• Home
  • 10 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 10 Desember 2001

    Muhammad Yunus Yosfiah: "Saya Ingin Jadi Pemain"

    Dulu, Yunus juga memutuskan memasukkan Eric, anak sulungnya, ke sekolah golf di Amerika Serikat. Lo, kok menyimpang dari ayahnya? Itu karena laki-laki kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, ini yakin bahwa masa depan pegolf bisa cerah. Demi cita-citanya tersebut, sang ayah empat anak ini rela menjual rumahnya untuk biaya sekolah golf Eric. Dan Eric kini sudah berhasil menjadi pegolf profesional yang rajin mengikuti turnamen-turnamen di AS, sehingga adik-adiknya pun ingin jadi pegolf. Sekarang Yunus Yosfiah, 57 tahun, memutuskan dirinya sendiri masuk ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Menurut Yunus, yang kini lebih banyak menikmati masa pensiun di rumahnya yang asri di kawasan Perumahan Permata Arcamanik, Bandung Timur, dia sudah bosan hanya mendengar dan ikut debat politik. Laki-laki yang pernah mendapat pendidikan perang psikologis dari Fort Bragg, AS, itu ingin ikut bermain di dunia politik. "Saya ingin menyampaikan aspirasi secara langsung," kata suami seorang perempuan Timor Timur bernama Antonia Yacinta Ricard da Costa itu. Keputusan bekas Menteri Penerangan di zaman pemerintahan B.J. Habibie ini masuk partai Islam tersebut memang mengejutkan. Apalagi menteri yang sempat mengeluarkan hampir 250 surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) di masa kerjanya yang setahun itu mengaku mendukung penerapan syariat Islam-seperti yang tercantum di Piagam Jakarta. "Saya yakin, kalau ada umat Islam yang tidak menerima syariat Islam, mungkin karena dia hanya tahu verbalnya tapi tidak tahu Islam secara mendalam," demikian ia bertutur. Masuknya Yunus ke PPP memang tidak sendirian. Masih ada beberapa jenderal purnawirawan yang juga bergabung ke partai berlambang Ka'bah itu. Mereka antara lain bekas Jaksa Agung Letjen Purn. Andi M. Ghalib, mantan Asisten Personalia KSAD Mayjen Purn. Mulchis Anwar, mantan Kapusat Penerangan TNI Mayjen Purn. Amir Syarifuddin, dan mantan Gubernur Akademi Militer Mayjen Purn. Noor Aman. Bahkan jenderal-jenderal itu sudah mengadakan pertemuan dengan elite PPP di Hotel Crown Plaza, Jakarta, 12 Maret lalu. Para petinggi PPP itu tak kurang dari Ketua Umum Hamzah Haz dan Sekjen Ali Marwan Hanan. Pun, Yunus dan Andi Ghalib menyempatkan diri datang ke istana wakil presiden untuk bertemu Hamzah Haz, Selasa kemarin (4 Desember). Jadi, Yunus jelas-jelas serius dengan pilihannya masuk PPP ini. Ia, yang dituduh ikut bertanggung jawab dalam kasus pembunuhan lima wartawan Australia di Balibo, Tim-Tim (1975), kini juga lebih banyak berbicara soal-soal agama Islam. Tidak hanya penampilannya-berkopiah dan bersarung-yang mencuatkan kesan bahwa Yunus sudah "berubah", tapi juga sikapnya yang mendukung kembalinya Piagam Jakarta, yang mengesankan dia bukan lagi Yunus yang dulu. "Saya menyesal tidak mendalami agama cukup dalam," tuturnya. Yunus memang orang yang pragmatis dan tahu benar apa yang dikerjakannya. Bila ia lebih banyak mendalami Islam sekaligus masuk ke gelanggang politik, artinya jenderal berkumis dan bermata lebar ini memang memiliki keinginan tertentu. Tapi, sebelum mengikutinya berkiprah di dunia politik, kita ikuti dulu wawancara Upiek Supriyatun dari TEMPO dengan Yunus Yosfiah, yang dilakukan di rumahnya di Bandung, Senin, 3 Desember. Berikut petikannya.
    Anda pernah bilang bahwa alasan terjun ke politik adalah Anda sudah lelah dan jenuh menjadi penonton, pendengar, dan Anda ingin jadi pemain. Apakah itu benar-benar inisiatif pribadi Anda sendiri? Ya, itu datang dari hati nurani saya. Tidak ada yang meminta saya atau melobi saya, termasuk teman-teman TNI. Jadi, benar-benar.... Iya, ini saya lagi puasa, lo. Saya tegaskan, ini niat pribadi. Sebelum saya putuskan masuk, saya sudah merenungkan cukup lama dan beberapa kawan juga memberikan komentar positif. (Yunus menjawab cepat dengan mata dibuka lebar-lebar, sambil mengacungkan telunjuknya berkali-kali.) Lalu, mengapa Anda memilih PPP? Adanya perpecahan di kalangan sesama umat Islam. Disintegrasi bangsa muncul di mana-mana. Juga frustrasinya masyarakat, dan bangsa ini yang kian hari kian terpecah-pecah. Apa yang membuat PPP penting di mata Anda? Selain PPP itu partai Islami, PPP cukup nasionalis dan terbuka menerima siapa saja, dari mana saja, tanpa mempertimbangkan asal-usul seseorang. Lihat saja Hasan Metareum, yang dari Aceh, tiba-tiba digantikan kepemimpinannya oleh Hamzah Haz, yang dari Kalimantan. Jadi, tidak ada model sentralistis kepemimpinan dari Jawa saja. PPP juga cukup apreasiatif terhadap kader-kadernya. Saya juga cukup mengenal para tokoh dan elite pengurus PPP sejak saya menjadi Kasospol dulu. Saat itu, kita sering berdiskusi. Sejak itu saya mulai terbuka bahwa berpolitik itu tidak selalu harus bermain kotor. Perilaku mereka yang Islami dan cara-cara mereka yang bersih membuktikan bahwa berpolitik tidak harus kotor. Dan saya yakin, jika seseorang punya landasan moral baik, dia akan menjalaninya dengan baik. Saya kira PPP cukup konsisten. Apakah itu artinya praktek dan perilaku partai-partai lainnya kotor? Saya tidak bermaksud mengatakan begitu, ya. Tapi, setidaknya dari hasil seringnya saya berdiskusi bersama para elite PPP, saya bisa memahami dan sedikit menyelami bagaimana perilaku mereka. Bila pertimbangannya adalah partai yang Islami, mengapa Anda tidak memilih Partai Bulan Bintang dan Partai Keadilan, misalnya? Ya, itu tadi, kembali pada keprihatinan saya tentang adanya perpecahan antara sesama umat. Untuk apa saya harus memisahkan diri, saya berpikir, lebih baik kita bersatu saja dengan adanya wadah yang ada. Sekarang ini bangsa kita ini maunya apa, sih? Kok, jadi terpecah-pecah dan bercerai-berai seperti itu. Apakah perpecahan di tubuh PPP termasuk menjadi perhatian Anda? Ya, sedari itu. Saya sendiri sangat menyesalkan dan memprihatinkan kenapa begitu mudahnya sesama umat Islam yang ada di dalam tubuh partai itu bisa terpecah-pecah. Anda sendiri lihat, si A mundur, si B keluar, si C pindah ke partai anu, tanpa memperhatikan risiko perpecahan di antara sesama umat sendiri. Anda siap menghadapi konflik yang sudah ada di dalam tubuh PPP? Lo, saya ini muslim. Mereka tahu bahwa saya ini Islam dan saya tidak pernah mengancam mereka, kok. Lalu, kenapa mesti takut? Lalu, apa target Anda setelah masuk PPP? Apa yang ingin Anda benahi? Ya, sebetulnya saya tidak ingin banyak bicara dalam soal ini. Apalagi dalam kondisi puasa. Tidak dalam kondisi puasa pun kita semua harus bisa menahan untuk tidak banyak bicara. Sebab, dengan banyak bicara, ini bisa berbahaya (sambil menaruh telunjuk di mulut dan membelalakkan mata). Anda tahu kan, mulutmu adalah harimaumu juga. Dan dalam Al-Quran juga ditegaskan, bergunjing itu dosanya lebih besar daripada berzina. Makanya, Anda sebagai wartawan harus hati-hati, jangan mudah mempergunjingkan orang. Boleh saya simpulkan, Anda punya target untuk merekatkan kembali perpecahan di antara sesama umat itu melalui partai yang akan Anda besarkan itu? Ya, begitulah. Disintegrasi bangsa ini kan mulainya dari perpecahan antarkelompok. Sementara itu, ajaran agama menyatakan bahwa sesama muslim adalah saudaramu sendiri dan bagai dirimu sendiri. Jadi, jagalah persaudaraan itu sebagaimana kau menjaga dirimu sendiri. Mari kita lupakan masalah yang hanya demi memenuhi kepentingan politik. Bagaimana strategi Anda membangun PPP? Tolonglah, hal-hal seperti itu terlalu dini untuk ditanyakan. Saya tidak mau berandai-andai. Kita lihat dulu perkembangan nanti. Tapi, yang pasti, saya ingin membangun partai Islam itu yang tidak setengah-setengah. Kita harus total. Apa yang Anda bicarakan dengan jenderal-jenderal lain yang juga bergabung dalam PPP? Ada rencana bersama? Tidak, tidak ada sama sekali. Dan saya juga tidak pernah melakukan kontak dengan mereka. Mungkin saja mereka mendengar bahwa saya sudah masuk dan bergabung dengan PPP. Tapi saya tidak pernah berusaha mengajak atau memberi tahu mereka. Saat saya bertemu dengan mereka, saya sampaikan bahwa saya sedang mencari wadah untuk menyampaikan berbagai aspirasi, gagasan, atau ide-ide yang barangkali bisa bermanfaat bagi kepentingan bangsa dan negara. Dengan adanya wadah itu, saya berharap saya bisa menyumbangkan aspirasi saya secara optimal. Selama ini, saya menyampaikan aspirasi hanya melalui media-media, diskusi, dan diskusi interaktif di televisi. Rasanya, jika itu dilakukan terus ya jadi kurang optimal dan sia-sia. Jadi, sebaiknya saya masuk jadi pemain sehingga saya bisa merasakan langsung dampaknya. Apa saja yang sudah Anda bahas dengan para elite di PPP? Kami belum membahas apa-apa karena pertemuan itu sangat singkat. Meskipun ada sekitar satu jam, kami lebih banyak berbasa-basi dulu. Ya, hanya seputar menyampaikan maksud dan tujuan saya yang memerlukan saluran untuk menyampaikan aspirasi saja. Dan saat itu yang hadir banyak. Jadi, kesempatan bicara per orangnya sangat sempit. Siapa saja yang hadir saat itu? Di antaranya ada Hamzah Haz, Tosari Wijaya, Ali Marwan, Mulchis Anwar, Andi Ghalib. Ada tawar-menawar soal posisi kepengurusan PPP? Tidak. Saya masuk partai tidak dengan target harus memimpin. Suara atau gagasan saya bisa didengar saja, apalagi diterima, saya sudah bersyukur, kok. Anda punya hubungan cukup dekat dengan mereka yang hadir saat itu? Saya rasa lumayan dekat. Tapi, karena saya saat itu menjadi Kasospol, kedekatan saya tidak sampai sedekat hubungan batin. Biasa-biasa sajalah, he-he-he. Dengan Mulchis Anwar kan Anda dekat? Ya, mungkin karena kita sama-sama dari kesatuan yang sama. Dia dulu kan dari Kopassus juga, bahkan saya pernah satu mes dengannya. Tapi kita tidak saling mempengaruhi. Saya juga tidak diajak dia, sebaliknya saya juga tidak mengajak dia. Bagaimana dengan Andi Ghalib, apakah ada deal khusus dengan PPP? Tanya saja ke dia. Yang jelas, saya hanya pernah mengatakan, "Eh, kamu kok masuk juga ke PPP?" Dia cuma bilang, "He-he-he, ya." Cuma begitu, tidak lebih dari itu. Jadi, tidak ada kesepakatan atau deal apa-apa. Bagaimana komentar teman-teman TNI ketika Anda me-mutuskan bergabung dengan PPP? Saya tidak tahu, mereka tidak berkomentar apa-apa. Dan sampai sekarang juga tidak ada yang mengomentari. Entah kalau nanti. Yang jelas, sampai detik ini tidak ada yang menegur. Saya juga tidak akan takut pada para senior atau sesepuh TNI kita. Yang saya takuti hanya satu, yaitu Allah. Tapi sebagian dari teman-teman mengatakan cukup appreciate. PPP pernah mengusulkan mengembalikan Piagam Jakarta. Bagaimana Anda menyikapi persoalan ini? Jadi, begini ya. Yang ditentang dalam Piagam Jakarta itu karena adanya penerapan syariat Islam. Itu yang menjadi inti persoalan. Saya melihat kalangan umat Islam sendiri sepertinya kurang memahami konsep syariat Islam. Mereka kurang mendalami Al-Quran secara mendalam dan (kurang pula) memahami sunah Rasul, sehingga belum apa-apa sudah langsung menolak. Termasuk kawan-kawan kita dari golongan nonmuslim, yang selalu melihat bayangan syariat Islam yang menyeramkam. Jadi, mereka selalu dibayang-bayangi rasa takut. Padahal tidak seperti itu. Syariat Islam itu sebetulnya bagus dan baik, karena syariat Islam mengajak dan mengajarkan manusia agar berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Konsep syariat Islam, ya, harus merujuk pada perilaku dan ajaran Rasul. Misalnya, ketika Rasul menangkap seorang pembunuh atau pencuri. Penjahat itu (memang) ditangkap, kemudian ditanya dan lalu diberi roti. Itulah syariat Islam yang dimaksud. Bukan cara-cara atau pemikiran-pemikiran radikal. Lihat saja di Malaysia, semuanya bisa berjalan dengan baik. Kalau begitu, Anda setuju jika Piagam Jakarta diterapkan? Yang jelas, inti Piagam itu kan tentang syariat Islam. Jadi, kenapa kita tolak? Ajaran Islam itu sangat mulia. Saya kira tidak mungkin Piagam Jakarta akan bisa memecahkan umat, wong Islam mengajarkan supaya berdamai dan menciptakan kedamaian. Masa, kita tidak bisa menerima. Saya yakin, kalau ada umat Islam yang tidak menerima syariat Islam, mungkin karena dia hanya tahu verbalnya tapi tidak tahu Islam secara mendalam. Jadi, tidak perlu takut pada penerapan syariat Islam? Inilah yang harus kita luruskan. Saya siap untuk itu, karena saya selalu konsekuen bahwa keulamaan seseorang tidak harus selalu diukur dari lamanya gelar ulama disandang, tapi dari perilakunya. Termasuk akan mewajibkan perempuan memakai kerudung atau menerapkan hukum potong tangan, misalnya? Ya, sudah pasti, karena itu merupakan tuntunan ajaran Islam. Menutup aurat itu kan hukumnya wajib. Termasuk, misalnya, jika ada seorang pencuri, ya, harus dipotong jarinya jika tertangkap. Itu kan sudah jadi perintah Allah. Masa, harus kita langgar? Apakah Anda yakin, dengan diterapkannya syariat Islam, perpecahan sesama umat bisa direkatkan kembali? Saya yakin karena saya punya keyakinan bahwa ajaran Islam tidak diciptakan untuk memecah belah umat. Bagaimana cara merekatkannya? Ya, kita mulai dekati para tokohnya. Toh, selama ini saya punya hubungan yang cukup dekat dengan mereka. Jadi, tinggal kita dialogkan saja. Mengapa sikap dan pandangan seperti itu tidak Anda terapkan saja saat Anda aktif di militer? Terus terang saja, saat itu saya belum mendalami agama. Itulah kelemahan saya saat itu. Anda menyesal? Yang saya sesalkan adalah saya kurang mendalami agama secara mendalam, itu saja. O ya, bagaimana komentar istri dan pihak keluarganya, yang mayoritas nonmuslim, dengan masuknya Anda ke PPP? Tak ada masalah. Mereka semua bisa memahami itu, kok. Wong, mereka juga sangat paham betul bahwa saya ini seorang muslim. Jadi, istri saya juga ikut mendukung, termasuk keluarganya.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Syak Wasangka untuk Azzaitun

Buku

Sufi Kota, Sufi dengan Dasi

Catatan Pinggir

Rifangi

Seni Rupa

Potret Diri Sang Pelukis Rakyat

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif