• Home
  • 07 Januari 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Januari 2002

    Masuk ke Dalam Situasi

    Penyair & Kritik Sosial Penulis : Rendra Penerbit : Kepel Press, Yogyakarta, 2001 Tebal : viii + 162 halaman SEBELUM pergi ke Amerika untuk belajar teater secara formal (1964-1967), Rendra hanya dikenal sebagai penyair dan dramawan. Satu hal yang tampak amat mencolok adalah Rendra sangat serius belajar. Ia selalu membaca dan membaca. Kepada cantrik-cantriknya, ia mengenalkan jurnal-jurnal kebudayaan, yang pada awal 1960-an adalah majalah langka. Selama tiga tahun di Amerika itu, ia juga belajar sosiologi. Tampaknya, ia mendapatkan alat baru untuk melihat keadaan masyarakat di sekelilingnya. Karena itu, di Amerika, ia mulai menulis sajak-sajak kritik sosial, yang kemudian dikumpulkan dalam Blues untuk Bonnie. Puisi yang terkenal dalam kumpulan ini adalah Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta dan Nyanyian Angsa. Buku berjudul Penyair & Kritik Sosial adalah kumpulan pikirannya dalam bentuk esai-suatu penegasan kepada publik akan keterlibatannya dalam masalah masyarakat luas. Sementara itu, Rendra sudah dikenal sebagai penyair kritik sosial seperti tampak dalam kumpulan sajaknya Potret Pembangunan dalam Puisi. Buku ini memuat 19 judul esai. Dalam esainya yang pertama, "Peran Penyair di Negara Sedang Berkembang" (hlm. 3-7), ada pernyataan yang penting pada bagian akhir. Ia menulis, "Sukses tidaknya saya sebagai penyair tentu saja ditentukan oleh kemampuan kreatif saya secara pribadi. Tetapi bila memang ada kemampuan kreatif saya semacam itu, saya akan mengikatkannya kepada nasib bangsa saya yang masih miskin kemungki nan dibanding dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju di dunia. Itulah pilihan saya di dalam hidup ini" (hlm. 7). Mengikatkan diri pada nasib bangsa menunjukkan keberpihakannya. Seperti pernah dikemukakannya secara lisan di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, sejak kecil Rendra dilatih oleh Janadi untuk mlebu sak jroning kahanan, yakni masuk ke dalam situasi, dalam rangka nggayuh kersaning Hyang Widi, menangkap apa yang dikehendaki Tuhan. Dengan kata lain, keterlibatannya dalam berbagai per-soalan sosial mempunyai tujuan yang lebih tinggi dan bukan untuk kepentingan pribadinya: memperkaya diri, mencari ketenaran, memburu pangkat, dan lain-lain. Ia, seperti tokoh Arjuna dalam wayang, memilih tapa ngramé, yaitu prihatin bersama rakyat dan tidak hidup menyendiri. Apabila ini diakuinya sudah dihayati sejak kecil, sebenarnya esai-esai dalam kumpulan ini merupakan salah satu wajah Rendra. Pada 1973, sebuah skripsi sarjana dengan judul W.S. Rendra, Penyair & Imajinasinya yang ditulis oleh Anton Y. Laké terbit. Di sana diuraikan bagaimana ia terus-menerus mempertanyakan kembali fakta (hlm. 75). Dalam buku kumpulan esai ini, Rendra sendiri menulis, "Saya berorientasi pada fakta, jadi tidak pada kesimpulan. Fakta di-analisa lalu baru melecut kesimpulan dari penghayatan" (hlm. 11). Orientasi kepada fakta ternyata untuk menegakkan moral. Ia menulis, "...untuk menjaga daya hidup pribadinya dan daya hidup masyarakatnya, manusia harus membatasi keinginannya dalam batas-batas peraturan yang bisa disebut Hukum Kewajaran," yang terdiri atas "Hukum Alam, Hukum Masyarakat dan Hukum Akal Sehat" (hlm. 19). Apa yang disebut dengan "moral" bukan berarti masalah baik-buruk, tapi menjaga "daya hidup," yaitu suatu daya yang memungkinkan kelangsungan hidup bersama. Inilah perjuangan Rendra melalui puisi kritik sosial dan esai yang dikumpulkan dalam buku ini. Sejak saya mengenalnya awal 1960-an, ia tidak pernah tertarik pada ideologi politik apa pun. "Komitmen saya kepada daya hidup," tulisnya (hlm. 19). Sikapnya membela daya hidup tampak jelas pada "Surat Terbuka untuk Bob Geldof" (hlm. 92-95). Pada pertengahan 1980-an, ada pembajakan kaset video Live Aid. Geldof marah dan menuntut agar pajak pembajakan itu diserahkan kepadanya. Dan Rendra, dengan surat terbuka itu, mendudukkan masalahnya dengan jernih dan adil. Mungkin, kesadaran tinggi terhadap daya hidup itu karena ia terus-menerus merenungkan berbagai peristiwa sejarah yang di-minatinya. Dalam suatu ceramah, Rendra menjelaskan bahwa pada masa kejayaan Demak bermunculan temuan hebat, antara lain terasi, bahan untuk membuat sambal. Dalam esai "Berjuang dan Bangkit: Contoh Stamina Kebudayaan" (hlm. 109-117), uraian sejarah itu tampak lagi. Menurut saya, buku ini penting sekali, bukan saja untuk lebih memahami karya-karya Rendra, tapi juga sebagai suatu tawaran pikiran untuk menghadapi hidup ini. Gayanya yang lugas dan jernih menjadikan kumpulan esai ini memberikan tawaran estetika sastra tersendiri. Bakdi Soemanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Masuk ke Dalam Situasi

Catatan Pinggir

Teritorium

Layar

Are We Inviting Foreign Intervention?

TEMPO|interaktif

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

Teknologi

Badak Ternyata Bisa Juga Cemburu

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif