• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Perginya Pengacara Gigih

    BAGI advokat senior Gani Djemat, ada yang lebih penting dibanding urusan sebagai pengacara. Untuknya, pekerjaan utama adalah merawat bonsai. Lalu soal pengacara? "Itu hobi saya," begitu tutur putra sulung advokat senior ini, Humphrey Djemat, ketika menirukan celetukan mendiang ayahnya. Tak salah jika Gani bercanda seperti itu dengan putranya. Pendiri Gani Djemat and Partners ini memiliki ribuan bonsai yang tersebar dari teras depan rumahnya di bilangan Permata Hijau, Jakarta, hingga di kebunnya yang berukuran lima hektare di Puncak, Jawa Barat. "Jika sudah asyik merawat tanamannya, Bapak bisa tahan berjam-jam," tutur Humphrey, putra Gani yang kini mengikuti jejak ayahnya sebagai pengacara. Sayangnya, sejak Kamis pekan lalu, Gani tak bisa lagi menekuni "pekerjaan utama"-nya merawat tanaman hiasnya tersebut. Bapak dari delapan anak ini tutup usia di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk, Jakarta, setelah mengalami koma sepekan lamanya. Kombinasi antara tekanan darah tinggi, diabetes, dan gagal ginjal mengantarkan Gani ke tempat peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum Joglo, Jakarta Barat. Membicarakan Gani tentu lebih dari sekadar mengagumi kesabarannya merawat bonsai atau suisekinya. Karir advokat kelahiran Curup, Sumatra Selatan, 18 Agustus 1932, ini bukan berawal dari sebuah firma hukum, melainkan sebagai oditur di Angkatan Laut pada 1959. Ketika menjalani dinas di Angkatan Laut itulah Gani sempat menangani beberapa perkara yang menarik perhatian publik. Pada 1963, misalnya, ia pernah menjadi hakim anggota Mahkamah Militer Luar Biasa yang mengadili Soumokil, salah satu tokoh pemberontak Republik Maluku Selatan. Pada masa itu, Gani sempat bekerja sebagai wakil Sudharmono?kemudian jadi wakil presiden?yang saat itu turut bertugas di Komando Operasi Tertinggi (Koti). Tiga tahun kemudian, Gani menjadi hakim anggota yang menyidangkan dua pentolan Partai Komunis Indonesia, Untung dan Nyono. Belakangan, komandan Gani menunjuknya sebagai Deputi Liaison Officer Indonesia di Singapura. Ketika akhirnya pemerintah meningkatkan status kantor perwakilan di jiran ini menjadi kedutaan, Gani dipercaya untuk menjabat sebagai atase pertahanan. Sejak awal, Gani paham bahwa perjalanan karirnya di militer tak akan bisa tinggi. "Saya kan tidak mungkin jadi kepala staf," selorohnya suatu hari kepada wartawan. Itu sebabnya, sepulang dari Singapura, mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) ini mengajukan pensiun dini dan membuka sebuah kantor pengacara pada tahun 1971. Usahanya dimulai dari bawah, bermodalkan tumpukan kartu nama, relasi, sebuah mesin tik, dan seorang sekretaris. Namanya kemudian mulai terdengar. Dewi Sukarno dan Eddy Tansil, untuk menyebut beberapa contoh nama saja, pernah merasakan layanan Gani dalam memperjuangkan hak kliennya. Kegigihannya dalam membela klien, berani dan tegas dalam bersikap, rupanya cocok dengan tuntutan pekerjaan sebagai sosok pengacara di Indonesia. "Ia seorang pengacara yang cermat dalam mengartikan kata-kata, memiliki sikap yang tegas, dan selalu berada di jalur hukum dalam menangani satu perkara. Baginya, yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah," Sudjono, Ketua Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), bertutur mengenang Gani. Selama 26 tahun berpraktek sebagai advokat, Gani memegang teguh sikapnya tersebut. Firma hukumnya kini telah berkembang dan memiliki puluhan pengacara. Sejak 1998, secara bertahap pengelolaan kantor berada dalam tangan putra sulungnya, Humphrey R. Djemat. Bagi sebagian praktisi hukum, kegigihan Gani dalam bersikap tak akan mereka lupakan. Sebelas tahun lalu di Hotel Horizon, Jakarta, Gani terlibat pertentangan keras dengan Harjono Tjitrosoebono, Ketua Ikadin, sehingga Gani lebih memilih untuk walk out dari Musyawarah Nasional Ikadin dan mendirikan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) bersama pengacara Yan Apul dan Denny Kailimang. Kendati berseberangan secara pribadi, laki-laki asal Sumatra Selatan ini tetap berhubungan dengan para pengacara Ikadin. Luasnya pergaulan Gani juga tampak dari beragamnya sosok tamu yang mengalir ke kediamannya. Sebut saja Ali Sadikin, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Rudolf Kasenda, Adnan Buyung Nasution, Juan Felix Tampubolon, Bismar Siregar, Abdul Gafur, Poppy Dharsono, O.C. Kaligis, dan mantan wakil presiden Sudharmono. Sementara para tamu menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarganya, di halaman depan rumah Gani puluhan bonsai tenggelam dalam jajaran karangan bunga dukacita. Mereka seperti menunggu tangan cekatan Gani, yang kini tidak bisa lagi merapikannya. Widjajanto, Hendriko L. Wiremmer

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

Metro

Bawa Narkoba, Putri Pedangdut Ditangkap

Tak Boleh Ada Mal di Taman Pramuka Cibubur

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif