| Wajarkah bantuan Presiden Megawati sebesar Rp 30 miliar untuk pembangunan asrama polisi dan tentara? (29 Maret - 5 April 2002) | ||
| Ya | ||
| 61% | 307 | |
| Tidak | ||
| 35,6% | 179 | |
| Tidak tahu | ||
| 3,4% | 17 | |
| Total | 100% | 503 |
PRESIDEN Megawati Sukarnoputri menyumbangkan dana untuk pembangunan asrama dan perumahan anggota TNI dan Kepolisian RI. Jumlahnya, Rp 30 miliar, sesungguhnya tak banyak jika dibandingkan dengan jumlah prajurit kita. Tapi, di luar soal nilai uangnya, sumbangan itu ditanggapi negatif oleh kalangan anggota DPR.
Dua pekan lalu, belasan anggota parlemen menyiapkan usul pembentukan panitia khusus (pansus). Niatnya, mereka menanyakan asal-muasal dana yang dipakai Megawati menyumbang tentara. Para anggota dewan ini curiga, pemerintah meng-gunakan sejumlah dana yang tak jelas pertanggungjawabannya untuk merangkul militer.
Usaha interpelasi yang kemudian di-sebut-sebut sebagai asramagate itu kemudian kehilangan gemanya setelah Wakil Presiden Hamzah Haz, yang juga Ketua Umum PPP, menyatakan sumbangan itu masih wajar dan, karena itu, partainya tak akan mendukung usul pembentukan pansus.
Begitupun, selain usul pansus itu belum padam benar, ada hal yang pantas disikapi dari kasus tersebut. Bahwa presiden punya hak menyumbang, itu tentu tak salah. Bukankah banyak anggota masyarakat yang memang mengajukan permohonan bantuan kepada presiden? Soalnya adalah dari mana dana itu harus diambil.
Di masa lalu, ada pos khusus untuk bantuan presiden ini. Namanya dana banpres. Namun, karena penggunaannya cenderung tak transparan, pos ini dibekukan. Repotnya, permintaan bantuan tetap mengalir ke Istana. Rakyat tetap berpikir, presiden pasti punya duit.
Karena itu, ada usul yang dianggap sebagai jalan tengah. Di masa datang, perlu ada pos khusus dalam APBN untuk dana bantuan presiden. Syaratnya: jumlahnya jelas dan pemakaiannya pun mesti transparan serta berdasarkan skala prioritas. Jadi, nantinya perdebatan tak lagi soal presiden boleh menyumbang atau tidak.
| Jajak Pendapat Pekan Depan:
Konflik Timur Tengah, antara Israel dan Palestina, terus memanas. Israel menggempur wilayah Palestina secara besar-besaran. Sebanyak 20 ribu anggota pasukan, ratusan tank, dan sejumlah helikopter tempur dikerahkan untuk mengepung kediaman Pemimpin Otoritas Palestina, Yasser Arafat, di Ramallah. Kecaman pun ditudingkan banyak negara kepada Israel atas aksinya itu. Di Indonesia, selain mengutuk, ada sejumlah pihak yang memobilisasi massa sukarelawan untuk dikirim ke Timur Tengah buat mendukung Palestina. Ada yang mendukung tindakan ini, tapi tak kurang yang menolaknya. Alasan yang tak setuju, selain tindakan itu berarti ikut campur urusan negara lain dengan solidaritas berlebih?sementara solidaritas sejenis tak diperlihatkan kepada rakyat Aceh, misalnya?dikhawatirkan cara itu dapat memicu ketegangan antarkelompok di dalam negeri. Bagaimana pendapat Anda sendiri? Suarakan melalui situs www.tempointeraktif.com. |
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
