• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Mengurai Bisnis Si Serbuk Putih

    TRAFFIC Sutradara : Steven Soderbergh Skenario : Stephen Gaghan Pemain : Michael Douglas, Catherine Zeta-Jones, Benicio Del Toro Produksi : USA Films MUNGKIN tahun ini milik Steven Soderbergh. Pria yang melejit melalui film Sex, Lies and Videotape itu tengah menuai sukses, meski sukses itu masih berarti nominasi. Di samping film Erin Brockovich, filmnya yang lain, yakni Traffic, berhasil meluncur ke jajaran nominee film terbaik. Film ini juga masuk nominasi empat penghargaan, yakni penulisan naskah adaptasi, penyuntingan, penyutradaraan, dan aktor pendukung terbaik untuk Benicio Del Toro. Tapi, benarkah film ini begitu istimewa? Seperti halnya film Erin Brockovich, yang diangkat dari kisah nyata Nona Erin, film ini merupakan adaptasi dari miniseri Inggris, Traffik, yang pernah ditayangkan di televisi Amerika pada 1990. Miniseri yang ditayangkan selama enam minggu itu mengisahkan penyelundupan heroin yang dilakukan pemuda Pakistan ke Inggris. Urat cerita itu tetap dipegang Soderbergh. Bedanya, dalam versi Hollywood, dia menggunakan setting penyelundupan kokain dari Meksiko ke Amerika. Film dibuka dengan adegan di padang pasir nan gersang, saat dua orang polisi Meksiko, Javier (Benico Del Toro) dan Manola (Jacob Vargas), tengah mengintip truk yang dicurigai akan menyelundupkan narkotik. Benar saja, truk itu mengangkut berdus-dus kokain yang disamarkan menjadi makanan instan. Sekali sergap, penyelundup pun dilumpuhkan. Javier adalah polisi yang jujur, sogokan sang sopir sama sekali tak membuatnya goyah. Tapi, tak lama kemudian, barisan jip mendadak muncul dan menghentikan mobil mereka. Seorang pria berdandanan militer turun dan menyuruh agar penjahat itu dibebaskan. Ternyata pria itu adalah Jenderal Salazar, seorang pembesar militer di sana. Apalah artinya polisi cecunguk macam Javier. Penjahat dan setumpuk heroin itu pun dibawa sang Jenderal. Sebuah awal yang menarik. Tapi sekonyong-konyong adegan itu melompat pada cerita lain. Ternyata, film ini terdiri dari tiga bagian terpisah yang memiliki benang merah tema problem narkotik. Bagian pertama berkisah tentang polisi yang jujur, Javier dan partnernya, Manola, yang bergabung dengan Jenderal Arturo Salazar (Tomas Milian) yang bertekad akan menghancurkan kartel narkotik yang dipimpin Juan dan Pablo. Javier mencium niat busuk Salazar, tapi dia tidak bisa keluar dari jeratan Salazar. Bagian kedua adalah kisah usaha dua agen DEA (badan antinarkotik Amerika) di San Diego, Ray Castro (Luiz Gusman) dan Montel Gordon (Don Cheadle), untuk menyeret Carlos Ayala, orang kaya yang hidup dengan menjadi bandar narkotik. Sang istri, Helena (Catherine Zeta-Jones), yang sedang hamil, tak menyangka suaminya terlibat dalam kriminalitas semacam itu sehingga sungguh terpukul dan berupaya untuk keluar dari kesulitan itu. Kisah terakhir adalah cerita tentang Robert Wakefield (Michael Douglas), yang baru diangkat menjadi petinggi Mahkamah Agung yang bertanggung jawab menangani masalah narkotik. Di balik tekadnya untuk memberantas narkotik, ternyata problem keluarga menjadikan pekerjaan Wakefield semakin rumit karena tingkah anak Wakefield, Caroline (Erika Christensen), yang kecanduan narkotik gara-gara kelakuan pacarnya. Ketiga cerita itu dimulai hampir secara bersamaan, yang selanjutnya disampaikan secara bergiliran. Cukup inovatif, meski gaya semacam ini sudah dilakukan dalam The New York Stories—dikerjakan oleh tiga sutradara besar Woody Allen, Francis Ford Coppola, dan Martin Scorsese—atau film Night in the City, dengan empat bagian yang terpisah (tentang taksi di malam hari) karya J. Jarmush. Dalam Traffic, yang menggunakan alur lurus hampir tanpa kelokan, tiap-tiap cerita berdiri sendiri dan sama sekali tidak berhubungan, tanpa link yang saling mengikat kecuali tema narkotik itu. Dengan durasi yang alot sekitar dua jam lebih, film ini terasa melelahkan. Untuk digolongkan sebagai film laga, kisah pertama tentang polisi Meksiko dan agen DEA itu nyaris tanpa suspens. Sementara itu, di bagian lain, kisah Wakefield pun terasa—bila film ini mau disebut film drama—kurang menyentuh, bahkan terkesan klise. Yang menarik adalah gaya pengambilan gambar yang menggunakan gaya film dokumenter. Kamera bergerak dengan menggunakan pola yang dinamis. Untuk ini, upaya itu terbilang berhasil. Film ini seolah menjadi dokumentasi sebuah potret yang lengkap tidak saja tentang bisnis peredaran bisnis obat terlarang, tapi juga aspek lain dari bisnis itu. Namun, dalam persaingannya meraih Academy Award tahun ini, agaknya peluang film ini sangat berat. Film ini harus bertarung dengan Crouching Tiger, Hidden Dragon dan The Gladiator, yang memiliki peluang merebut posisi puncak. Demikian pula, dalam kategori aktor pria pendukung, Benicio Del Toro harus berhadapan dengan Willem Dafoe, yang disebut-sebut memiliki peluang besar karena penampilannya dalam film Shadow of the Vampire. Apa pun hasilnya nanti, yang jelas, film ini menjadi bukti kelihaian Soderbergh dalam memenuhi selera juri Piala Oscar. Irfan Budiman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif