DI Afrika Selatan, Farid Esack, 42 tahun, dikenal sebagai seorang maulana. Dengan peci putih di kepalanya, kalangan intelektual negeri itu mengenalnya sebagai seorang doktor dan peneliti yang aktif memperjuangkan kesederajatan gender, toleransi rasial, dan juga kebebasan beragama.
Sikap ini sudah lahir di dalam tubuhnya karena sebuah lingkungan dan masa kecil yang sulit. Esack lahir dari seorang ibu yang ditinggal suaminya bersama lima orang anak lainnya di Wynberg. Namun, akibat sistem apartheid, dia terpaksa tumbuh di Bonteheuwel, di kawasan pekerja miskin untuk orang hitam dan kulit berwarna.
Penderitaan di sekelilingnya membentuk seorang Esack. Dia berkeyakinan bahwa Tuhan pasti adil dan berpihak kepada kaum tertindas. Itu pula yang membuatnya mengidolakan Abu Dharr al-Ghifari, bapak sosialisme Islam. Karena ingin sederhana, Esack tidak ingin naik pesawat dengan kelas bisnisaturan yang tidak memaksa bagi aktivis Commission on Gender Equality.
Esack mendapatkan pendidikan teologi di Pakistan selama sembilan tahun. Setelah kembali ke Afrika Selatan pada 1982, Esack langsung membentuk organisasi Call of Islam. Pada 1990, dia meninggalkan negerinya lagi untuk belajar hermeneutika Quran di Inggris dan hermeneutika Injil di Jerman. Setelah itu, Esack aktif di Commission on Gender Equality.
Esack telah menghasilkan beberapa buku, di antaranya On Being Moslem dan Qur'an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against Oppression, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berikut ini petikan wawancara Purwani Diyah Prabandari dari TEMPO dengan Maulana Farid Esack tentang bukunya ketika ia berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu.
Bagaimana awal keterlibatan Anda dengan kelompok muslim dalam gerakan pembebasan di Afrika Selatan? Bagaimana dengan peran kelompok nonmuslim? Bagaimana respons mayoritas orang Kristen dengan peran muslim yang begitu besar? Apakah mereka curiga? Bagaimana dengan pendapat sebagian muslim bahwa sebaiknya memiliki pemimpin muslim seperti Anda tulis di buku? Apa yang Anda maksud dengan melayani Tuhan?Kebangkitan masyarakat urban di Afrika Selatan dimulai sekitar tahun 1986.
Saat itu adalah kebangkitan umat Islam di Afrika Selatan. Salah satu organisasi politik yang besar, Organisasi Rakyat Afrika (APO), dari 1910 hingga 1944 terus dipimpin seorang muslim, Dr. Abdullah Abdurahman, yang kebetulan cucu seorang budak. Satu dasawarsa berikutnya, muncul Kongres Nasional Afrika (ANC). Yang menarik, APO pecah dalam dua kelompok yang mendukung orang kulit putih dalam arti apartheid yang merepresi orang hitam beragama Kristen dan mereka yang berjuang demi kebebasan.
Orang-orang yang beragama lain jelas memainkan peran sangat penting. Saya mengatakan, secara proporsional, muslim memainkan peran penting karena jumlah kami kecil. Namun, ada masalah lain. Hingga 1970-an, hampir semua gereja mendukung apartheid. Gereja di wilayah orang kulit putih hanya melayani orang kulit putih. Gereja untuk orang kulit hitam dan berwarna terpisah. Tapi pada 1970-an itu juga kemudian ada gerakan yang sangat besar dalam teologi, sebuah teologi pembebasan yang memainkan peran penting dalam pembebasan di negeri kami.
Tidak sama sekali. Kami tidak memburu agenda muslim sendiri. Kebebasan negara kami sangat penting bagi kami semua. Kami merupakan bagian dari perjuangan kebebasan tersebut karena kami muslim. Bukan untuk muslim.
Kami prihatin dengan cara pandang yang naif. Orang sering lebih memperhatikan label daripada isi label. Masalah lainnya adalah problem sosial dan ekonomi, sementara orang menggunakan agama. Agama, apa pun itu, sering didefinisikan dengan kata-kata surga, Tuhan, atau apa pun. Menurut saya, agama adalah fenomena sosiologis. Ketika orang tidak bisa menemukan penjelasan mengenai sesuatu, mereka segera lari ke agama. Ketika kita menderita, kita bilang itu hukuman dari Tuhan.
Sebenarnya bagaimana konsep pembebasan dalam Islam?
Kita semua diciptakan untuk melayani Tuhan. Jadi, manusia harus dibebaskan dari semua halangan untuk melayani Tuhan, termasuk dibebaskan dari pemerintahan yang keji atau dari kelaparan.
Ada hadis yang menyebutkan "manusia adalah keluarga Tuhan." Jadi, ketika seseorang melayani Tuhan, itu bisa dalam dua arti, yaitu dalam arti ibadah langsung dan melayani Tuhan dalam arti melayani annas atau manusia, yang juga keluarga Tuhan. Kita tidak bisa mengatakan saya melayani Tuhan dan Allah hingga buta terhadap mereka yang menderita di sekeliling kita.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

