• Home
  • 09 April 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 April 2001
    Farid Essack:

    Sang Maulana Modern dari Afrika Selatan


    DI Afrika Selatan, Farid Esack, 42 tahun, dikenal sebagai seorang maulana. Dengan peci putih di kepalanya, kalangan intelektual negeri itu mengenalnya sebagai seorang doktor dan peneliti yang aktif memperjuangkan kesederajatan gender, toleransi rasial, dan juga kebebasan beragama.

    Sikap ini sudah lahir di dalam tubuhnya karena sebuah lingkungan dan masa kecil yang sulit. Esack lahir dari seorang ibu yang ditinggal suaminya bersama lima orang anak lainnya di Wynberg. Namun, akibat sistem apartheid, dia terpaksa tumbuh di Bonteheuwel, di kawasan pekerja miskin untuk orang hitam dan kulit berwarna.

    Penderitaan di sekelilingnya membentuk seorang Esack. Dia berkeyakinan bahwa Tuhan pasti adil dan berpihak kepada kaum tertindas. Itu pula yang membuatnya mengidolakan Abu Dharr al-Ghifari, bapak sosialisme Islam. Karena ingin sederhana, Esack tidak ingin naik pesawat dengan kelas bisnis—aturan yang tidak memaksa bagi aktivis Commission on Gender Equality.

    Esack mendapatkan pendidikan teologi di Pakistan selama sembilan tahun. Setelah kembali ke Afrika Selatan pada 1982, Esack langsung membentuk organisasi Call of Islam. Pada 1990, dia meninggalkan negerinya lagi untuk belajar hermeneutika Quran di Inggris dan hermeneutika Injil di Jerman. Setelah itu, Esack aktif di Commission on Gender Equality.

    Esack telah menghasilkan beberapa buku, di antaranya On Being Moslem dan Qur'an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut ini petikan wawancara Purwani Diyah Prabandari dari TEMPO dengan Maulana Farid Esack tentang bukunya ketika ia berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu.

    Bagaimana awal keterlibatan Anda dengan kelompok muslim dalam gerakan pembebasan di Afrika Selatan?

    Kebangkitan masyarakat urban di Afrika Selatan dimulai sekitar tahun 1986.

    Saat itu adalah kebangkitan umat Islam di Afrika Selatan. Salah satu organisasi politik yang besar, Organisasi Rakyat Afrika (APO), dari 1910 hingga 1944 terus dipimpin seorang muslim, Dr. Abdullah Abdurahman, yang kebetulan cucu seorang budak. Satu dasawarsa berikutnya, muncul Kongres Nasional Afrika (ANC). Yang menarik, APO pecah dalam dua kelompok yang mendukung orang kulit putih dalam arti apartheid yang merepresi orang hitam beragama Kristen dan mereka yang berjuang demi kebebasan.

    Bagaimana dengan peran kelompok nonmuslim?

    Orang-orang yang beragama lain jelas memainkan peran sangat penting. Saya mengatakan, secara proporsional, muslim memainkan peran penting karena jumlah kami kecil. Namun, ada masalah lain. Hingga 1970-an, hampir semua gereja mendukung apartheid. Gereja di wilayah orang kulit putih hanya melayani orang kulit putih. Gereja untuk orang kulit hitam dan berwarna terpisah. Tapi pada 1970-an itu juga kemudian ada gerakan yang sangat besar dalam teologi, sebuah teologi pembebasan yang memainkan peran penting dalam pembebasan di negeri kami.

    Bagaimana respons mayoritas orang Kristen dengan peran muslim yang begitu besar? Apakah mereka curiga?

    Tidak sama sekali. Kami tidak memburu agenda muslim sendiri. Kebebasan negara kami sangat penting bagi kami semua. Kami merupakan bagian dari perjuangan kebebasan tersebut karena kami muslim. Bukan untuk muslim.

    Bagaimana dengan pendapat sebagian muslim bahwa sebaiknya memiliki pemimpin muslim seperti Anda tulis di buku?

    Kami prihatin dengan cara pandang yang naif. Orang sering lebih memperhatikan label daripada isi label. Masalah lainnya adalah problem sosial dan ekonomi, sementara orang menggunakan agama. Agama, apa pun itu, sering didefinisikan dengan kata-kata surga, Tuhan, atau apa pun. Menurut saya, agama adalah fenomena sosiologis. Ketika orang tidak bisa menemukan penjelasan mengenai sesuatu, mereka segera lari ke agama. Ketika kita menderita, kita bilang itu hukuman dari Tuhan.

    Sebenarnya bagaimana konsep pembebasan dalam Islam?

    Kita semua diciptakan untuk melayani Tuhan. Jadi, manusia harus dibebaskan dari semua halangan untuk melayani Tuhan, termasuk dibebaskan dari pemerintahan yang keji atau dari kelaparan.

    Apa yang Anda maksud dengan melayani Tuhan?

    Ada hadis yang menyebutkan "manusia adalah keluarga Tuhan." Jadi, ketika seseorang melayani Tuhan, itu bisa dalam dua arti, yaitu dalam arti ibadah langsung dan melayani Tuhan dalam arti melayani annas atau manusia, yang juga keluarga Tuhan. Kita tidak bisa mengatakan saya melayani Tuhan dan Allah hingga buta terhadap mereka yang menderita di sekeliling kita.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Solidaritas Agama Melawan Penindasan

Farid Essack:

Sang Maulana Modern dari Afrika Selatan

Catatan Pinggir

Wu-Xia

Indonesiana

Indonesiana

Ralat

Ralat

Seni Rupa

Menghirup (Dunia) yang Kosong

TEMPO|interaktif

Bisnis

Elpiji Bersubsidi Langka Diduga karena Dioplos

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

Nasional

Grasi untuk Corby, Indonesia Tabrak Konvensi PBB

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

Metro

Reka Ulang Kasus Geng Motor, Siapa Pembunuh Ismail - Anggi Belum Jelas

Nasional

Polisi dan BIN Usut Penyerang Anas-Ibas

Nasional

Grasi Corby, Kekalahan Politik Diplomasi Indonesia

Seni & Hiburan

Konser Lady Gaga, Pengelola GBK Tolak Tanggapi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif