• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001

    Ketika Target Tidak Tercapai

    SELAMA tiga pekan terakhir, badan usaha milik negara (BUMN) tak putus disorot dari berbagai angle dan titik rawan. Audit atas lima BUMN (Pelindo II, Jasa Marga, PTPN IV, Garuda Indonesia, dan Telkom) mengungkapkan bahwa tingkat inefisiensi pada 1995-1999 mencapai Rp 8,47 triliun. Lima BUMN itu lalu diwajibkan membuat rencana tingkat lanjut dan diharuskan mengurangi potensi kerugiannya. Ternyata pemaparan inefisiensi itu sekadar "pemanasan" karena kemudian Menteri Negara BUMN, Laksamana Sukardi, mengemukakan berbagai rencana yang terkesan seperti serangkaian shock therapy. Pertama-tama, ia akan membentuk komisaris independen di setiap BUMN dalam upaya menerapkan good corporate governance. Selang dua hari, Laksamana mengumumkan bahwa manajemen BUMN akan diminta menandatangani kontrak kinerja guna menghindari praktek korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) dan meningkatkan transparansi di tubuh perusahaan negara. Awal pekan silam, ia bicara lebih keras lagi. Katanya, ia akan meminta BPKP agar melakukan audit investasi terhadap BUMN bidang keuangan-seperti Jamsostek dan Danareksa-yang terindikasi melakukan penyelewengan keuangan. Ada apa di balik gebrakan Laksamana? Ada banyak hal, tapi yang agaknya paling menyesakkan adalah defisit APBN 2001. Untuk menekan defisit sebatas 3,7 persen dari produk domestik bruto (PDB)-sekitar Rp 54 triliun-pemerintah selain menggenjot divestasi sahamnya di sejumlah aset BPPN (targetnya Rp 27 triliun) juga akan memacu privatisasi BUMN. Sejauh ini privatisasi itu belum membawa hasil. Target privatisasi Rp 6,5 triliun, hasilnya nihil. Sebaliknya, tumpukan utang BUMN kepada pemerintah mencapai Rp 61,9 triliun, tanpa ada tanda-tanda segera bisa dikurangi. Di samping defisit, kenyataan bahwa laba BUMN sangat kecil-tahun 2000 labanya cuma Rp 13,35 triliun-juga menimbulkan syak wasangka. Jumlah semua BUMN ada 188 buah, nilai asetnya Rp 860 triliun, tapi labanya terlalu minim. DPR, yang juga risau melihat kinerja yang begitu parah, lalu memutuskan agar setoran dividen BUMN tahun 2001 ke kas negara dinaikkan menjadi Rp 7,5 triliun. Sedangkan untuk tahun 2002, target itu dinaikkan menjadi Rp 8 triliun. Pada tahun 2002 juga, pemerintah akan menarik piutangnya dari BUMN sebesar Rp 4,1 triliun. Masalahnya, seberapa besar potensi BUMN sehingga target itu bisa direalisasi? Agar jawabannya akurat, tentu harus dilakukan audit. Hanya, audit perlu waktu. Padahal situasi sudah sangat mendesak. Data yang ada pada Dirjen Lembaga Keuangan untuk sementara semestinya bisa digunakan, paling tidak untuk melacak beberapa kebocoran. Sebut saja kerugian yang diderita gara-gara penyelundupan BBM yang luput dari jangkauan Pertamina. Juga, mengapa inefisiensi PLN tidak bisa ditekan, padahal perusahaan ini sudah mendapat lampu hijau untuk menaikkan tarifnya secara otomatis setiap tiga bulan sekali. Telkom seharusnya bisa diandalkan, tapi ternyata juga masih menyimpan masalah. Kerentanan yang sama bisa ditemukan pada hampir semua BUMN, dari Garuda Indonesia sampai Kereta Api Indonesia, Jasa Marga sampai Pelni, Jamsostek sampai Danareksa. Kita tidak perlu berangan-angan memiliki BUMN sehebat Singapore Airlines, Singtel, atau Petronas. Namun, kita terlalu tidak bertanggung jawab bila membiarkan BUMN merugi terus-menerus atau bocor terus-menerus. Cita-cita reformasi memang menuntut agar BUMN tidak dijadikan sapi perah di tangan pihak yang berkuasa. Tapi juga sangat tidak pantas kalau BUMN jadi beban bagi perekonomian bangsa yang kini morat-marit dan compang-camping. Shock therapy jelas perlu, tapi kelanjutannya berupa sanksi administratif dan sanksi hukum harus dijadikan kunci ke arah penyehatan BUMN. Tanpa itu, sia-sia membicarakan target, audit, good corporate governance, dan berbagai hal muluk lainnya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif