• Home
  • 17 September 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 September 2001

    Komentar Soal Obat Palsu

    MEMBACA laporan Investigasi TEMPO berjudul Obat Palsu Mengancam Kita pada edisi 3-9 September 2001, kami sangat menghargai. Persoalan obat palsu ini kami anggap sangat krusial dan patut mendapat perhatian semua pihak. Hanya, kami sedikit terusik dengan saran Bapak Anthony Ch. Sunarjo, Ketua Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, bahwa berobat ke puskesmas adalah kiat yang cukup bagus untuk lolos dari obat palsu. Hasil kajian Somasi NTB (Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi) terakhir menunjukkan bahwa pengawasan obat untuk jalur ke puskesmas pun sebenarnya masih meragukan. Perusahaan/distributor obat-obatan ini sama, begitupun pabrik/pasar sumber obatnya, idem dito. Selain BPOM dan Dinas Kesehatan lewat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang dilatih khusus oleh kejaksaan, pengawasan terhadap obat masih minim. Anda bisa membayangkan, di BPOM Mataram saja cuma ada tujuh petugas PPNS yang membawahkan tujuh kabupaten/kota di NTB, yang terdiri dari dua pulau. Sementara itu, untuk Mataram, kasus obat palsu November 2000 lalu sebenarnya harus menjadi catatan penting pihak terkait bahwa obat palsu memang leluasa keluar-masuk daerah. Sebenarnya, menurut kajian kami, jalur obat ke puskesmas ini masih bisa dikontrol lewat proses pengadaan obat di tiap kabupaten (setelah beralih ke daerah sesuai dengan era otonomi). Namun, sialnya, proses pengadaan barang/jasa (proses tender) di NTB memang masih sangat buruk, kolutif, dan jauh dari transparan, serta tidak jarang melibatkan transaksi antara pemda dan distributor/perusahaan yang ditopang DPRD. Hasil investigasi Somasi NTB sepanjang Juli-awal September ini pun mengungkap bahwa proses pengadaan obat-obatan untuk puskesmas-puskesmas kita yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan di sejumlah kabupaten di Nusatenggara Barat pun kental dengan bau kolusi. Tentu saja Anda bertanya, apa hubungannya? Di NTB, kami mencatat tiga kabupaten, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Sumbawa, melakukan penunjukan langsung pengadaan obat-obatan ini. Ada kesengajaan meloloskan sejumlah perusahaan tertentu yang persyaratan teknisnya tidak memadai menurut petunjuk teknis pengadaan obat, seperti meloloskan perusahaan yang nomor registrasinya tidak lengkap untuk setiap item obat yang disediakan ataupun tidak lengkapnya sertifikat CPOB. Bisa diperkirakan, obat yang menuju puskesmas-puskesmas dan kemudian dikonsumsi masyarakat pun sebenarnya tidak bebas dari serangan obat palsu. Seperti saran Bapak Anthony, sebaiknya meminta saran dokter bila ingin membeli obat. Tanpa menegaskan saran itu, kami menyarankan perlunya evaluasi dalam sistem distribusi obat kita dengan tujuan adanya perbaikan, termasuk memikirkan bagaimana melakukan proses kontrol yang tepat terhadap ancaman obat palsu. ERVYN KAFFAH Jalan Pariwisata 41, Mataram Nusatenggara Barat 93121

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Pada Mulanya Persepsi Diri

Indonesiana

Perkawinan yang Gagal

Pelarian yang Sukses

Ralat

Ralat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

Nasional

Serangan Anas-Ibas Bukti Demokrat Rentan Konflik

Metro

Mulai Senin, Ada Pengalihan Lalu Lintas di Kuningan

Bisnis

Elpiji Bersubsidi Langka Diduga karena Dioplos

Nasional

Aroma Konspirasi di Balik Pengusiran Anas-Ibas ?

Nasional

Wamen Denny Siap Ladeni Gugatan atas Grasi Corby

Nasional

Denny Akui Grasi Corby Ada 'Dimensi' Diplomasi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif