• Home
  • 26 Februari 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 Februari 2001

    Menengok Karya Tari Dua Luthan

    PERTENGAHAN Februari silam, pasangan suami-istri penata tari, Deddy Luthan dan Elly D. Luthan, menyajikan karyanya di atas panggung Gedung Kesenian Jakarta. Deddy menampilkan garapan tari Perahu yang Robek, yang disajikan pada paruh pertama pergelaran itu, sedangkan Elly pada paruh kedua menyajikan karya berjudul Gendari. Kedua koreografer ini telah mengaktualisasi cita-cita yang mereka pancangkan bagi grup Deddy Dance Company, yang mereka bina bersama beberapa rekannya, yaitu untuk "mengembangkan profesionalisme dan kreativitas koreografer Indonesia yang karya-karyanya selalu berakar pada bentuk-bentuk tarian tradisional Indonesia." Maka, Deddy menggunakan titik tolak kesenian Minang, sementara Elly bertolak dari landasan tari dan karawitan Jawa, khususnya gaya Surakarta. Nomor tari Perahu yang Robek, yang musiknya digarap oleh Epi Martison, menampilkan unsur-unsur instrumental yang diramu sepenuhnya dari khazanah Minang, tapi dalam komposisi yang serba orisinal. Penggalan-penggalan musik itu seolah bercengkerama dengan susunan-susunan gerak yang dibuat dan ditata oleh Deddy. Pada bagian tertentu, bunyi-bunyi yang tampil adalah dari piring-piring yang disodorkan kencang di lantai, dari samping ke tengah-tengah pentas, satu demi satu, dengan jarak waktu bervariasi. Pada saat lain, pasangan piring yang dipegang para penari itu digesek-gesekkan pada bibirnya dan menimbulkan bunyi yang khas. Pada saat lain lagi, piring-piring yang diinjak dan digerak-gerakkan di atas lantai oleh kaki para penari itu pun menimbulkan bunyi yang berbeda. Bagian tari kelompok oleh para penari wanita yang disusun untuk gerak bersama beberapa kali menampilkan gerakan yang khusus dibuat oleh koreografernya untuk karya ini. Artinya, gerak-gerak itu tidak diambil atau dimodifikasi dari khazanah gerak tari Minang yang sudah ada. Yang paling mencolok antara lain gerakan-gerakan di lantai dengan tubuh dibaringkan ataupun diubah-ubah posisinya menjadi setengah bangkit, duduk, setengah duduk, dan seterusnya. Gerakan-gerakan yang sulit itu, yang dikerjakan dalam tempo yang amat lambat, memerlukan kontrol tubuh yang kuat, khususnya pada otot perut dan paha. Karya yang secara garis besar menampilkan sifat liris ini pada saat-saat tertentu diberi aksentuasi dramatis, antara lain ketika dimunculkan tokoh bertongkat berambut putih yang seolah-olah melerai kegaduhan yang terjadi. Saat lain adalah ketika kelompok musik yang dipimpin oleh Epi Martison itu, di tengah-tengah olahan gerak untuk para penari, ikut melintas di pentas, bergerak dari ruang rendah di depan pentas menuju sudut kanan belakang pentas, dan selanjutnya meneruskan permainan musiknya di sana. Tata pentas pertunjukan karya Boi G. Sakti memberikan suasana non-kota, dengan kesan pagar bambu, talang air, dan pepohonan. Set itu digunakan baik untuk karya Deddy maupun karya Elly, dan ternyata bisa saja cocok meskipun Deddy bercerita tentang masa kini, sementara Elly mengambil salah satu episode Mahabharata. Set itu memberikan kesan kedalaman ruang, dengan kesan tinggi pada bagian belakang. Elly D. Luthan rupanya masih terus tergoda untuk mendalami dan menafsirkan tokoh-tokoh perempuan dalam wiracarita Mahabarata. Dalam karyanya yang lalu, ia pernah mengolah tokoh Kunthi, ibu para Pandawa, yang harus menghadapi situasi ketika dua anaknya mesti berhadapan di medan perang. Kini tokoh yang ditampilkan Elly adalah Gendari, wanita yang tanpa dicita-citakannya telah melahirkan dan harus membesarkan seratus Kurawa bersaudara yang bersifat angkara murka. Perempuan yang dalam cerita wayang hampir tidak pernah ditokohkan ini, oleh Elly, ditampilkan dalam bentuk gerak tari kelompok wanita yang menyiratkan sikap "menerima" (gerakan-gerakan yang tenang tapi sering kali juga "gagah") ataupun yang menyiratkan sikap "mempertanyakan" atau bahkan "menggugat" (gerakan-gerakan yang cepat, juga dengan merentang dan mengibas-ngibaskan kain panjangnya yang mestinya menyeret di lantai). Sisi "menggugat" dari Gendari ini juga diungkap melalui tari solo yang dipertunjukkan sambil berolah vokal. Garapan musik yang dikerjakan oleh B. Subono amat menunjang kekuatan karya ini. Diawali dengan dua penyanyi wanita yang dari arah berbeda memasuki "kotak karawitan" di depan pentas dengan berjalan melalui tengah-tengah penonton sambil menembangkan sesuatu yang terasa asing, musik dikembangkan kepada paduan suara kelompok kecil yang memperdengarkan jalinan suara-suara yang disonan antara satu dan lainnya. Itu semua menghasilkan rasa tidak pasti dan gelisah. Deddy dan Elly telah memberikan satu lagi bukti bahwa suatu karya pentas koreografer dapat dibuat atas dasar khazanah tradisi, dan tanpa terkekang oleh format-format baku yang telah terbentuk dalam tradisi tersebut. Edy Sedyawati

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Daging Kurban, Dikornetkan Saja

Album

Sakit

Buku

Buah Cinta Sang Budayawan

Catatan Pinggir

Infalibilitas

Layar

Lat, Crayon Shin-chan, dan Calvin: Kisah Para Bocah dalam Komik

Lat: Si Kampung Boy yang Rendah Hati

'Crayon Shin-chan', Sang Penebar Virus

Tari

Menengok Karya Tari Dua Luthan

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif