• Home
  • 03 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Iqra
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 03 Desember 2001

    Instalasi Humor dalam Heri Dono

    Jalan di Sekitar Jebakan (Pameran Karya Heri Dono) Waktu : 9 November-6 Desember 2001 Tempat : Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta SEPULUH moncong hewan serupa anjing menggonggong di ruang pameran Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta. Begitulah cara Heri Dono, 41 tahun, mengagetkan penikmat lukisan. Moncong lonjong dari kayu itu dilengkapi sepasang bola mata plastik yang bergulir ke kanan-kiri dan ditancap oleh rangka besi. Sejenis automaton, hewan ke-surupan, atau citra binatang kurban yang menggeram? Karya instalasi Menonton Orang-Orang Marjinal (1992/2001) ini mirip barang pajangan surealistis di ruang tamu seorang pemburu: menancap di tembok, diiringi bunyi mengorok yang ganjil. Mengemas sejenis rongsokan sederhana untuk menciptakan citra kecanggihan temporer, menciptakan baju kontemporer dengan gaya pelesetan dan kampungan, menjalarkan kejutan hidup mutakhir kepada benda-benda mati, bukankah ini sejenis anakronisme, tumpang-tindih ruang dan waktu? Tidakkah para penikmat seakan diberi tontonan citra hantu-hantu baru di pojok-pojok gedung modern, hewan-hewan digital yang menciptakan histeria, juga sejenis praktek perdukunan di antara komunikasi dan transaksi serba canggih manusia pasca- modern? "Permainan-permainan Tamagochi, Playstation, kita anggap itu kehidupan nyata. Orang menggunakan handphone dan telepon itu seperti telepati. Seperti di Jepang," ujar Heri Dono, yang kini tengah berada di New York untuk sebuah proyek karya gigantiknya, "turun di airport, memegang handphone, menghadap tembok, seakan bisa ketemu siapa saja... animisme.... Para penjual tiket pesawat itu, kalau ditanya, tak menghadap ke kita, tapi ke komputer...." Bukankah Heri Dono tengah mengejek elektromania serta peradaban tinggi, budaya fungsionalis, dan kelancungan substansialis kita? Pameran ini mengetengahkan enam buah karya seni rupa instalasi, sebuah karya yang disebut video instalasi, dan tiga lukisan di atas kanvas (1994-2001). Hampir semuanya pernah dipamerkan di berbagai forum internasional. Ada gagasan dan kecenderungan idiom yang linier dalam perkembangan karya Heri Dono. Dalam hal begini, tak ada perupa kontemporer di Indonesia yang ekstensif seperti Heri Dono. Jebolan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, yang tahun ini terpilih-bersama Arahmaiani-masuk dalam kategori 100 seniman kontemporer kondang dunia versi Fresh Cream ini adalah perupa yang sering disebut menyandang kesadaran "glo-kal": mempertautkan kesadaran lokal dengan spirit sejagat. Juga jarang perupa muda kontemporer yang satiris seperti Heri Dono. Kendati karya Menonton Orang-Orang Marjinal bermuatan kritik terhadap konglomerasi para Burisrawa yang mematikan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pinggiran, Heri Dono selalu membungkus kritiknya dengan polesan humor. Alih-alih karyanya mengacungkan protes, kita selalu berada dalam lingkaran relatif yang mengarah kepada otokritik. Lagi-lagi kesadaran ganda muncul: sambil menghaluskan atau memelesetkan kritik perihal suatu pokok, Heri mengingatkan betapa dungunya kita hingga kita mampu menertawai diri sendiri. Tidakkah semua penonton akan berstatus pinggiran meng-hadapi karya ini? Perhatikan dua karya instalasinya yang cenderung memanfaatkan material lokal, Kendaraan Kaca (1995) dan Para Bidadari yang Tersangkut di Jaring (1996). Kendaraan Kaca terdiri atas 15 buah kaleng kerupuk yang dipasangi tiga roda sepeda. Di dalamnya lampu kecil menyala dan boneka-boneka berjenis lelaki dan perempuan terbuat dari kaca serat dibumbui aksesori waton sulaya. Pada setiap kaleng itu disematkan simbol keraton Yogyakarta. Sosok di dalamnya terkadang menyandang citra prajurit keraton atau pendemo global atau pasangan lelaki-perempuan yang capek. Dunia kaleng kerupuk itu tentu saja bisa melaju ke mana saja. Pada Para Bidadari yang Tersangkut di Jaring, Heri Dono menampilkan 13 bidadari dari kaca serat. Sepasang sayapnya dari kain saringan tahu bertulang bambu yang dapat bergerak naik turun. Sosok-sosok mini ini digantung di langit-langit, seakan ragu turun dari kayangan atau terbang menjejak bumi. Tiga sosok bidadari bersayap kecil terjungkal di jaring yang direntang memenuhi hampir setengah ruang pameran. Semua bidadari itu memiliki phallus kecil yang menukik ke bawah. Bunyi gesekan seperti orkestra serangga mengiringi ayunan sayap-sayap itu. Kepala boneka bermimik halus dan tidak berdosa itu ada yang ditumbuhi tanduk. Sebuah kotak dari kayu bekas bertuliskan timer relay menyambungkan bunyi-bunyian dan gerakan itu, tergeletak di bawah jaring. Pada suatu hari, bisa saja kecelakaan terjadi: sebuah gelombang radio nyelonong, menyiarkan lagu pop Sheila on 7. Mempecundangi yang luhur, memberikan tempat bagi yang sehari-hari dan yang absurd, serta mengawinkan yang tampak rasional dan yang edan merupakan gagasan dasar berkarya Heri Dono. Tak perlu mencari statemen politis terlampau serius ataupun argumentasi estetika yang runtut pada perupa seperti Heri Dono, yang karyanya terkadang terkesan terlampau asyik mengejar keanehan alias neko-neko. Kesadaran politik Heri Dono adalah politik mikro yang ruwet: politik sehari-hari, cerita kemuskilan, dan jungkir-balik logika kehidupan yang ditemukan di jalan-jalan. Sembari asyik memainkan tokoh-tokoh politik di atas papan catur pada lukisan lamanya Bermain Catur (1994-1998)-di sana dilukis para petinggi: Jenderal Wiranto, Gus Dur, Habibie, Harmoko, Megawati, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Adnan Buyung, dan sebagainya-Heri menghadirkan raksasa berbelalai gajah bermata susun tiga dan raksasa berhidung contong, paha sempal, dan berjambul, dengan kaki yang ditempeli Salonpas. Yang kekal dari karya-karyanya adalah humor. Politik itu soal tertawa, dan juga tampak usang, purba (citra raksasa atau makhluk animis), mengidap kekuasaan dari jenis tertentu (macho, phallus kanak-kanak yang tidak pernah menunjukkan tanda-tanda ereksi kendati berwarna merah). Tapi, yang lebih penting, politik adalah petak permainan yang menyembunyikan dimensi transenden yang tak dapat kita jangkau (dalang di belakang dalang). Itulah cara pelesetan Heri Dono saat meninjau tema politik. Heri Dono memelintir seni video instalasi dalam Interogasi (1998). Ia memasukkan sejumlah rekaman adegan kekerasan, menampilkan protagonis anak muda berambut gondrong di latar depan, dan memasang sebuah senapan dari bahan kaca serat di depan empat buah layar TV. Kita dapat menyaksikan tayangan instalasi ini seakan menyimak wejangan sang dalang seraya membaca koran: "...bukannya saya tak berani melawan Bapak, karena Bapak selalu menggunakan senjata untuk melawan pikiran saya/ bukannya saya tak hornat kepada Bapak, tetapi Bapak sendirilah yang sengaja menurunkan martabat Bapak sebagaimana layaknya manusia/ apakah Bapak masih merasa menjadi manusia? Mengapa Bapak selalu memukuli saya seperti memukuli anjing?" Sayang, dalam seni video instalasi itu, Heri Dono terlampau tegang dan tampak miskin visual hingga unsur humor tak menggonggong. "Humor kekal" barangkali adalah "jebakan" di sekitar karya Heri Dono, tapi kehilangan humor adalah bencana bagi kita semua. Hendro Wiyanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Zakat di Tangan Negara

Yang Transparan di Malaysia

Album

Meninggal

Buku

Ziarah ke Setapak Jalan Kepenyairan

Sebuah Panggung Bernama Khatulistiwa

Catatan Pinggir

Usamah

Seni Rupa

Instalasi Humor dalam Heri Dono

TEMPO|interaktif

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

Nasional

Serangan Anas-Ibas Bukti Demokrat Rentan Konflik

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif