| ||
Kita menghirup "kosong yang tidak kosong" dalam pameran lukisan Rusli di Galeri Lontar, Jakarta (20 Maret-19 Mei 2001), yang mengetengahkan sejumlah besar karyanya yang berharga, bertarikh 1955-1992, yang diberi judul Haiku dalam Warna dan Garis. Inilah pameran yang menampilkan keajekan pandangan Rusli dan sebagian besar tema utama yang pernah dikerjakannya dalam seni lukis. Pelukis senior iniia tak pernah peduli dengan tahun kelahirannya, 1916 atau 1922karena usia lanjut kini mengalami hambatan untuk bisa memaknai yang kosong.
Kita menyaksikan serangkaian karyanya rapat berjejer, dilukis di atas kertas putih seukuran kartu pos dengan cat air yang menampakkan warnanya yang sedikit tapi tetap cemerlang: perempuan, taman, pepohonan, pura, binatang, dan perahu-perahu, lalu kembali lagi ke obyek-obyek yang sama, dan seterusnya. Sosok yang dilukis Rusli umumnya dapat kita kenali sebagai perempuan, mengisi pemandangan atau suasana lengang, digubah dengan sapuan atau coretan tipis menghablur, berada di tengah taman atau di antara beberapa sapuan tegak yang mengesankan pohon. Sosok perempuan ternyata pernah dilukis terang-terangan dengan nada sensual, terdiri dari beberapa garis lengkung seperti kelinci, seperti dalam gubahan sketsa hitam-putih berjudul Nude (1978), menopang cap jempol warna merah yang mengisi keseimbangan bidang kosong yang ditinggalkannya. Atau, tarian garis bercitra kaligrafis yang spontan seperti dalam Figur (1976). Tapi, sosok pada umumnya dalam lukisan Rusli hanya ditampilkan kecil dan samar saja, tegak, penuh vitalitas, berbaur di antara berbagai obyek yang terbentuk oleh tumpukan sapuan pendek dan noktah tebal. Di situlah kita melihat pemandangan pelabuhan, kota, gereja, bunga, upacara di pura, rangda, dan babi dalam lukisan Rusli.
Tak banyak sebenarnya obyek kesenangan Rusli. Di antara yang sedikit itu, Rusli menggubah obyek perahu hampir sepanjang perjalanan seni lukisnya. Lihatlah, ia seakan hanya mondar-mandir di antara pemandangan di sekitar gunung dan pelabuhan untuk melihat susunan pohon dan perahu. Tapi, ia selalu bersemangat melukis kedua tema itu dengan cara yang menghindari stereotip. Misalnya, tema perahu yang dilukisnya dengan lebih dari satu gaya perwujudan atau kecenderungan.
Dalam pameran ini, kita disuguhi serangkaian lukisan dengan tema perahu dari dasawarsa 1970 yang kuat, seri lukisan Pelabuhan Semarang (1 sampai 5) yang dipajang berdekatan. Rasa kekosongan itu berbeda-beda pada setiap lukisan perahu Rusli: garis-garis tebal yang memecah atau seakan dalam proses pembentukan terkadang mirip susunan monogram atau tulisan kaligrafi (misalnya dalam Pelabuhan Semarang 5, 1970), atau perahu-perahu yang basah dan lebih figuratif, tenang, sunyi mengapung (Pelabuhan Semarang 3, 1970). Bidang kosong kanvas yang tak tersentuh warna apa pun itulah yang membuat lukisan Rusli menyiratkan kejernihan, kelengangan, penyerapan, dan keseimbangan yang luas.
Dalam lukisan Gereja di Roma (1955), Rusli sudah mencoba susunan garis patah bertumpuk, seperti susunan bidang dalam permainan tetris. Terkadang, bidang kosong itu juga terasa seperti lapisan kabut tipis yang turun bergayut di permukaan semua obyeknya. Sifat ini memang mendekatkan karya Rusli pada seni lukis klasik Cina. Rusli, dengan kecenderungan puitis seperti itu, menaklukkan medium cat minyak seperti bekerja dengan cat air, medium yang semenjak awal ikut membentuk dasar utama seni lukis Rusli dan menjadikannya pelukis cat air yang piawai. Pameran inimenampilkan karya-karya yang dipilih sendiri oleh Rusliseakan menegaskan bahwa garis, titik, sapuan, dan pilihan warna serta kesederhanaan medium adalah bagian dari esensi seni yang terus dicari.
Yang masih dapat dikatakan "hemat" dalam beberapa lukisan Rusli sebenarnya tidaklah selalu dalam pengertian penjumlahan keseluruhan unsur. Lihatlah, misalnya, tema-tema pelukisan upacara di Bali atau juga perahu-perahunya. Noktah-noktah berkerumun, atau garis-garis kecil bertumpukan dan berdesakan, diulang-ulang, bergerombol seperti gerumbul semak atau bunga mekar di bawah langit lapang. Terkadang warna monokrom juga bertumpuk tidak rata, menebal. Tentunya semua ini tidak mengesankan bahwa Rusli selalu hemat. Tapi, pada lukisan Rusli, elemen itu bukan menjadi ornamen atau hiasan, melainkan sesuatu yang organis, hidup, atau vital. Keindahan bukanlah sesuatu yang berasal dari "luar" yang ingin ditambahkan oleh Rusli sehingga menjadikan obyeknya dapat dikenali melalui berbagai atributnya. Keindahan yang ditambahkan semacam itu agaknya tidak penting. Dalam sejumlah lukisan yang terasa "penuh", Rusli mengorganisasikan unsur-unsur seni lukisnya seperti sebuah perayaan terhadap kekosongan: yang ada merupakan sebuah perayaan terhadap ketiadaan yang menopangnya, bukan untuk melenyapkannya. Yang kosong menghirup dan dihirup.
Yang kosong dalam lukisan Rusli juga energi kosmis. Kita dapat membaca pernyataan Rusli mengenai proses melukis yang mengendapkan terlebih dulu semua yang ingin dilukis, sehingga ia merasakannya sebagai hidup. Maka, kita juga mengenali kesatuan antara yang hidup dan yang tidak hidup dalam lukisan Rusli: sosok-sosok yang bentuknya membaur di sebuah upacara ngaben atau odalan di pura, seperti bagian dari apa yang dipersembahkan. Kapal dan pelabuhan seperti sosok dan bayangan, atau air dan awan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan.
Dalam lukisan Rusli, keseimbangan dan irama menjadi kunci keindahan yang diyakininya, yang sejajar dengan pandangan atau filsafat hidupnya. Pandangan hidupnya tak dapat dipisahkan dengan pandangan seninya. Karyanya, karena itu, tak dapat dipisahkan juga dengan tindakan dan keputusan yang diambilnya dalam hidup nyata.
Pameran ini sesungguhnya menampilkan perjalanan seni lukis Rusli sepanjang hampir setengah abad. Sayang, pengantar dalam pameran ini tidak cukup lengkap menampilkan pembahasan mengenai apa yang dikerjakan oleh seni lukis Rusli sepanjang masa itu. Abstraksi dalam lukisan Rusli mencirikan sebuah kecenderungan yang berbeda dengan gaya pelukisan nonfiguratif yang muncul pada sekitar 1960-an. Kendati mengagumi sejumlah pelukis modernis Eropa yang dianggapnya besar, agaknya filosofi seni Rusli sudah terbentuk ketika ia belajar seni lukis di Kala Bhavana, Shantiniketan, India. Kendati terkadang terasa pelukis ini seolah menggubah unsur-unsur formal dalam lukisan, ia tidak pernah membelokkannya menjadi kecenderungan formalisme. Di dalam karyanya, selalu ada unsur yang mengaitkan karya itu dengan kehidupan.
Pandangan Rusli mencarikan atau mencari esensi kehidupan melalui jalan keseimbangan terhadap alam dengan mengasah kepekaan intuisi. Di situlah, di Universitas Rabindranath Tagoretempat ia belajar (1932-1938) ia memutuskan menjadi pelukis seumur hidupnya dan menempuh risiko apa pun untuk mengembangkan seni lukisnya. Bukankah Tagore pernah mengatakan bahwa seni adalah tamu yang menetap, dan ia tak mau pergi kalau sudah telanjur menetap?
Hendro Wiyanto
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

