MADURA dan pamong praja ada dalam darah dan jiwa Moehammad Noer. Sebab, bagi Gubernur Jawa Timur periode 1967-76 itu, menjadi birokrat dan pemerintah sudah merupakan panggilan jiwa sejak Noer muda lulus dari MOSVIA, sekolah pamong praja pemerintah kolonial Belanda, pada 1939. Noer merasa harus berbuat sesuatu untuk memperbaiki kondisi masyarakat yang sangat miskin. Sejak penempatan pertama sebagai pegawai pemerintah daerah di Sumenep hingga menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, ia selalu mengabdi dan mengutamakan kepentingan rakyat. "Saya ini khadam, pelayan rakyat," katanya.