• Home
  • 19 Maret 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Maret 2001

    Penjara Cipinang Saat 'Abal-Abal' Mengamuk

    SEBUAH selang air tergantung pada drum besar kusam di blok dapur Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Di bawahnya, api besar tampak menyala. Seorang narapidana (napi) tampak duduk di dekatnya. Dimatikannya air ketika drum hampir terisi penuh. Ternyata, ia sedang menanak nasi. Nasi itulah yang sehari-hari dimakan para napi, ditambah lauk: sayur kol bumbu garam dan sekerat ikan asin atau tempe. Ada juga secuil daging. Itu pun seminggu dua kali. "Dulu, sebelum krisis, uang makan Rp 1.750 per hari. Setelah krisis, saya enggak tahu jadi apa," kata Petru) Hariyanto, Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik, yang pernah mendekam di penjara tersebut sebagai tahanan politik. Saat itu saja, berasnya sudah kualitas terjelek dengan ikan asin dan sayur termurah. Tapi tak cuma soal itu. Hidup penghuni Cipinang makin susah oleh kutipan para sipir. Menurut Anton Medan, yang pernah 18 tahun tinggal di situ, saat ini sekitar 90 persen napi menghuni blok 1 dan 2, tempat napi miskin atau yang dikenal dengan sebutan abal-abal. Mereka tak lagi dikunjungi oleh keluarga dan saudara karena "tak kuasa menanggung beban upeti yang mencekik." Sementara itu, di bui tak ada yang cuma-cuma, bahkan untuk sekadar menitipkan nyawa. Jawara blok alias brengos atau voorman pun menuntut setoran. Praktek nembak (minta paksa) menggejala. Kekerasan meningkat. Padatnya penjara mengharuskan pengelola memindahkan napi ke penjara-penjara lain. Jumlahnya kian besar. Dulu, satu pemindahan biasanya hanya 15-20 napi. Pekan lalu, 50 orang sekali pindah. Namun, pemindahan itu juga memicu jenis kekerasan baru. "Pemindahan napi adalah alat penekan untuk memaksa napi patuh kepada sipir. Namun, kriterianya tidak jelas," kata Petrus, "Alasan yang umum dipakai: merepotkan petugas." Meski padat dan sulit, Cipinang tetap pilihan yang lebih baik dari penjara-penjara lain. Itu sebabnya pemindahan ke penjara lain selalu dianggap sebagai kiamat besar bagi napi. Terlebih bila dipindah ke penjara kelas penjahat berat, yang kejam dan jauh, seperti Nusakambangan. Istri dan keluarga, yang ada di Jakarta, menjadi sulit berkunjung. Itu berarti pula tak ada uang dan makanan. Ditambah cerita tentang kebiasaan para sipir menyiksa napi baru dari Jakarta, penjara baru bisa menjadi siksa dunia dalam arti sebenarnya. "Beredar kisah, orang yang sangar di Cipinang pun akan habis di Nusakambangan," ujar Petrus. Tapi soal semacam itu tak akan terjadi pada napi seperti Ricardo Gelael, pesakitan kasus Goro, di Cipinang. Ketika bui rusuh, Ricardo menyumbangkan 7.000 kardus mi instan dan nasi bungkus. "Untuk petugas dan juga polisi yang sedang bertugas," kata Agiono, napi Cipinang pelindung Ricardo. Pembalap itu juga menyumbangkan rokok untuk para tahanan, dua bungkus seorang. Ini sebuah cara halus membeli keamanan. Bahkan, sehari-hari, Ricardo masih bisa beternak ayam dengan menyewa gudang penjara. Pekerjanya para napi di dalam. Setiap hari, makanan dan pakaian anak pemilik jaringan retail Gelael itu diantar oleh keluarganya. Dunia napi di Cipinang seperti jalinan yang rumit tapi rapuh. Selain mencatat jumlah napi terbanyak, Cipinang mewakili jenis kejahatan paling kompleks, dari maling kampung sampai mafia kelas tinggi. Pengelompokan dan persaingan etnis memperumit hubungan di dalam penjara itu. Ada Kelompok Priok untuk napi Jakarta, Korea untuk napi Medan, ada pula Kelompok Ambon, dan Kelompok Makassar. Namun, dari semuanya, Kelompok Arek, berisi napi asal Surabaya, adalah yang terkuat. Mereka berebut menguasai blok dan fasilitas penjara, termasuk akses pada sipir. Pengaruh kelompok naik-turun karena datang dan perginya napi. "Dengan memiliki kekuasaan, mereka memiliki uang, dan pengaruh," kata Petrus. Slamet Gundul, napi asal Semarang, dikenang sebagai napi yang pernah bisa mengatasi persaingan atau kelompok di Cipinang. Namun, peta berbalik cepat ketika ia dipindahkan. Napi kecil yang lemahlah yang selalu menjadi korban. Cuma, kali ini, mereka melawan. Abal-abal dari blok 1 dan 2 memberontak ketika akan dibawa ke Nusakambangan. Mereka merebut kunci, membuka gembok, menggerakkan kerusuhan, dan membakar Cipinang. Tapi orang tahu, jauh sebelum itu, sebenarnya Lembaga Pemasyarakatan Cipinang sudah lebih dulu menghanguskan jantung para penghuninya yang tak berdaya. Arif A. Kuswardono, Rommy Fibri, Rian Suryalibrata

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal Dunia

Buku

Kekuasaan, Bahasa, dan Kebudayaan Jawa

Catatan Pinggir

Mas Wir

Indonesiana

Tumbal Penunggu Sungai Cibanten

Koleksi Pak Guru Biologi

Ralat

Ralat

Tari

Terbunuhnya Suropati

TEMPO|interaktif

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

Nasional

Grasi untuk Corby, Indonesia Tabrak Konvensi PBB

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

Seni & Hiburan

Ahmad Dhani Bakal Nostalgia Dewa 19

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif