• Home
  • 16 Juli 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 Juli 2001

    Donald Emmerson: "Saya Pesimistis dalam Soal Kepemimpinan Indonesia"

    Seperti apakah Indonesia di masa yang akan datang? Donald Emmerson, salah satu pengamat masalah Indonesia seangkatan Ben Anderson dan James Siegel, bahkan menyempatkan diri "terjun" sebagai anggota pemantau dalam jajak pendapat di Timor Timur. Hasil pengalaman itu dituliskan dalam salah satu penelitian Emmerson beserta sembilan peneliti lain dalam buku ini. Buku yang menghadirkan pengamatan tentang Indonesia pasca-Soeharto ini sudah meluncur dalam edisi bahasa Inggris setahun silam, dan beberapa waktu lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan beberapa tambahan tulisan baru karya Emmerson sendiri. Berikut adalah petikan wawancara Ignatius Haryanto dengan Donald Emmerson, 60 tahun, yang berkunjung ke Indonesia untuk acara peluncuran bukunya beberapa waktu silam
    Apa yang ingin Anda sampaikan dengan buku ini? Hendaknya buku ini diletakkan dalam konteks sejarah. Ini adalah upaya untuk memahami masa pancaroba yang terjadi sejak 1998. Kita mengetahui bahwa sejak Mei 1998, Orde Baru secara formal tidak ada lagi, dan itu merupakan perubahan besar. Namun, tak banyak orang bisa menyadari apa Orde Baru itu dan bagaimana kita bisa belajar darinya. Karena itu, dalam buku yang saya sunting berjudul Indonesia Beyond Soeharto ini, saya mengundang sembilan orang kolega untuk menyumbang tulisan mengenai berbagai aspek Orde Baru, antara lain dari segi ekonomi, politik, dan budaya. Tidak semua hal tentang Orde Baru itu jelek. Misalnya, yang ditulis oleh Victoria Hooker tentang kebudayaan atau ekspresi pada masa Orde Baru justru sangat memikat, dan pada zaman yang dibayangkan orang sebagai zaman yang menakutkan, sunyi, dan beku itu justru tampil orang seperti Emha Ainun Najib, yang berkreasi dengan baik. Bagaimana buku ini bersikap pada Orde Baru? Buku ini mungkin bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dua polarisasi dalam sejarah: Orde Baru sebagai setan atau Orde Baru sebagai malaikat. Alangkah baiknya jika buku ini dibaca oleh generasi muda yang ingin tahu lebih jauh tentang negaranya. Sebab, bagaimanapun, Orde Baru adalah bagian dari sejarah Indonesia juga. Minimal, buku ini ditulis untuk tidak segera melompat pada kesimpulan bahwa Orde Baru itu seratus persen jelek atau sebaliknya seratus persen bagus. Contoh lain dari buku ini dari segi politik, Bill Liddle, Michael Maley, ataupun Robert Cribb menekankan bahwa kita perlu menganalisis secara obyektif apakah yang terjadi dalam bidang politik pada tahun 1950-an adalah eksperimen demokrasi yang gagal. Kalaupun gagal, dengan sendirinya, kalau saya orang Indonesia, saya ingin mengetahui mengapa gagal. Tanpa kita mengetahui apa sebab dan alasan kegagalannya, mana bisa kita membuat eksperimen demokrasi yang berhasil. Di dalam terjemahan buku ini, kepada pembaca kini disajikan dua bab tambahan yang tidak tercantum dalam edisi asli bahasa Inggris. Kenapa? Saya mengikuti jajak pendapat di Timor Timur sebagai salah satu anggota pemantau pemilu dari Carter Centre. Dan kami terpaksa meninggalkan Timor Timur karena keadaan sangat membahayakan pada September 1999 itu. Lalu, saya segera menyelesaikan bab tentang Timor Timur. Sedangkan bab terakhir, Apakah Indonesia Bisa Bertahan?, itu sebenarnya ditulis sebelum peristiwa ini. Jadi, sebenarnya saya terakhir menulisnya pada September 1999. Bagaimana perkembangan Indonesia di masa mendatang menurut Anda? Apakah kita bisa optimistis? Janganlah kita menjelekkan konflik itu an sich. Konflik itu memang perlu, sangat perlu. Tanpa konflik dalam arti perdebatan, mana bisa kita membandingkan calon kebijakan. Ini salah satu tugas DPR, MPR, dan masyarakat sendiri lewat pers. Memang ada konflik di Indonesia-seperti di Ambon atau Kalimantan-yang sangat merusak dan sangat sulit diselesaikan dalam waktu singkat. Keamanan di sini dibutuhkan untuk kemudian kita bicara demokrasi. Dalam jangka waktu panjang, saya optimistis dengan kondisi di Indonesia. Namun, dalam jangka waktu pendek, saya pesimistis dalam soal kepemimpinan Indonesia, yang belum diurus betul. Selama masih ada kekaburan tentang pemimpin negara dengan berbagai macam skenario ini, tentu akan berdampak pada ekonomi juga. Siapa yang akan menanam modal dalam negara yang status kepemimpinannya begitu kabur?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Cari Kiblat Cara Kudus

Album

Sakit

Pelantikan

Buku

Indonesia, Orde Baru, dan Pasca-Soeharto

Donald Emmerson: "Saya Pesimistis dalam Soal Kepemimpinan Indonesia"

Catatan Pinggir

Dunia

Indonesiana

LSM Melawan Tikus

Selingkuh Saling Silang

TEMPO|interaktif

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

Nasional

Serangan Anas-Ibas Bukti Demokrat Rentan Konflik

Metro

Mulai Senin, Ada Pengalihan Lalu Lintas di Kuningan

Bisnis

Elpiji Bersubsidi Langka Diduga karena Dioplos

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

Nasional

Grasi untuk Corby, Indonesia Tabrak Konvensi PBB

Nasional

Terima Grasi, Corby Sehat dan Ketawa-ketiwi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif