• Home
  • 15 Juli 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Juli 2002

    Perbincangan dengan Garin

    Membaca Film Garin Penulis : Philip Cheah, Tony Rayns, Seno Gumira Ajidarma, dll. Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Maret 2002 Membaca Film Garin mengingatkan saya pada sebuah buku lain pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, yakni Memahami Gus Dur. Saat itu, kiranya semua masih ingat: gagasan apa pun yang keluar dari kepala Gus Dur menimbulkan perbincangan seru. Perbincangan seru ini yang dibutuhkan Indonesia, setelah berpuluh tahun mengalami masa penyeragaman pikiran dan takut bicara. Tapi, dalam konteks seorang presiden, rupanya hal ini dianggap terlalu mahal. Saya kutip dari ingatan saja pendapat seorang pengamat politik yang saya lupa namanya. Dia menanggapi buku itu kira-kira seperti berikut: "Apakah perlu sampai dibuat buku Memahami Gus Dur, dan buku itu harus dibaca lebih dahulu, untuk berkomunikasi dengan seorang presiden?" Sang pengamat sebetulnya tidak berkeberatan dengan gagasan Gus Dur yang mana pun. Tapi ia sedang bicara tentang efisiensi. Bagaimana pemerintahan bisa berjalan jika untuk memahami pikiran seorang presiden diperlukan sebuah buku? Begitulah. Lain kesenian, lain pemerintahan. Pemerintahan, kepresidenan, adalah suatu praktek kehidupan sehari-hari yang konkret, berhubungan dengan tetek-bengek administrasi dan semacamnya, yang lebih menuntut kemangkus-dan-sangkilan ketimbang pikiran-pikiran besar. Dampak dari kecanggihan pikiran Gus Dur sudah terlihat, yakni banyak yang memanfaatkan ketidakpahaman orang banyak untuk men-jatuhkannya. Namun, sementara pemerintahan yang begitu vital dalam kehidupan bernegara harus serba jelas dan mudah dipahami, apakah, misalnya, kesenian boleh saja ngawur dan ngibul? Rupa-rupanya juga tidak. Maka, seorang sutradara seperti Garin Nugroho, yang niscaya menghargai kemerdekaan berpikir, juga merasa perlu menerbitkan sebuah buku yang diandaikan bisa menjadi semacam pengantar untuk memahami film-filmnya. Meskipun mendapat berbagai penghargaaan internasional, film-film Garin dianggap sulit dimengerti sehingga akhirnya tak dapat dinikmati. Antara penghargaaan dan sulitnya pemahaman adalah paradoks dalam karya Garin. Seberapa sahihkah konstruksi yang membentuk Garin selama ini? Harap maklum, banyak orang yang tadinya sinis dengan cara bercerita Garin kemudian selalu memujinya-tanpa bisa menjelaskan alasannya-hanya karena menganggap penghargaan internasional akan menjamin kebagusan film-film tersebut. Saya kira inferioritas semacam ini amat menyedihkan. Apakah orang Indonesia tidak punya sikap, cara berpikir, dan argumentasi sendiri untuk menghargai ataupun memandang secara kritis terhadap film-film Garin? Saya kira suatu pandangan Indonesia akan menjadi amat relevan karena dalam konteks keindonesiaan itulah Garin sebetulnya bermain. Artinya, kalau Garin mungkin bisa mengibuli dunia-bukan-Indonesia-misalnya dengan eksotisme atau "kibul-kibul semiotik" lainnya-belum tentu ia bisa mengibuli penonton Indonesia dengan hal itu. Kecuali bila orang Indonesia ini silau dengan segala sesuatu yang datang dari dunia "maju". Saya sendiri beranggapan bahwa dengan pencapaiannya di bidang film dokumenter dan iklan layanan masyarakat (Inga! Inga!), kemampuan bertutur secara "jelas" sebetulnya dia kuasai dengan baik. Pada saat ia membuat "film seni", ia membebaskan dirinya dari keterkungkungan bahasa "jelas" yang mereduksi ekspresi. Pada gilirannya, para pengamatlah yang harus mengibul untuk membuktikan seolah-olah dirinya mengerti betul segala kibulan Garin. Kondisi ini bukan tidak berdampak pada Garin sendiri. Dalam buku itu saya menulis bahwa sinema Garin adalah proses sosialisasi sebuah narasi: semakin kemari, film-filmnya menjadi semakin mudah berkomunikasi. Jadi, perbincangan itu sebenarnya berlangsung. Garin tidaklah secuek seperti yang bisa diprasangkakan oleh film-filmnya. Pentingnya perbincangan itulah yang ingin saya tekankan di sini. Penting adanya usaha agar saling mengerti dan memahami untuk berlangsungnya kehidupan bersama yang sehat, karena kejelasan itu tidak terletak dalam film-film Garin; film-film itu tidak akan pernah berubah bentuk. Kejelasan itu terletak pada cara memandangnya, sebagai bagian dari usaha memahami perbincangan. Usaha berkomunikasi harus selalu dihargai di negeri ini, betapapun sulitnya. Telah terbukti bagaimana kegagalan komunikasi bisa menumpahkan darah. Untunglah, Garin tidak punya risiko seperti Gus Dur atau saudara-saudara kita di Ambon. Seno Gumira Ajidarma, pegawai Pusat Dokumentasi Foto Jakarta

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Mencari dan Menemukan Isma

Perbincangan dengan Garin

Catatan Pinggir

Taj Mahal

Indonesiana

Perjalanan Religius Seekor Penyu

Pengantin Semalam

Layar

Memburu Labah-labah Merah dari Pasundan

Batman pun Menonton Wayang Kulit

Lokalisasi Superhero

Seni Rupa

Hitam-Hitam untuk Dadang

Ralat

RALAT

TEMPO|interaktif

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif