• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001

    Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

    Sufisme Kota, Berpikir Jernih Menemukan Spiritualitas Positif Penulis : Ahmad Najib Burhani Pengantar : Haidar Baqir Penerbit : Jakarta: Serambi, September 2001 SYAHDAN, adalah sufi yang lahir dari rahim perusahaan. Mereka disebut sebagai "sufi kota", yang tidak selazim seperti "sufi konvensional". Mereka mengenakan seuntai dasi dan bertakhta di perusahaan-perusahaan besar, tidak lagi di rumah-rumah ibadah. "Di pasar global nanti," kata Prof. Hendricks dan Dr. Ludeman, "Anda akan menemukan orang-orang suci, mistikus, atau sufi, justru di perusahaan-perusahaan besar, bukan di wihara, biara, kuil, gereja, atau masjid." Ahmad N. Burhani sedang mendokumentasikan tren sufisme dan kebangkitan spiritual di kota dan perusahaan besar. Di tingkat dunia, Burhani mengutip John Naisbitt bahwa berbagai perusahaan yang menggenggam merek dunia mengeluarkan dana sekitar U$ 4 miliar untuk membayar para konsultan New Age. Sebanyak 67 ribu pegawai Pacific Bell of California telah mengikuti pelatihan spiritual Krone. Demikian pula dengan perusahaan kelas dunia seperti Procter & Gamble, TRW, Ford Motor Company, AT&T, IBM, dan General Motors. Burhani juga mencatat bahwa beberapa perusahaan besar seperti American Express, Bank Indonesia, Pertamina, dan BNI di Jakarta pun mengadakan Training Spiritualitas, menyusul setelahnya Caltex dan Bumiputera hendak menyelenggarakan Pelatihan Spiritual dan Pelatihan Kepemimpinan Pribadi Muslim. Pada spektrum lain, sufisme kota juga menggejala dengan begitu maraknya komunitas spiritual (spiritual community), dari Brahma Kumaris, Beshara, New Age, Metafisika Study Club, Anand Ashram, hingga komunitas Salamullah pimpinan Lia Aminuddin. Juga tersaji pula hidangan spiritual yang siap santap, dari meditasi, reiki, chakra, yoga, kundalini, shambhala, hingga menu-menu tasawuf positif. Itulah tren sufisme kota yang disajikan buku ini. Terdiri atas tujuh bab, mulai bab pertama hingga ketujuh berupaya mendokumentasikan literatur, kecenderungan, dan mabuk spiritual di dunia Barat dan jagat maya. Tersaji, misalnya, "manisnya spiritualitas", yang diburu istilah CNN "pelancong spiritual"; mabuk spiritualitas para bintang Hollywood seperti Madonna, Laura Dern dan sang ibu, Diane Ladd; penyanyi rock Courtney Love, aktris Elizabeth Taylor, Rosseane Barr, dan jangan kaget pula jika Deepak Chopra dari India, yang mendirikan The Chopra Center for Well Being di California itu, ternyata menjadi guru spiritual Demi Moore, Ashley Judd, dan sederetan bintang papan atas dunia. Juga disajikan tren spiritualitas di Wall Street, McSpirituality, dan semarak spiritual di jagat maya, dari Cyber-Spirituality, Tuhan (di) Internet, Help@god.org, Rumah Ibadah Virtual, Spirit Channel, sampai Dot-Com sebagai jalan spiritual baru? Saatnya kita menilai: itukah tren sufisme kota? Tunggu dulu! Sebab, di bagian tujuh, Tasawuf Positif sebagai Alternatif Spiritualisme, Burhani justru membuat jebakan dan perangkap mematikan antara spiritualitas dan tasawuf. Katanya, "Spiritualitas acap kali sekadar berfungsi sebagai pelarian psikologis, obsesi, dan kebutuhan rohaniah sesaat.... Di sinilah terjadi korupsi dan komoditi spiritual." Bayangkan, apakah seluruh uraiannya tentang spiritualitas di Barat mulai bab pertama hingga bab keenam akan disimpulkan bahwa itu semua tak lebih sebagai komoditi spiritual? Di sinilah Burhani ter-jebak pada pejorative judgment. Jika cara berpikir ini dipakai, apakah tasawuf positif yang kemudian dijadikan alternatif Burhani terhadap spiritualitas sehingga harus bertahun-tahun dijajakan kepada para eksekutif dan pengusaha melalui berbagai lembaga yang juga tak lebih sebagai "komoditi tasawuf" untuk kepentingan bisnis? Sungguh disayangkan, Burhani sedang terjebak pada perangkap yang dibuatnya sendiri. Soal sufi kota, yang seharusnya menjadi topik utama buku ini, ternyata hanya tersaji di bab ketujuh. Itu pun seolah dimentahkan kembali melalui epilognya, New Age, yang sebenarnya secara diam-diam sedang dikritiknya. Berbeda dengan sufi ortodoks dan konvensional, sufi kota relatif terbuka, terpelajar, berpikiran rasional, kritis, dan inklusif di tengah perbedaan. Maklum, sufi kota ini diisi kalangan profesional, eksekutif sukses, pemimpin, dan pengusaha. Hendricks dan Ludeman dalam The Corporate Mystics, yang menyelenggarakan pelatihan kepada eksekutif papan atas selama lebih dari 25 tahun, membuat sebuah kesimpulan menarik: successful corporate leaders of the twenty first century will be spiritual leaders; pemimpin perusahaan yang sukses di abad ke-21 akan menjadi pemimpin spiritual yang sukses. Inikah sufi kota yang sejati? Sukidi-staf Yayasan Paramadina

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif