• Home
  • 14 Januari 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Januari 2002
    Bengkulu

    Musim Buah Berbuntut Diare

    MUSIM buah ditambah musim hujan biasanya menimbulkan musim yang lain: sakit perut. Itulah yang terjadi di Bengkulu ketika wabah diare massal menyerang. "Mereka terlalu banyak mengonsumsi buah-buahan," kata Syarnubi Syarif, Camat Kaur Selatan, Bengkulu, menjelaskan penyebab penyakit itu. Akibatnya, selama dua pekan lalu tercatat 10 orang meninggal dan sedikitnya 408 orang dirawat di rumah sakit. Tentu saja, penyebab penyakit ini tak bisa sepenuhnya dibebankan pada sang buah. Lingkungan kotor lebih tepat disebut sebagai penyebab utama. Nelayan di Desa Sukaraja, salah satu daerah yang terkena musibah, misalnya, biasanya lebih senang membuang hajat di pinggiran sungai yang jelas meluap di saat banyak hujan. "Jamban keluarga sebenarnya ada, tapi warga lebih suka menggunakan sungai," kata Darmansyah, kepala desa setempat. Jumlah penderita yang membengkak ini tak tertangani oleh dua dokter yang ada di puskesmas di Kaur Selatan. Karena itu, Pemda Bengkulu Selatan segera memerintahkan semua bidan yang ada di wilayah itu agar membantu para pasien. Selain itu, Dinas Kesehatan pemda setempat juga menurunkan sebuah tim kesehatan yang dilengkapi rectal wab, sebuah alat pendeteksi penyakit kolera. Alat tersebut dikirim karena ditemukan korban yang meninggal empat jam setelah diare menyerang. Wabah diare bukan barang baru di Bengkulu Selatan. Namun, korban tidak sebanyak kali ini. Juni tahun lalu, Kecamatan Seluma dan Muanasal juga terkena wabah serupa. Tercatat lima warga meninggal dunia saat itu. Zed Abidien, Prasidono L., dan Tempo News Room

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Ketika Layar Putih Dimulai di Asia

Catatan Pinggir

Oklahoma

TEMPO|interaktif

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif