| Meninggal Dunia |
Ahad sore pekan silam menjadi petang terakhir bagi Mashuri Saleh, S.H. Tepat pukul 18.55, di Jalan Karimun 4, Solo, Jawa Tengah, Mashuri berpulang. Tubuhnya tak kuat lagi melawan penyakit hepatitis yang dua tahun telah dideritanya. Pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 19 Juli 1925 ini merupakan salah satu tokoh penting pada awal Orde Baru. Dia pernah menjabat dua posisi menteri, yakni Menteri Penerangan dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Di tangannya muncul keputusan yang ikut mempengaruhi wajah pendidikan di negeri ini. Salah satunya, penerapan matematika baru yang menggantikan pelajaran berhitung di SD dan bidang studi aljabar dan ilmu ukur di bangku sekolah menengah, yang berlaku hingga kini. Namun, keputusan lainnya justru mengundang kontroversi. Penerapan sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) progresif banyak ditentang masyarakat saat itu.
Bagi Mashuri, soal pendidikan bukan hal baru. Dia pernah menjadi guru sekolah menengah di Yogyakarta (1953-1956). Karirnya terus menggelinding di Departemen P dan K hingga mencapai posisi puncak sebagai Dirjen Pendidikan Tinggi (1966), sebelum diangkat menjadi Menteri P dan K.
Seusai menjabat Menteri P dan K, Mashuri menduduki pos Menteri Penerangan. Kebijakannya antara lain melarang impor film asing (1976) dan pada 1973 melarang penampilan musik dangdut dan pemuda gondrong di layar TVRI.
Sejatinya Mashuri adalah sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Namun, ia berkeputusan untuk berkarir di dunia pendidikan setelah perang kemerdekaan usai. Sebelumnya, Mashuri muda bergabung dalam Brigade V Batalyon 55 CSA di bawah Letkol Slamet Riyadi di Solo.
Indonesia kehilangan seorang pendiri Gerakan Pramuka. Selasa pekan lalu, tepatnya pukul 07.30 pagi, Mayjen (Purn.) dr. Abdul Azis Saleh, salah satu aktivis kelompok Petisi 50, meninggal dunia. Ayah kandung Malik Sjahfei Saleh, Komisaris Grup Prambors, ini meninggal pada usia 86 tahun karena kanker usus. Jenazahnya disemayamkan di Jalan Borobudur 18, Jakarta. Sore harinya, pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini dilepas kelima anak dan 13 cucu serta sahabatnya ke peristirahatan terakhir di Taman Pemakaman Umum Tanahkusir, Jakarta.
Dikenal sebagai orang yang ulet, Azis pernah memangku berbagai jabatan di birokrasi, antara lain Menteri Kesehatan periode 1957-1959, Menteri Pertanian tahun 1959-1961, Menteri Perindustrian Rakyat tahun 1961-1965, dan Menteri Koordinator Bidang Perindustrian Rakyat tahun 1965-1966.
Namun, karir awalnya dimulai sebagai seorang dokter tentara pada 1945. Pergelutannya di dunia militer membawa Aziz sebagai Komandan Kodim Boyolali dan Komandan Korem Semarang-Pati tahun 1948-1949, Jawa Tengah. Jabatan Deputi Kepala Staf Angkatan Darat (1951-1952) dan Kepala Direktorat Kesehatan Angkatan Darat (1952-1957) sempat diembannya. Selepas dinas militer dan pensiun pada 1966, ia tetap aktif berorganisasi, antara lain pernah di Persatuan Atletik dan Palang Merah Indonesia.
| Pengangkatan |
Secara aklamasi Musyawarah Nasional XIII, sidang pemilihan pengurus Ikatan Hakim Indonesia (Ikahi) periode 2001-2004, Kamis malam pekan lalu, menetapkan H. Toton Soeprapto, S.H. sebagai ketua umum. Pemilihan yang berlangsung di Bandung itu juga menunjuk empat ketua lain, yakni Prof. Dr. Paulus Effendi Lotulung, Drs. Andi Syamsu Alam, Deliana S. Modjoko, dan Gunawan Soeryono, serta sekretaris umum, Drs. Wilden Suyati.
Tonton, salah satu hakim agung di Mahkamah Agungsedang di Jakarta saat pemilihanmenyatakan kesediaannya memimpin Ikahi setelah ditelepon Wakil Ketua MA, Drs. Taufiq.
Penutupan Munas menyepakati kepengurusan Ikahi terpilih harus mampu menjalankan tugas hakim yang dipercaya masyarakat. Toton berjanji akan memenuhi harapan tersebut seiring dengan tugas yang ia emban.
| Penghargaan |
Universitas Deakin, Australia, yang berada di Geelong, Victoria, memberikan penghargaan kepada Sekretaris Negara Republik Indonesia, Djohan Effendi. Penghargaan berupa The Isi Leibeler Prize diserahkan langsung oleh Rektor Universitas Deakin, Senin pekan ini, di Australia. Universitas Deakin menilai disertasi Djohan sebagai pelopor yang menjembatani kemajuan berpikir kaum muda Indonesia dan punya pengaruh bagus untuk Australia.
Djohan, pria kelahiran Kalimantan Selatan, 61 tahun lalu, memang menulis disertasi doktornya di universitas tersebut. Temanya tentang perkembangan kelompok muda Nahdlatul Ulama. Djohan mengaku senang menerima penghargaan itu. Ada rencana menerbitkan disertasinya? "Saya belum terpikirkan. Nanti saja," kata Djohan singkat.
Hadriani Pudjiarti dan Irfan Budiman
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

