Dengan freon versi hidro, menurut Toto, ia hanya butuh 2,5 kilogram untuk jangka waktu dua setengah tahun. Bahan sebanyak itu digunakan untuk bak pendingin seukuran 5 ton susu yang terkemas dalam tabung lima literan. Sedangkan dengan freon lama, yakni Refrigent ® 134 A, dengan kapasitas bak pendingin yang sama, diperlukan 5 kilogram untuk waktu dua tahun.
Penggunaan freon baru juga mengirit biaya listrik. Dulu, setiap bulannya ia mengeluarkan ongkos sekitar Rp 2 juta untuk penggunaan listrik. Setelah memanfaatkan freon baru, biaya listrik bisa dihemat sekitar 15 persen sehingga menjadi Rp 1,7 juta.
Lagi pula, dengan freon baru, ternyata mesin kompresor pendingin bisa menghasilkan suhu dingin yang diinginkan dalam waktu empat jam. Sedangkan dengan freon lama, pencapaian suhu dingin tersebut bisa memerlukan waktu sampai enam jam. "Dengan freon lama, mesin kompresor seperti dapat beban berat," ujar Toto.
Lebih dari itu, Toto membenarkan bahwa freon hidro lebih ramah lingkungan ketimbang freon lama. Hal itu terbukti dengan tiadanya lagi asap atau bau gas apa pun di sekitar pabrik susunya. "Ibaratnya, kita menggunakan kompor gas dibandingkan dengan sebelumnya menggunakan kompor minyak tanah," tuturnya.
Toto dan KUD Sinar Jaya cuma satu dari banyak KUD lainnya yang juga telah menggunakan freon hidro. Freon HCR12 + LFS ini merupakan hasil penelitian Dr. Aryadi Suwono di Jurusan Geotermal ITB. Lewat proses penelitian yang cukup lama, Aryadi, dibantu beberapa koleganya dari Jurusan Teknik Mesin dan Laboratorium Ilmu Rekayasa ITB, menyempurnakan hasil penelitian freon hidro pada tahun 1999.
Sebelumnya, Aryadi menemukan R134A, yang juga merupakan hasil penyempurnaan dari penemuan refrigen terdahulu. Sebagaimana ramai diberitakan pada 1992, freon sebagai bahan pendingin ruangan, mobil (untuk air conditioner atau AC), dan kulkas sudah diharamkan. Itu karena freon mengandung klorin dan florin, yang dituding sebagai salah satu sumber efek rumah kaca dan merusak lapisan ozon sehingga bisa menyebabkan pemanasan global.
Karena itu, pemerintah melarang produksi dan penggunaan freon generasi pertama, yakni R12 dan R22. Memang, teori efek rumah kaca dan lubang ozon sempat ditentang oleh Nig Cader dari Inggris. Melalui buku The Manic Sun, pada tahun 1997, Cader menyatakan bahwa pemanasan global bukan lantaran aktivitas manusia ataupun industri, melainkan lebih karena ulah matahari.
Lepas dari polemik teori rumah kaca, Aryadi di Bandung terus mengupayakan refrigen yang ramah lingkungan. Sayang, R134A pun ternyata kurang ramah lingkungan. Itu lantaran refrigen tersebut masih mengakibatkan efek rumah kaca dan gampang terbakar bila dipakai. Ironisnya, R134A masih digunakan di beberapa pabrik susu dan peternakan sapi.
Sementara itu, upaya Aryadi untuk menghasilkan Freon HCR12 + LFS terus dilakukan. Proyek penelitiannya tetap didukung dana dari Montreal Protocol Fund, yang beranggotakan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan Jepang. Akhirnya, diperoleh komposisi cairan freon yang paling efektif dengan membubuhkan cairan hidrokarbon yang bisa mereduksi dampak buruk dari klorin dan florin.
Menurut Aryadi, freon baru versi hidro ini selain diyakini bersifat ramah lingkungan juga bisa lebih efisien ketimbang freon lama. Namun, penggunaan freon baru ini di Indonesia masih terbatas. Malah, kabarnya Aryadi telah menjual lisensi penemuan freon hidro ke sebuah perusahaan di Singapura, yang akan memasarkan bahan itu ke Malaysia.
Tapi, benarkah Freon HCR 12 + LFS, yang juga masih mengandung freon itu, tidak berbahaya jika digunakan lebih luas, misalnya untuk AC mobil ataupun kulkas? Yang pasti, Toto Supriyatna hanya mengeluhkan mahalnya harga freon baru ini, yakni Rp 350 ribu per tabung berukuran 5 kilogram atau sepuluh kali lipat dari harga freon lama. Selain itu, tutur Toto, freon baru juga masih langka di pasaran.
Hps., Agus S. Riyanto, Upiek S. (Bandung)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

