditampilkan dalam pertunjukan animasi. Dalam animasi, kenakalan Shin-chan menjadi kenakalan anak-anak yang wajar, seperti bergulingan di dalam mobil saat ayahnya menyetir atau menyedot kotoran di tubuh ayahnya dengan menggunakan vacuum cleaner. Di televisi, tingkah laku Shin-chan masih bisa dikategorikan sebagai kelucuan alamiah dari seorang anak-anak. Meski demikian, itu tidak lantas mengurangi rasa cemas para orang tua. Sebab, kepopuleran Shin-chan versi televisi seolah paralel dengan kepopuleran komik. Sebuah artikel The Wall Street Journal membandingkan Shin-chan dengan tokoh Beavis and Butthead, tokoh kartun di MTV yang memiliki perangai dan kelakuan mirip dengan Shin-chan. Bagaimanapun, Shin-chan sudah menjadi fenomena. Berbagai merchandise bergambar anak gendut beralis tebal ini muncul di mana-mana. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun menggilainya. Pada 1995, anime ini pun diputar stasiun televisi di Hong Kong. Dalam hal ini, Indonesia termasuk terlambat dilanda demam Shin-chan. Komik ini memang berbeda dengan umumnya komik Jepang. Shin-chan memiliki kekurangan dan kelebihannya sendiri. Shin-chan bukanlah sosok superhero seperti halnya Dragon Ball atau Sailor Moon. Dia hanya anak lelaki berbadan bogel dan beralis tebal dengan suara parau memelas. Dari segi estetika komik, Crayon Shin-chan jauh untuk dikatakan sempurna bila dibandingkan dengan komik lainnya. Seperti halnya Kobo-chan atau Kariakage Kun, manga ini hanyalah sketsa hitam-putih yang banyak meninggalkan ruang kosong, nyaris tanpa teknik arsir dan blok yang mengagumkan. Tapi, dengan goresan yang bersahaja seperti itu, sosok Shin-chan menjadi khas, unik, dan mudah dikenali serta akrab bagi pembaca setianya. Goresan pena Usui itu dipandang tepat untuk menggambarkan sosok keluarga kelas menengah Jepang. Menurut harian Japan Times, kelebihan dari manga ini adalah goresan Usui dalam tiap kotak panelnya yang mampu menggambarkan tipikal pembaca mingguan manga Action, yang umumnya pegawai kelas menengah atau dikenal oleh masyarakat Jepang dengan istilah sarariman. Keunggulan dari komik ini terletak pada kebolehan penulisnya dalam meramu tema yang disuguhkannya. Berbeda dengan serial Doraemon, yang banyak menyajikan khayalan anak-anak yang tak mengenal batas, atau serial Sailor Moon, yang berupa sosok perempuan hero yang piawai menumpas kejahatan, tema yang diusung Shin-chan justru menukik pada persoalan yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari dalam sebuah keluarga muda. Apa yang ditampilkan komik ini tak lain merupakan potret aktual tentang masyarakat kelas menengah Jepang. Tokoh dalam komik ini adalah keluarga Nohara, yang terdiri atas Hiroshi, Misae, dan Shinosuke (alias Shin-chan). Mereka tinggal di sebuah permukiman di kawasan suburb bersama anjing kampung yang diberi nama si Putih atau Shiro, sang anjing bego yang amat berbeda dengan kebanyakan anjing dalam komik lain. Hiroshi Nohara adalah pekerja di sebuah perusahaan yang memiliki impian mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya demi kehidupan keluarga yang lebih baik. Baginya, promosi adalah target hidup. Tak aneh, di hari libur pun dia rela mengerjakan tugas kantor. Sedangkan Misae Nohara adalah wanita yang lebih banyak tinggal di rumah untuk mengurus anak, tapi seperti umumnya wanita Jepang dari kelas sosial ekonomi yang sama, dia sangat suka memburu barang mahal yang melalui potongan harga. Melalui sosok Shinosuke (nama lengkap Shin-chan), Yoshito Usui memaparkan sebuah cemooh terhadap keadaan sosial masyarakat kelas menengah Jepang (atau bahkan kelas menengah di belahan dunia mana pun). Shin-chan yang luar biasa bandel ini membuka rahasia keluarga itu, misalnya soal barang yang belum lunas cicilannya. Atau ia menyemprotkan parfum milik ibunya hingga habis untuk mengusir seekor lalat, dan dengan wajah memelas, Misae berucap, "Parfum Mama itu kan mahal." Seksualitas memang menjadi sebuah wilayah yang mendapatkan perhatian Shin-chan yang intens. Sesungguhnya, perhatian anak berusia lima tahun terhadap seksualitas memang patut ditangani dengan tepat. Keingintahuan mereka akan bentuk tubuh serta reaksinya terhadap alam dan makhluk sekitarnya menjadi sesuatu yang terus-menerus menimbulkan tanda tanya dan minat yang semakin dalam. Sesungguhnya keingintahuan Shin-chan terhadap seks yang terpendam akhirnya menjadi problem vulgarisme. Jika penanganan keingintahuan Shin-chan dihadapi dengan sikap santai dan terbuka, kemungkinan besar pula ia tidak akan jatuh menjadi "keranjingan" seperti itu. Selain itu, sikap keranjingan Shin-chan terhadap seks sesungguhnya merupakan gambaran dampak kehidupan seks yang ingar-bingar di Jepang. Hiroshi Nohara, sang ayah, yang juga selalu jelalatan memperhatikan berbagai wanita cantik yang berlalu di hadapannya, adalah obyek cemooh Shin-chan. Salah satu episode yang menggambarkan Shin-chan dan sang ayah di sebuah rumah makan cepat saji memperlihatkan bagaimana sang ayah diam-diam menikmati pemandangan bokong seorang pramusaji. Keasyikan itu tiba-tiba buyar karena, tanpa disadarinya, Shin-chan telah berada di samping wanita itu, lalu sambil menunjuk bokong sang pramusaji, Shin-chan berteriak, "Papa sedang melihat ini, ya?" Memang sulit memutuskan apakah kita akan menyukai serial ini atau sekaligus membencinya. Tapi ada baiknya orang tua yang kelabakan dengan kehadiran komik ini segera menyadari asal-usulnya: komik ini memang diciptakan untuk remaja dan orang dewasa. Irfan Budiman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif