• Home
  • 15 Juli 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 15 Juli 2002

    Hitam-Hitam untuk Dadang

    EMPAT belas patung manusia setinggi 2 meter itu kini tersudut di gudang. Seluruh tubuh sampai kakinya masih dibungkus kain hitam. Sedangkan kepalanya dibenam tas keresek hitam. Hanya kedua belah telapak tangannya yang tak ditutupi. Tangan itu seharusnya menggotong tubuh-tubuh tanpa kepala. Tapi "mayat-mayat" itu tergeletak, bertebaran begitu saja di petak lain gudang. Sedianya patung-patung tanah liat dari perupa Dadang Christanto itu dipajang di halaman depan Bentara Budaya, Jakarta, sampai 14 Juli. Tapi, atas protes warga sekitar, nasibnya jadi lain. Patung-patung itu adalah karya utama Dadang dalam pameran Kengerian Tak Terucapkan. Perupa yang kini menetap di Darwin, Australia, ini aslinya membuat patung-patung telanjang wanita dan laki-laki. Karakter patung ini mirip 1.001 patung yang ditaruhnya di Pantai Ancol pada 1995: kepala plontos, torso kaku, muka tanpa ekspresi. Cuma, kali ini ia membopong "mayat" bersarung, berbatik, simbolisasi rakyat jelata. Senin, 1 Juli, halaman Bentara mulai ditata. "Mulanya banyak anak-anak kampung dolanan di sini, nyengir-nyengir melihat penis patung," kata Hotden S., satpam Bentara Budaya. Mungkin dari mulut ke mulut berita itu sampai ke kampung. Hari Selasa, rukun warga setempat mengirim surat ke Humas Kelompok Gramedia Group. Surat pernyataan itu ditandatangani 34 warga. Bila dalam 1 x 24 jam patung itu tidak ditutupi, mereka akan mengambil tindakan sepihak. Negosiasi terjadi dan keesokan harinya Dadang membungkus patung-patungnya dengan kain hitam-hitam. Hasilnya adalah sebuah karya lain yang tak kalah mencekam. Sunaryo, perupa Bandung, pernah membungkus patungnya dan hitam-hitam itu menimbulkan kesan sublim, mistis. Pada Dadang, hitam-hitam itu menimbulkan kesan misterius, berdarah. Sosok-sosok itu melayangkan ingatan kita pada "ninja-ninja pembunuh" yang berkeliaran malam-malam di Banyuwangi atau di Ambon. Juga pada korban hukuman mati. Di hari pembukaan, Kamis, 4 Juli, patung-patung "seribu makna" itulah yang disajikan kepada hadirin. Tapi kemudian, Jumat, di Masjid At-Taqwa, dekat Pasar Palmerah, saat salat Jumat, khatib menyinggung soal patung itu, bahkan membacakan tuntutan warga. Ini membingungkan karena, bila alasan penolakan adalah pornografi, nyatanya patung sudah hitam-hitam. "Seharusnya pihak humas melakukan check dan recheck ke warga, tidak langsung 'kalah'," ungkap Hendro Wiyanto, kurator pameran ini. Soalnya, sedari awal, surat pernyataan warga sudah berkesan dibuat-buat. Ada nama warga yang sudah meninggal dicantumkan ikut menandatanganinya. Untuk Dadang, ini pameran penting, semacam healing (penyembuhan) yang dipendamnya bertahun-tahun. Di sini, ia mengutarakan sebuah "rahasia" pribadi. Ayahnya hilang saat geger PKI. Pada 1965, saat berumur 8 tahun, ia menyaksikan bapaknya diciduk dan tak pernah kembali. Lalu, setelah peristiwa Mei 1998, selama di Darwin, ia banyak mengolah tema itu. Majalah Asiaweek pernah memuji penampilannya di Asia-Pacific Triennial of Contemporary Art I di Brisbane pada tahun 2000. Dalam Fire in May 1998 itu, ia membakar 47 patung lambang korban pemerkosaan, membuat syok lebih dari 5.000 hadirin, sampai di antaranya ada yang menangis. Di Bentara ini ia juga menghadirkan Red Rain. Ada 1.965 gambar kecil kepala ditempelkan di asbes ruangan dengan 1.965 benang merah menjelujur sampai lantai. Kesannya seperti hujan darah atau air mata darah. Dalam Cannibalism: the Memory of Jakarta Solo 13, 14, 15 Mei 1998 yang juga muncul, ia menghadirkan sebuah panggangan barbeque. Tapi imajinasi kita menunjukkan itu bukan untuk daging sapi atau kambing, tapi buat daging manusia. Ironis, di Jakarta, Dadang tak menghadapi sensor negara, tapi sensor masyarakat yang justru dibelanya. Ada yang melihat itu konsekuensi dari sebuah karya yang ditempatkan di ruang publik. Orang yang lalu-lalang bisa merespons apa saja. Di setiap tempat, respons bisa berbeda. Tak ada yang memprotes dalam pameran 1.001 manusia tanah di Ancol pada Ramadan 1995. Padahal pameran karya Pius Sigit Kuncoro yang bertema keluarga telanjang di dalam ruangan tertutup di Kedai Kebun, Yogyakarta, Januari 2001, mendapat surat kaleng. Esoknya, gambar-gambar itu digantung terbalik (gambar menghadap dinding). Agaknya, pameran Dadang, di samping membuktikan masalah sosial masih bisa memukau secara artistik, juga membuka diskusi bagaimanakah se-harusnya sikap perupa menghadapi ancaman masyarakat bagi karya-karya yang digelar di ruang publik. Seno Joko Suyono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Pelantikan

TEMPO DOELOE

Buku

Mencari dan Menemukan Isma

Perbincangan dengan Garin

Catatan Pinggir

Taj Mahal

Indonesiana

Perjalanan Religius Seekor Penyu

Pengantin Semalam

Layar

Memburu Labah-labah Merah dari Pasundan

Batman pun Menonton Wayang Kulit

Lokalisasi Superhero

Seni Rupa

Hitam-Hitam untuk Dadang

Ralat

RALAT

TEMPO|interaktif

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif