• Home
  • 31 Desember 2001
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Surat
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 31 Desember 2001

    Potret Buram Perusahaan Negara

    TELKOM akhirnya menyelamatkan muka pemerintah. Pada pekan pertama Desember, pemerintah menjual 11,9 persen saham Telkom seharga Rp 2.600 per lembar. Lumayanlah. Sebab, dengan begitu, pemerintah bisa memasukkan Rp 3,1 triliun ke kas negara. Memang, ini berarti pemerintah gagal mencapai target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2001 sebesar Rp 6,5 triliun. Toh, ini masih lebih baik dibandingkan dengan tahun lalukarena pemerintah bahkan gagal menjual satu BUMN pun. Meski lebih baik dari tahun lalu, itu bukan berarti pemerintah telah berhasil membuat kinclong potret BUMN selama ini. Banyak BUMN yang masih dengan kinerjanya yang terseok-seok. Penjualan saham Telkom menunjukkan bahwa pemerintah tak punya pilihan perusahaan lain yang lebih baik. Pemerintah terlihat gamang ketika hendak menjual yang lain, termasuk Indofarma dan Kimia Farma, yang sudah masuk bursa tahun ini. Kegagalan penjualan 51 persen saham pemerintah di Semen Gresik adalah salah satu contoh menyesakkan yang lain lagi. Di sini terlihat bahwa pemerintah tidak mampu berunding dengan daerah dan tak bisa menjamin kepastian berusaha. Keputusan Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi yang memisahkan Semen Padang dan Semen Tonasa dari Semen Gresik pada awal Desember lalu ternyata tak menyelesaikan masalah. Bahkan akhirnya pemerintah menunda privatisasi di Semen Gresik. Penyertaan modal pemerintah (PMP) untuk PLN senilai Rp 27 triliun juga membuktikan kegagalan pemerintah mengelola perusahaan negara. Jika utang tak diambil alih, PLN pasti bangkrut. Apalagi tarif listrik PLN masih jauh di bawah harga pokoknya. Karena itulah pemerintah menaikkan tarif listrik tiap tiga bulan. Padahal inefisiensi masih tinggi. Audit Andersen menunjukkan inefisiensi di PLN pada 1995-1998 mencapai Rp 5,3 triliun. Inefisiensi memang masih menjadi soal besar yang dihadapi perusahaan pelat merah. Hasil audit terhadap lima BUMN (Telkom, Pelindo II, PTPN IV, Jasa Marga, dan Garuda Indonesia) yang dipublikasikan November lalu membuktikannya. Kelima BUMN ini selama kurun 1995-1999 mencatat kerugian akibat inefisiensi sebesar Rp 24,5 triliun. Perusahaan tambang timah, PT Timah, pada tahun 2001 tidak bisa menyetor dividen, antara lain, juga karena dililit persoalan inefisiensi. Tidak aneh, dengan kinerja seperti itu, setoran BUMN ke pemerintah pada tahun 2001 cuma Rp 8 triliun. Agaknya masih sulit mengharapkan aset-aset negara sebagai penambal anggaran. Apalagi, kalaupun aset layak dijual, banyak orang masih belum bisa menerima bila pembelinya adalah perusahaan asing. Protes terhadap privatisasi, entah apa pun motifnyanasionalisme atau karena kepentingannya terganggumasih akan menjadi pekerjaan rumah sulit 2002 yang harus dituntaskan pemerintah. M. Taufiqurohman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Shaikh Kabir Helminski: "Rumi Ibarat Gerbang Raksasa bagi Kemanusiaan"

Catatan Pinggir

Dengan Tiga Antidot

Fotografi

Tokoh Seni Fotografi:

Dunia dalam Rekaman Oscar Motuloh

Kemal Jufri:

Dari Balik Lensa

Seni Rupa

Yang Lahir dan Tumbuh dalam Gelanggang

Agus Suwage:

Menjajakan Karya yang Tidak Populer

Heri Dono:

Penyihir Seni Rupa Kontemporer Indonesia

Sastra

Ayu Utami:

Madonna dalam Sastra Indonesia

Joko Pinurbo:

Penyair Bertubuh Tipis dengan Hasrat Besar

Surat Dari Redaksi

SURAT DARI REDAKSI

Tari

Boi G. Sakti:

Kisah Sepuluh Kubik Pasir Bangka

Eko Supriyanto:

Di Panggung Bersama Madonna

Miroto:

Tubuh Penari yang Menyala di Atas Panggung

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif