Bukit Tinggi dan Padang membentuk fondasi kesadaran religius dan politik Hatta dalam tahun-tahun pertumbuhannya. Dalam rumah rumah kayu tempat ia dilahirkan, surau tua, bahkan perpustakaan yang penuh jelaga, roh anak Minang itu tetap hidup dalam ruang dan waktu masa silam.
Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta.
Di Belanda, Hatta mematangkan diri sebagai pemikir dan aktivis gerakan. TEMPO menapaki kembali beberapa tempat yang dulu pernah disinggahi proklamator itu.