• Home
  • 12 Agustus 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 12 Agustus 2002

    Beberapa Jam di Tanah Buangan

    Di dalam bilik Cessna, gadis remaja itu duduk tak tenang. Ia sedikit gentar, tapi rasa ingin tahunya membuncah. Sebentar kemudian pesawat kecil itu meliuk, lalu terbang rendah di atas sungai cokelat yang membelah hutan raya. Kali Digul! Tiba-tiba anak bungsu Mohammad Hatta, perempuan kecil di pesawat mungil itu, merasakan jantungnya berdetak makin cepat. Halida Nuriah Hatta tak pernah melupakan peristiwa itu. Ia masih 14 tahun waktu itu. Beberapa saat setelah menghadiri Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Irian Jaya, 1969, ayahnya mengajak menengok Digul alias Tanah Merah, tempat Bung Hatta dibuang Belanda 34 tahun sebelumnya. Hari itu bersama kakaknya, Meutia, ibu dan ayahnya, Halida mengunjungi "Gulag Indonesia" itu dalam sebuah lawatan singkat, hanya beberapa jam. Begitu kaki Halida menjejak tanah, udara terasa lembut dan manis-masih seperti 40 tahun yang lalu. Matahari bulan Agustus berkilau di atas sungai keruh. Alam Digul hampir tak berubah, seperti tak pernah tersentuh tangan. "Betapa tertinggalnya daerah ini, masih seperti ketika Ayah ditahan dulu," kata Halida, menirukan ucapan Bung Hatta. Kunjungan pendek itu, tak bisa tidak, mematrikan kenangan yang dalam bagi Halida. Mereka mendatangi rumah bekas tempat tinggal Hatta semasa pembuangan. Bangunan itu tak terpelihara. Hampir roboh. Halida terharu membayangkan ayahnya dulu mesti bertahan hidup di tengah alam yang ganas. "Tak mengherankan Ayah kena malaria," kenangnya. Selain Digul, Halida juga pernah mengunjungi Banda Neira, tempat "pembuangan" Hatta yang lain. Waktu itu, April 1973, Bung Hatta sekeluarga mendapat undangan dari Des Alwi. Turut dalam rombongan Nyonya Poppy Sjahrir, istri almarhum Sutan Sjahrir. Des, yang putra asli Banda, adalah anak angkat Sjahrir dan keponakan angkat Hatta. Dari Jakarta, mereka naik pesawat ke Ambon, dilanjutkan dengan menumpang kapal perang menuju Banda. Mereka melayari lautan Maluku selama 15 jam. Para te-tua, termasuk kakek Des Alwi, menyambut dengan haru begitu mereka tiba di tanah rempah itu. Warga pulau, yang tampak begitu mencintai Hatta, menyiapkan pelbagai pertunjukan seni untuk merayakan "kembalinya" si anak hilang. Selama 10 hari di pulau itu, Halida melihat ayahnya begitu bahagia. Mereka piknik ke tepi pantai. Makan siang bersama tanpa sendok-garpu, menyuap hanya dengan tangan. Duduk beralas pasir dan memandang matahari tenggelam. Pose Hatta dalam suasana santai itu terekam fotograferSinar Harapan, Harry Kawilarang. Di mata Halida, paras dalam foto itu tampak begitu teduh. "Senyumnya tak ada orang yang punya, senyum genuine yang terpancar dari dalam," katanya. Tapi senyum yang genuine itu sesungguhnya menyimpan kekecewaan. Menurut Des Alwi, Bung Hatta masygul melihat Banda yang cepat berubah. Julukan "Eropa mini" untuk pulau pala itu sudah sirna. Bangunan-bangunan besar yang dulu dimiliki para pengusaha perkebunan Belanda kini lapuk dimakan usia. Perkebunan pala yang dulu tumbuh rapi sekarang tak terawat. Janji Pemerintah Daerah Maluku (waktu itu di bawah Gubernur Sumitro) untuk memugar bangunan yang pernah dihuni para perintis kemerdekaan ternyata cuma pemanis bibir. Kenyataannya, di bangunan yang utuh pun daun pintu dan jendela habis dipereteli penduduk yang dibekingi oknum penguasa setempat. Mereka seolah tak menyadari arti sejarah. Melihat itu, Hatta, yang dikenal teguh memegang janji, hanya bisa mengurut dada. Untunglah ada pengobat duka. Menjelang kembali ke Jakarta, nama Hatta dan Sjahrir diabadikan pada dua pulau kecil dekat Banda Neira. Jadilah dua pulau kembar itu bernama Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan 1

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Bahasa Gambar nan Damai

Indonesiana

Wasit Goblok

Demonstrasi Tahi Sapi

Surat Dari Redaksi

Seabad Bung Hatta

TEMPO|interaktif

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui

Whitney Houston Tutup Usia  

Whitney Houston Tutup Usia

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir  

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut  

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI  

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah  

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade  

Olahraga

Mali, Juara Ketiga Piala Afrika 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif