• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001
    Palestina

    Yasser Arafat Harus Melawan

    EMPAT jip penuh polisi Palestina, beberapa di antaranya mengenakan topeng, menyerbu masuk rumah Ishak Misaweh di Hebron, Tepi Barat. Misaweh, 28 tahun, aktivis kelompok garis keras Hamas, tampaknya sudah menanti saat-saat itu. Dengan tenang ia memasukkan pakaiannya ke dalam tas dan masih sempat memberi uang ke istrinya yang meratap. "Israel berusaha menangkapnya, tapi kini polisi Palestina datang untuk menangkapnya? Ini tidak adil," protes sang istri. Senin pekan silam, polisi Palestina mengaku berhasil menahan 110 anggota Hamas dan Jihad Islam yang dicurigai terlibat dalam dua pengeboman di Haifa dan Yerusalem sehari sebelumnya. Bom bunuh diri itu menewaskan 26 orang Israel sebagai pembalasan atas tewasnya Mahmud Abu Hanud, pemimpin senior Hamas di Tepi Barat, akhir November silam. Pemerintah Otoritas Palestina pun terpaksa memberlakukan keadaan darurat di bawah tekanan Amerika Serikat. Bahkan polisi mengenakan tahanan rumah kepada pemimpin spiritual Hamas, Sheik Ahmad Yassin, yang sebenarnya sudah renta, buta, dan lumpuh. Pemerintah Otoritas Palestina betul-betul tersudut. Ariel Sharon menyambar kesempatan ini. Ia menyatakan secara terbuka bahwa Yasser Arafat adalah teroris, sama dengan Usamah bin Ladin. "Arafat telah memilih menjadi bagian dari terorisme," ujar Sharon. Kabinet Israel juga menyatakan pasukan elite Arafat, Force-17, sebagai "organisasi teroris". Dengan demikian, ada alasan buat Israel "menyatakan perang" terhadap Palestina. AS pun menyatakan bahwa Israel berhak membela diri. Segera, helikopter dan pesawat tempur Israel menderu ke jantung pemerintahan Arafat di Tepi Barat. Sasarannya, kantor Arafat di Ramallah. Militer Israel bahkan menerobos ke Bandara Internasional Gaza, membuldozer landasan pacu. Sebenarnya bentrokan besar Israel-Palestina bukan baru sekali ini. Israel menggempur habis-habisan wilayah Palestina setelah militan Palestina membunuh Menteri Pariwisata Israel, Rehavam Ze'evi, September silam. Inilah serangan militer Israel terbesar ke wilayah Palestina sejak perjanjian perdamaian Israel-Palestina di Oslo pada 1993. Sempat, dunia khawatir perang terbuka Israel-Palestina meletus. Namun, kala itu AS segera menawarkan dua skenario damai, yakni rencana Mitchell Report dan rencana George Tenet-tapi rencana itu ditolak. Pemerintah Otoritas Palestina juga pernah menggelandang aktivis Hamas dan Jihad Islam secara besar-besaran pada 1996. Itu balasan setelah serangkaian bom bunuh diri meledak di Israel. Serangan balasan Israel menewaskan pemimpin Hamas, Yahya Ayyash. Lantas, kemarahan Palestina bangkit kembali ketika Perdana Menteri Ariel Sharon berkunjung ke Masjid Aqsa. Intifada pun ber-kecamuk lagi, dan aksi bom bunuh diri mengguncang Israel lagi. Israel menuduh Arafat sengaja melepas aktivis militan Palestina dari tahanan. Sejak itu, gelombang aksi kekerasan Israel-Palestina tak pernah henti. Kini, Arafat menghadapi masalah yang paling serius. Di kalangan rakyat Palestina sendiri muncul anggapan bahwa proses perdamaian yang diusung Arafat sudah tidak lagi efektif untuk mewujudkan negara Palestina merdeka. Popularitas Arafat di mata rakyatnya menurun dari 65 persen pada September 2000 menjadi hanya menjadi 35 persen. Sebaliknya, dukungan terhadap kelompok militan Hamas dan Jihad Islam meningkat. AS juga mulai meragukan kemampuan pemimpin Palestina itu. "Arafat bukan pemimpin yang kuat. Ia tidak pernah menghasilkan apa pun untuk rakyat Palestina," ujar Menteri Pertahanan AS, Donald H. Rumsfeld. Jadi, bila Arafat tak bereaksi keras terhadap serbuan Israel itu, keras diduga ia bakal dihujat habis oleh kelompok garis keras. Orang mencemaskan meletusnya perang saudara. Sebaliknya, bila ia membalas dengan keras juga, Israel (dan Amerika) punya dalih nyata untuk menghabisi Arafat seperti sekarang AS mengebom dan menyerbu Usamah bin Ladin di Afganistan. Tampakya Arafat harus melawan Israel dengan keras, dan sementara itu mengimbau dunia bahwa ia memerlukan keadilan. Bila benar bahwa hubungan negara-negara Arab jauh lebih dekat ke Arafat daripada ke Usamah, bisa terulang perang Israel-Arab seperti di tahun 1967. Ini tergantung bagaimana Arafat dan Palestina menarik simpati dunia internasional dan negara-negara Arab, terutama. Raihul Fadjri (AP, Reuters, New York Times, Arabic News)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif