• Home
  • 25 Juni 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 25 Juni 2001

    Primadona yang Sulit Diambil

    Banyak tersedia, tapi sulit didapat. Gambaran itu pas buat produksi gas di Indonesia. Cadangan gas Indonesia tak kurang dari 158,3 triliun kaki kubik. Dari seluruh cadangan itu, 92,5 triliun kaki kubik di antaranya adalah cadangan yang terbukti lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan gas nasional selama 50 tahun nonstop. Yang menggembirakan, kegiatan eksplorasi tiga tahun terakhir menambah lagi cadangan sebesar 4 triliun kaki kubik. Angka itu belum termasuk beberapa lapangan yang sedang dieksplorasi di Selat Makassar, Jawa Timur, dan Papua. Dibandingkan dengan negara lain, rasio penemuan cadangan gas di Indonesia, yang 42 persen, tergolong besar. Di negara lain, angkanya malah turun tinggal 10 persen. Sementara itu, konsumsi nasional kini mencapai 650 miliar kaki kubik setahun, dengan pertumbuhan 9 persen per tahun. Tak mengherankan jika Pertamina menganggap bisnis gas adalah primadona berikutnya setelah masa keemasan minyak bumi akan berlalu tak lebih dari 15 tahun lagi. Cuma, kenapa ancaman kelangkaan itu malah sudah akan terjadi 3-4 tahun lagi ? Pertaminya punya masalahnya sendiri. Buat kontraktor, mengekspor gas dalam bentuk LNG (gas alam cair) jelas lebih menguntungkan karena harganya tak pernah turun dari US$ 3 per mmbtu. Bandingkan dengan melayani kebutuhan dalam negeri. Kebijakan insentif gas domestik (IGD) menyebabkan harga jual gas ke beberapa sektor amat rendah. Tahun lalu, PLN membeli rata-rata US$ 2 per mmbtu, pabrik pupuk cuma membeli US$ 1-2 per mmbtu, bahkan pabrik plywood hanya US$ 0,49 per mmbtu. Perbedaan harga itu pula yang jadi bagian alot dalam perundingan antara BP-Kangean dan Pertamina, yang meminta tambahan untuk harga US$ 1,68 per mmbtu. Bukan cuma faktor ekonomi, ketakutan Pertamina terhadap tudingan kolusi dalam perpanjangan kontrak jangka panjang sekarang jadi masalah. Tertundanya produksi Lapangan Gas Terangsirasun bisa menjadi contohnya. Perencanaan pembangunan pembangkit listrik juga jadi salah satu faktor yang memunculkan shortage. Paiton Swasta I dan II di Jawa Timur ternyata akan menyebabkan oversupply listrik hingga tahun 2003. Bahkan PLTGU Grati perlu dimatikan dulu agar daya Paiton bisa dipakai. Tapi, setelah lewat 2-3 tahun, yang terjadi malah kelangkaan listrik karena 25 proyek lain sedang direnegosiasi oleh PLN?dengan berbagai alasan?hingga tertunda produksi dayanya. Faktor lain yang menyebabkan tersendatnya pasokan gas adalah gangguan keamanan?seperti yang dialami Lapangan Arun di Aceh. Sedangkan faktor teknologi juga punya andil yang tak kecil. Contohnya yang terjadi di Natuna Timur. Karena kesulitan teknologi, kawasan itu baru bisa dieksplorasi 10 tahun lagi. IG.G. Maha Adi

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Halal tapi Belum Laku

Album

Duta Besar

Guru Besar

Buku

Kisah Manusia Politik Pembuangan

Catatan Pinggir

Syariah

Indonesiana

Tragedi Burung Aliong

Cari Untung Sapi Diracun

Tari

Putri Tidur Versi Karine Saporta

TEMPO|interaktif

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

Nasional

Serangan Anas-Ibas Bukti Demokrat Rentan Konflik

Metro

Mulai Senin, Ada Pengalihan Lalu Lintas di Kuningan

Bisnis

Elpiji Bersubsidi Langka Diduga karena Dioplos

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

Nasional

Grasi untuk Corby, Indonesia Tabrak Konvensi PBB

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif