• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001

    Pilih Janda Kaya, atau Wisma Bunga

    Saad bin Jaburge sungguh beruntung. Pengungsi Irak berusia 33 tahun ini boleh dikata punya perawat khusus yang setia setiap saat. Namanya Ella, perempuan asal Bogor. Badannya semlohai. Matanya beralis tebal dengan sorotan khas bak "sepasang mata bola". Jika tersenyum, sederet gigi putihnya mirip biji mentimun berarakan. Setiap bertemu teman-teman dan kenalan, Saad tak segan memperkenalkan, "Ini istri saya." Ella memang pantas dibanggakan. Ia sudah teruji menghadapi ulah sang suami. Suatu saat, ketika asyik bermain tetris, tiba-tiba, prang..., kepalanya dihajar Saad pakai mangkok. Bertubi-tubi. Darah mengucur deras. Saad terus saja menggebuk. Adegan sadis di Rumah Sakit PMI Bogor awal November lalu itu baru terhenti setelah petugas jaga turun tangan. Malang bagi Ella. Kepala dan wajahnya mesti dipermak lebih dari 30 jahitan. Toh, tetap saja ia maafkan suami yang menikahinya di bawah tangan itu-di hadapan seorang ustad, tapi tak ada surat resmi suami-istri. "Saat itu kan Saad sedang depresi berat dan mengalami halusinasi," ujarnya kalem. Ella kini mengandung empat bulan, tenang dan sehat. Beda jauh dengan yang dialami Saad. Karena terus dilanda depresi, Saad akhirnya dirawat di Rumah Sakit Jiwa Bogor. Ia ngamar hampir tiga minggu. Lagi-lagi, Ella sabar menunggu. Akhir November lalu, Ella membawa Saad ke rumah orang tuanya di kawasan Cigudek, Bogor. Maksudnya agar sang Suami bisa mengaso. Di sini, di kawasan sunyi yang sarat empang dan hutan karet itu, rupanya Saad betah. Ia tak mau kembali ke rumah sakit. Apalagi setelah tahu bahwa rumah sakit itu biasa merawat pasien sakit ingatan. Ella mesti rela bolak-balik ke rumah sakit untuk mengambil obat-semuanya ditanggung UNHCR-agar Saad tak kambuh. Kisah Saad dan Ella ini hanya sedikit contoh dari sekian banyak perkawinan ala pengungsi. Bentuk dan modusnya beragam cara. Satu hal yang ternyata berlaku umum: urusan kawin-mawin ini memang harus dirahasiakan. Mereka khawatir perkawinan itu akan menyulitkan posisinya di hadapan badan PBB itu. Salah-salah kena hukuman dan tak lagi diurusi. Padahal, mereka tak ambil pusing dengan perkara ini. "Perkawinan itu hak asasi manusia!" ujar Daniel Yuliadi, staf UNHCR Jakarta. "Kawin lebih baik daripada berzina," ujar Yuyun, ketua RT di Ciwaringin, Bogor, yang mencarikan wali nikah bagi Ella. Memang banyak pengungsi yang menikahi wanita di kawasan adem itu. Tak sedikit yang pakai taktik lain: menikahi janda kaya-yang jumlahnya lumayan banyak dan siap dinikahi tanpa banyak cingcong. Bagi pengungsi, ini rezeki nomplok agar kebutuhan materi sehari-hari tercukupi. Status anak bisa dua kemungkinan. Kalau pernikahan secara resmi dilakukan-yakni lewat KUA-dan memiliki surat kawin resmi, statusnya mengikuti sang ayah. Tapi, jika nikah "rahasia" dan tidak sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia, menurut Dirjen Imigrasi Iman Santoso, anaknya akan mengikut ibunya sebagai warga negara Indonesia. Di luar perkawinan, hajat biologis pengungsi bisa juga ditutup dengan wanita penghibur. Apalagi di kawasan Puncak, Bogor, soal esek-esek ginian urusan sepele. Boleh dibilang itu urusan sehari-hari. Asal ada uang, wanita penjaja cinta bakal menyerahkan dirinya bulat-bulat. Tarifnya Rp 100 ribu-200 ribu sekali kencan. Kalau tak ada uang, mereka tak kurang akal: satu wanita dipakai ramai-ramai alias salome. Itulah yang terjadi di kawasan Sampay, Bogor. Di salah satu rumah kontrakan yang dihuni 5 orang pengungsi Irak, pernah kepergok ada seorang pekerja seks. Warga tak tinggal diam. Digerebek. Saat diinterogasi, si perempuan bilang sudah jadi langganan. "Ternyata mereka bejat juga," ujar Asep, warga setempat. Kini, rumah kontrakan itu sepi ditinggal penghuninya entah ke mana. Ada lagi tempat khusus mangkalnya cewek-cewek penggoda, dikenal dengan sebutan Wisma Bunga. Para wanita penjaja cinta di situ sudah biasa melayani pengungsi. Penelusuran TEMPO mem-benarkan pernyataan Asep. Selain pengungsi Irak, pekerja seks di situ terang-terangan mengaku sering melayani tamu dari Arab Saudi yang memang bertebaran di kawasan sejuk itu. Tentu, tamu lokal juga welcome. Cuma, kalau dengan orang Timur Tengah, serba gampang. "Selain fulusnya lancar, mereka tidak minta layanan yang aneh-aneh seperti orang kita," ujar seorang perempuan "nakal" itu, tanpa malu-malu. Mangsanya tentu bukan Saad, yang memilih hidup tenteram dengan Ella. Dwi Wiyana (Bogor)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif