• Home
  • 15 Juli 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Juli 2002

    Lokalisasi Superhero

    Seno Gumira Ajidarma Pegawai Pusat Dokumentasi Foto Jakarta Spider-Man dikeroyok oleh Gatotkaca dan Antareja? Salah. Bukanlah jelmaan Peter Parker gubahan Stan Lee yang dikerubut itu, melainkan Labah-Labah Merah yang ditiru Kus Br tentunya memang terinspirasi oleh Spider-Man. Apakah Labah-Labah Merah begitu jahat dan begitu saktinya sehingga ia perlu dipegang kedua lengannya oleh Antareja dan dipukul perutnya oleh Gatotkaca, tentu saja dengan ajian Brajamusti? Salah lagi. Ternyata yang tampak adalah Gatotkaca dan Antareja palsu, yang dalam aksi kejahatannya terlibat suatu konflik kekerasan dengan Labah-Labah Merah yang, seperti juga Spider-Man, adalah seorang superhero, seorang adipahlawan pembela "kebenaran" (Kus Br, Labah-Labah Merah Kontra Hercules, 1973). Nah, kebenaran macam apakah kiranya yang bisa diuraikan, jika Labah-Labah Merah diprasangkakan sebagai tiruan atawa jiplakan atawa plagiat daripada Spider-Man? Pada 1973, tak terbayang tentunya oleh Kus Br bahwa kelak di tahun 2002 akan beredar film box office berjudul Spider-Man, dengan segenap kelengkapan data asal-usulnya yang bisa dilacak melalui internet, oleh setiap hidung dari pojok gelap mana pun di Indonesia. Masalahnya, apakah cukup adil untuk menghakimi Kus Br, dan hampir semua komikus Indonesia yang menggubah superhero dengan "inspirasi" dari superhero Amerika produksi Marvel dan DC Comics, begitu saja tanpa memeriksa bagaimana superhero global itu ternyata bisa dikembangkan dengan warna lokal secara kreatif? Superman kaget melihat Labah-Labah Merah yang dikiranya Spider-Man ketika datang ke Indonesia untuk bergabung bersama para superhero Indonesia melawan monster. Dalam percakapan di sela pertarungan, dalam bahasa Inggris, Labah-Labah Merah berkata, "Saya bukan Spider-Man, tapi saya memang seperti dia." (Hasmi, Bentrok Jago Dunia, 1974). Superman tentu lebih kaget lagi jika bersua dengan Kawa Hijau karya Cancer, yang juga berkostum Spider-Man tapi berwarna hijau; atau juga seorang pendekar golongan hitam dalam komik karya Subijakto yang menggunakan kerudung wajah Spider-Man itu sebagai kostumnya, sementara, karena ini komik silat, ia tak bersepatu, hanya mengenakan celana sebatas betis dan menyorenkan pedang. Globalisasikah ini? Pada tahun 1970-an, dengan dibukanya pintu perdagangan ke Amerika Serikat sebagai antitesis Orde Baru terhadap Orde Lama, komik Amerika itu sudah masuk secara legal tanpa harus diterjemahkan, sebagai buku murah berwarna meriah. Kisah-kisah superhero, dari Superman, Batman & Robin, Fantastic Four, Captain America, Green Lantern, Silver Surfer, Thor, Spider-Man tentunya, sampai Daredevil, yang biasa muncul dalam kemasan mingguan tipis di negara asalnya, di Indonesia tampil dalam bentuk "komik bundel" yang bisa dibaca sekaligus sampai tamat, dengan isi berbagai superhero pula. Boleh dibayangkan, komik bundel ini menjadi referensi para komikus untuk menggubah tokoh-tokohnya sendiri. Goenawan Mohamad telah mencatat, dalam tulisannya berjudul Dari Dunia Superhero: Sebuah Laporan (1977), bagaimana para superhero lokal itu dibumikan dengan rendah hati oleh para penggubahnya. Gundala Putra Petir, misalnya, jelas berdomisili di Yogya, dan dalam aksi-aksi penyelamatannya sempat nyelonong ke tobong wayang orang (Hasmi, Gundala Cuci Nama, 1977). Gundala, yang bisa berlari secepat kilat, juga jelas diilhami oleh Flash. Tapi, menurut selera saya, Gundala jauh lebih hidup dan unik. Dengan kata lain, globalisasi itu menghadapi lokalisasi. Dan dalam pendekatan salah satu teori Cultural Studies, jika suatu hegemoni tidak mendapat resistansi, masih mungkin terhadapkan pada negosiasi: globalisasi justru menjadi inspirasi untuk menumbuhkan wacana kebudayaan. Seperti ketika hamburger berhadapan dengan rendang, yang di Indonesia tentu lebih superior, dan menghasilkan McRendang. Maka, Godam karya Wid N.S. tidak minder ketemu Superman. Kapten Halilintar karya Jan Mintaraga tak usah malu-malu kucing dalam bayang-bayang Captain America, karena Pangeran Mlaar karya Hasmi lebih memikat ketimbang Elongated Man. Serta Aquanus, juga karya Wid N.S., toh lebih meyakinkan dibanding Aquaman. Bahwa Labah-Labah Merah yang seratus persen mirip Spider-Man bisa menghadapi masalah dalam sambaran Undang-Undang Hak Cipta, keputusan pengadilan baru sahih jika sempat diperdebatkan bagaimana hubungan antara produksi budaya dan budaya produksi, misalnya, telah membuat manusia berkostum Spider-Man terlibat konflik dengan dua manusia lain berkostum Gatotkaca dan Antareja dari khazanah wayang orang. Begitulah kibul siapa di muka bumi ini yang paling orisinal?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Mencari dan Menemukan Isma

Perbincangan dengan Garin

Catatan Pinggir

Taj Mahal

Indonesiana

Perjalanan Religius Seekor Penyu

Pengantin Semalam

Layar

Memburu Labah-labah Merah dari Pasundan

Batman pun Menonton Wayang Kulit

Lokalisasi Superhero

Seni Rupa

Hitam-Hitam untuk Dadang

Ralat

RALAT

TEMPO|interaktif

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

Nasional

Apa yang Terjadi Jika Ruang Sidang Tipikor Sepi Kasus ?

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif