• Home
  • 29 Juli 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Juli 2002

    Jangan Biarkan Dwikarna Merana

    Agus Dwikarna benar-benar apes. Di saat teman-temannya, Tamsil Linrung dan Jamal Balfas, bisa berleha-leha, ia malah keserimpet malapetaka. Dua minggu lalu, atas tuduhan memiliki bahan peledak dan pelanggaran keimigrasian, Pengadilan Pasai City, Manila, memvonis Agus dengan hukuman 10 tahun penjara plus denda 50 ribu peso. Kontan saja Agus tidak mau menerima keputusan itu. Tim pengacaranya langsung mempertimbangkan untuk meminta pengadilan ulang atau naik banding. Sejak semula, kasus Agus Dwikarna memang diwarnai nuansa politis yang kental. Banyak pihak beranggapan penangkapan Agus bersama dua rekannya itu tak lain merupakan tindakan overacting pemerintah Filipina untuk menyenangkan pihak Amerika Serikat. Setelah meletup peristiwa 11 September, pemerintah AS mendadak galak terhadap berbagai gerakan yang berbau terorisme. Agus merupakan aktivis Komite Penanggulan Krisis (Kompak), yang banyak melakukan kegiatan di daerah konflik seperti Ambon dan Poso. Ia dianggap sebagai bagian dari jaringan yang berbahaya itu. Benarkah demikian? Sebanyak 89 persen responden TEMPO menganggap Agus Dwikarna bukanlah sosok teroris. Bahkan mereka menganggap vonis yang ditimpakan padanya tak lain merupakan bentuk diskriminasi terhadap Islam. Dengan perlakuan itu, umumnya mereka meminta agar pemerintah segera turun tangan untuk melakukan upaya membebaskan Agus Dwikarna, termasuk melakukan pembicaraan dengan Presiden Filipina, Gloria Macapagal-Arroyo. Namun pemerintah sepertinya tidak ingin gegabah dalam kasus ini. Alasannya, mereka tidak ingin mencampuri urusan negara lain. Alhasil, hingga pekan lalu upaya yang mereka lakukan hanya sebatas menambah jumlah kuasa hukum. "Dari satu orang pengacara, kini ditambah dua orang pengacara," kata Marty Natalegawa, juru bicara Departemen Luar Negeri RI, kepada Tempo News Room Selasa pekan silam. Di tingkat lebih tinggi, lobi terhadap Presiden Arroyo ternyata baru angan-angan. Kepada rombongan Front Pembela Islam yang menemuinya Senin pekan silam, Wakil Presiden Hamzah Haz memang menjanjikan akan melakukan usaha serius dalam menangani masalah ini. Namun, mohon maaf, hingga sepekan lewat ternyata janji itu belum kelihatan bentuknya. Adakah ini pertanda bahwa Agus Dwikarna dibiarkan merana sendirian? Jawabannya ada pada yang memberi janji.

    Irfan Budiman


    Apakah pemerintah Indonesia perlu meminta Presiden Arroyo agar membebaskan Agus Dwikarna?
    Ya62,43%
    Tidak37,57%
     
    Jika ya, apa alasan Anda?*
    Agus belum tentu bersalah62,04%
    Vonis Agus lebih bernuansa politis ketimbang hukum41,05%
    Untuk menjaga hubungan diplomatik kedua negara32,10%
    Pengadilan Filipina diskriminatif terhadap Agus26,54%
    * Responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
     
    Jika tidak, apa alasan Anda? *
    Hubungan diplomatik kedua negara bisa terganggu46,15%
    Agus masih bisa mengajukan banding39,49%
    Vonis untuk Agus merupakan urusan pribadi, bukan negara25,64%
    Pengadilan Filipina mandiri terhadap intervensi politik24,62%
    * Responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
     
    Bagaimana sikap Anda terhadap vonis Agus?
    Mengutuk vonis Agus47,40%
    Bersimpati dan ingin mendukung pembebasan Agus33,53%
    Tak peduli karena bukan urusan saya11,37%
    Tunggu reaksi pro dan kontra dari masyarakat terlebih dahulu7,71%
     
    Apakah Anda menilai vonis terhadap Agus merupakan diskriminasi terhadap aktivis Islam?
    Ya67,05%
    Tidak32,95%
     
    Apakah Anda yakin Agus merupakan sosok yang pantas dianggap sebagai teroris?
    Ya10,60%
    Tidak89,21%
     

    Metodologi jajak pendapat :

    Jajak pendapat ini dilakukan oleh Majalah TEMPO, bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 519 responden di lima wilayah DKI, pada 20-23 Juli 2002. Taksiran parameter kesalahan (margin of error) sampel diperkirakan sebesar 5 persen. Penarikan sampel dikerjakan melalui metode acak bertingkat (multi-stages random sampling) dengan unit kelurahan, RT, dan kepala keluarga. Pengumpulan data dilakukan lewat kombinasi antara wawancara tatap muka dan wawancara melalui telepon.

    Independent Market Research
    Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Habis Tertiup di Saat Bersin

Sen Terakhir bagi Pemalak

Catatan Pinggir

Nomor

Indonesiana

Pencuri Kemalingan

Rumah Dinas Kontrakan

Seni Rupa

Asosiasi Tubuh dan Kata-Kata

TEMPO|interaktif

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

Artika Jual Baju Hingga ke Australia Via Facebook

Internasional

Rusia Pikir Amerika Sabotase Sukhoi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif