• Home
  • 16 Juli 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juli 2001

    Cari Kiblat Cara Kudus

    BANYAK jalan menuju Ka'bah. Juga banyak cara untuk mengetahui kiblat, pusat arah salat umat Islam sedunia, ya Ka'bah di Kota Mekah itu. Dari Jakarta, arah kiblat berada pada sudut 295 derajat lebih. Cara yang paling umum untuk mengetahui arah kiblat adalah dengan menggunakan kompas. Karena kompas tak otomatis menunjukkan arah kiblat, orang harus mengetahui posisi sudut arah kiblat. Itu tak masalah. Belakangan ini banyak sajadah yang sudah dilengkapi dengan kompas yang langsung menunjukkan arah kiblat. Dan tanpa kompas, orang juga dengan mudah bisa mengetahui kiblat. Di Indonesia, masjid model Muhammadiyah biasanya memasang rambu arah kiblat berupa tanda panah atau garis saf untuk merapikan barisan jemaah dalam salat. Namun, di luar situasi normal itu, sebetulnya ada dua hari istimewa sepanjang tahun, yakni saat posisi matahari tepat berada di atas Ka'bah. Tahun ini, menurut Almanak Menara Kudus, kedua hari itu jatuh pada 28 Mei dan 15 Juli. Dalam dua hari itu, posisi matahari di Indonesia pada hari yang sama sekitar pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat berada pada kemiringan sudut yang mengarah ke Ka'bah. Itulah saat yang tepat untuk menyesuaikan perangkat penunjuk kiblat yang konvensional ke arah Ka'bah secara akurat. Tak usah bingung. Ada cara sederhana yang bisa dipakai untuk menepatkan secara ilmiah arah kiblat, yaitu dengan melihat bayangan benda di bumi. Apakah cara itu berdasar? "Perhitungan itu memiliki dasar ilmiah," kata Sirrilwafa, dosen Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Jakarta dan ahli falak. Menurut Sirrilwafa, dalam peredarannya di atas khatulistiwa, matahari memiliki garis edar pada kisaran 23ý derajat. Posisi Ka'bah sendiri secara geografis berada pada titik 21 derajat 25 menit. "Jadi, memang, dalam perjalanannya, matahari akan melewati Ka'bah sebanyak dua kali," kata Sirrilwafa. Pendapat Sirril itu dibenarkan Dr. Moedji Raharto, Kepala Observatorium Bosscha, Lembang, Jawa Barat. Bahkan, menurut Moedji, hasil penentuan arah kiblat melalui bayang-bayang benda yang ditimbulkan sinar matahari pada dua tanggal tersebut akan lebih akurat dibandingkan dengan melalui petunjuk kompas. "Kompas banyak dipengaruhi medan magnet, bahkan arus listrik yang kuat, di wilayah setempat," kata Moedji. Apakah cara itu hanya dipakai di Indonesia? Momentum matahari persis berada di atas Ka'bah itu, menurut Moedji, bisa dipakai untuk menepatkan arah kiblat di berbagai negara yang berada di zenit 90 derajat antara matahari dan Ka'bah. Contohnya Malaysia dan Filipina. Di Indonesia, sebagian masyarakat muslim telah lama mengenal cara itu. Salah satu indikasinya, ya, Almanak Menara Kudus itu. Kalender itu dibuat K.H. Turaichan Adjhuri Es-Syarofi, ulama dan ahli falak dari Kota Kudus, Jawa Tengah. Pernah nyantri di pesantren K.H. Abdul Djalil Hamid di Kudus, Kiai Turaichan, yang meninggal pada 1999 pada usia 86 tahun, menguasai ilmu ukur, ilmu fikih, dan ilmu bahasa Arab. Tak aneh, selama 1980-1990, Turaichan menjadi anggota Lajnah Falaqiyah (Panitia Kefalakan) di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Badan Rukyat dan Hisab Nasional. Ia memang aktif di NU dan pernah menjadi penasihat Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah. Selama hidupnya, Turaichan setiap malam menyampaikan pengajian di Masjid Langgar Dalem, peninggalan Sunan Kudus. Sebagai ahli falak, Kiai Turaichan, menurut K.H. Choirozyad, anak sulungnya, sangat produktif menyusun penanggalan. Lima tahun menjelang wafat, Turaichan masih mampu menyusun penanggalan untuk lima tahun ke depan. Sebelum meninggal dunia, ia telah mewariskan ilmunya ke Sirrilwafa T.A., anaknya yang kini dosen di IAIN itu. Kalender Kiai Turaichan diterbitkan pertama kali oleh Percetakan Masykuri Kudus pada 1942 dan kemudian, sejak 1950 hingga kini, diterbitkan oleh Percetakan Kitab Menara Kudus. Walau telah meninggal, Turaichan masih disebut dalam kalender itu sebagai penyusunnya. Karyanya memang abadi. KMN, Bandelan Amarudin (Kudus), Agus Hidayat, Rinny Srihartini (Bandung)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Cari Kiblat Cara Kudus

Album

Sakit

Pelantikan

Buku

Indonesia, Orde Baru, dan Pasca-Soeharto

Donald Emmerson: "Saya Pesimistis dalam Soal Kepemimpinan Indonesia"

Catatan Pinggir

Dunia

Indonesiana

LSM Melawan Tikus

Selingkuh Saling Silang

TEMPO|interaktif

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

Nasional

Serangan Anas-Ibas Bukti Demokrat Rentan Konflik

Metro

Mulai Senin, Ada Pengalihan Lalu Lintas di Kuningan

Bisnis

Elpiji Bersubsidi Langka Diduga karena Dioplos

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

Nasional

Grasi untuk Corby, Indonesia Tabrak Konvensi PBB

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

Nasional

Kelompok Siapa yang Usir Anas - Ibas di Ternate?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif