• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001

    Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

    Bung Gumelar. Apa kabar? Kebetulan Sarah dolan ke tempat saya, tanpa Bung ikut serta. Saya kurang sehat keadaannya saat ini. Saya memang berniat ikut: bersuara seperti lain pelukis, tapi Suara saya suara yang lemah saja. Semoga kita segera bertemu dalam waktu yang dekat. Surat ini adalah sebuah pesan akhir Itji Tarmizi. Kepada sahabatnya pelukis Gumelar, surat bertanggal 27 November silam itu ditulis sehari sebelum maut menjemputnya pada 28 November. Ia tak sempat melihat pamerannya usai. Dimakamkan di TPU Pondokkelapa, Jakarta Timur, jazadnya ditumpangkan ke makam ibunya. Sarah, istri Gumelar, yang sempat mendampingi detik-detik sakaratul mautnya. Inilah pameran tunggal pertama dan terakhir bagi lelaki kelahiran Lintau, Batusangkar, Sumatra Barat itu. Setelah 30 tahun menghilang, kemunculan mantan Pelukis Rakyat itu jadi terasa singkat. Mereka yang mengenalnya mengenang Tarmizi sebagai pelukis tunarungu otodidak. Karya-karya Tarmizi dikoleksi Bung Karno dan Adam Malik. Karya-karya terbaiknya menampilkan semacam realisme optimistik yang dahulu didengungkan Menteri Kebudayaan Prijono. Pergaulannya luas. Ia mengenal Gumelar ketika pelukis itu menjadi seniman Panitia Negara pimpinan Henk Ngantung. Tapi sejak geger 1965, Tarmizi lenyap ditelan bumi. Bahkan ketika teman-temannya dari Sanggar Bumi Tarung dan Pelukis Rakjat sudah keluar dari Pulau Buru, keberadaan Tarmizi tetap misterius. Banyak yang menduga ia sudah meninggal. Tapi tiba-tiba tahun 2000 di Lelang Larasati lukisannya laku. Kabar pun berembus: Tarmizi masih hidup. Setelah sakit-sakitan mengidap kanker liver di nun jauh di Batusangkar, Sumatra Barat sana, Tarmizi kemudian tinggal di bilangan Bumi Serpong Damai, Tangerang. Maka timbul pertanyaan yang mendasar: apakah pelukis ini masih menghasilkan karya sedahsyat: Lelang Ikan (1958-1960) yang termaktub di jilid tiga koleksi Sukarno yang dihimpun Lee Man Foong? Ini adalah karya yang dipandang mengandung nilai profetik karena sosok tengkulak di situ. Kenapa bisa parasnya begitu mirip dengan Soeharto? Yang mengejutkan dalam pameran ini ternyata ia banyak menampilkan karya sangat personal. Ia banyak membuat sulaman berbentuk geometris, dengan warna cerah, jingga, oranye, biru. Seperti sentuhan anak-anak yang naif. "Itu karya-karya tiarap," kata pelukis Isa Hasanda, sahabatnya, pendiri Bumi Tarung. Judul-judul yang diberikan bahkan cenderung abstrak yakni komposisi I sampai komposisi 18. Dalam pameran ini kita bisa menyimak sketsanya di tahun 1950-an milik koleksi almarhum Batara Lubis. Salah satu dari sketsanya itu adalah sketsa wajah Hendra Gunawan. Ia suka melukis potret keluarga dan keluarga teman-teman dekatnya. Pada tahun 1960-an Tarmizi melukis Mado (1961), putri sahabatnya, Oey Hay Djoen. Adapun tahun 1990-an ia terus-menerus melukis obyek yang pernah dekat dengannya: neneknya yang sudah meninggal atau sapi miliknya, sewaktu Hendra kecil. Yang terlihat konsisten adalah rangkaian lukisan potret diri. Menyimak potret dirinya dari tahun 1950-an sampai 1990-an seolah mengamati spirit dasar kesepiannya. Secara fisik wajahnya berubah. Cekung pipi, lebat rambut, berganti. Tapi antara sketsa potret diri tahun 1950-an dan potret diri tahun 1990-an, seperti Sketsa Masa Tuaku (1990), Sketsa Potret (1991), Sketsa Merenung (1991), Diriku (1991), yang dari samping sekilas seperti Lenin. Watak dan spiritnya tetap sama. Gurat keras. Penuh derita. Ada rasa sunyi. Kosong, tapi tegar. Tarmizi melukis potret diri terakhir yang dilukis setahun silam di Bumi Serpong Damai. Ia berdiri mengenakan pakaian, celana, jas, dan topi hasil jahitannya sendiri. Ia dikenal suka mendesain dan menjahit baju-bajunya sendiri. Tahun 1964, untuk kedua kalinya ia ke Beijing dibiayai Bung Karno untuk menyembuhkan telinganya yang tuli. Ia dikenal sangat mandiri hingga seluruh isi rumahnya di Serpong-bangku, meja, dan seluruhnya-adalah buatan tangannya sendiri. Yang unik, di semua karyanya selalu ditatahkan gambar lumbung. Sketsanya, meja, kursi, bahkan celana yang dikenakannya diberi bordir lumbung. Bagi Tarmizi, lumbung baginya mata hati. Pada akhir hayatnya, ia berwasiat bahwa masih ada sekotak peti di Padang berisi karya-karyanya. Keponakannya sudah melacak ke Padang tapi sayang ternyata peti itu kosong. Begitu banyak karyanya yang hilang entah ke mana. Pelukis Isa Hananda berkisah bahwa suatu hari tahun 1965, di Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, ia melihat Tarmizi melukis dengan ukuran sangat besar, yang isinya adalah lukisan pemimpin seperti Aidit. Menurut dia, karya yang belum selesai itu sedahsyat lukisan Lelang Ikan. Entah ke mana lukisan itu berada. Dan entah ke mana lukisan-lukisannya yang lain menghilang. Seno Joko Suyono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif