• Home
  • 12 Agustus 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 12 Agustus 2002

    Indonesia Raya di Era Reformasi

    Kita melongo menyaksikan si hitam manis Whitney Houston melantunkan The Star Spangled Banner, lagu kebangsaan Amerika, tatkala mengantar sebuah pertandingan tinju kelas berat. Belum lagi sampai pada bagian refrain-nya, dari mulutnya yang lebar itu mengalirlah nada-nada "avonturir" yang meloncat naik satu oktaf di atas pitch standar yang biasa dipergunakan orang. Ia telah mengabaikan susunan nada pada garis melodi sehingga orang lebih mengenali lagu itu dari liriknya ketimbang melodinya. Pokoknya, ia bebas-merdeka: mengikuti pola dinamika keras-lunaknya nada yang dibuatnya sendiri, dan mengulur-kerutkan tempo sekehendak hatinya. Indonesia memang bukan Amerika Serikat. Banyak orang masih akan berontak bila Indonesia Raya yang kita junjung tinggi itu sampai diperlakukan sedemikian rupa. Diakui atau tidak, telah tumbuh keyakinan kuat bahwa lagu yang semenjak 1950-an itu dimainkan dalam aransemen baku-di stasiun televisi, radio, dan upacara-upacara kenegaraan-tak akan membusuk dimakan usia. Sebaliknya, semakin lagu itu dimainkan mendekati aransemen resmi, aransemen Jos Cleber, semakin khidmatlah lagu itu terdengar. Lihatlah hasil pertunjukan Jeunesses Musicales World Orchestra alias Orkes Remaja Dunia, di Hotel Grand Melia Jakarta, pekan lalu. Ada 70 anak muda dari pelbagai penjuru dunia yang memainkan instrumennya sesuai dengan aransemen Jos Cleber. Mereka menelurkan satu pertunjukan yang heroik dan anggun. Jos Cleber adalah seorang arranger dan dirigen orkes simfoni yang secara khusus diminatkan Bung Karno pada 1951 menyiapkan sebuah aransemen istimewa untuk lagu kebangsaan Indonesia. Dalam prosesnya, tokoh musik yang meninggal pada 1999 ini membubuhkan kontras dalam partitur karya komponis W.R. Supratman itu agar bagian refrain terdengar menggemuruh. Biola dan selo "diperintahkan" untuk melembutkan bagian-bagian sebelum refrain. Sedangkan timpani, trompet, dan simbal ditugasi "meledakkan" refrain yang menjadi inti semangat karya itu. Sebagai "corong" Jos Cleber malam itu, Orkes Remaja Dunia menunaikan tugasnya dengan baik. Selain sukses mengungkapkan elemen kontras, orkes simfoni ini juga berhasil menghindari "lubang-lubang jebakan". Misalnya, not yang seharusnya berbobot 1/16 dimainkan triplet (tiga not bernilai 1/8 per satu ketukan) pada bagian pembuka Indonesia Raya. Dengan cara ini, aransemen Jos Cleber terdengar lebih gagah, menggugah, anggun, namun tak meninggalkan kesan lamban. Aransemen gubahan Jos Cleber itu memang istimewa. Mungkin karena kehebatannya itulah, pemerintahan Sukarno sampai mengeluarkan sebuah peraturan pemerintah, bernomor 44/1958, yang melarang orang membawakan lagu kebangsaan di luar empat ketentuan: aransemen orkes simfoni, aransemen harmoni suara, aransemen khusus untuk alat tiup atau brass instruments, dan aransemen untuk paduan suara yang diiringi piano. Dengan itu, Indonesia Raya mustahil dinyanyikan dengan gaya Jimmy Hendrix, gitaris urakan yang menyanyikan lagu kebangsaan Amerika dalam Festival Woodstock 1969. Meski agak patuh bertahan pada jalur tempo yang telah digariskan, gitar elektrik Hendrix terdengar seperti orang menjerit kesakitan ketika menjelajahi nada-nada yang paling tinggi untuk kemudian-tanpa aba-aba lebih dulu-terjun ke nada-nada yang berada dua sampai tiga oktaf di bawahnya. Dengan sentuhan tangan si Hendrix, berkumandanglah rentetan bunyi yang rendah-parau dan tinggi-memekik silih berganti. Ada pembakuan dalam Indonesia Raya, memang. Dan itu diikuti proses "sakralisasi" yang tidak mustahil akan menimbulkan masalah, terutama di zaman reformasi sekarang. Kalau pensakralan itu mencakup simbol-simbol ilahiah, kenegaraan, dan kebangsaan, mungkin orang bisa diminta untuk melebarkan koridor toleransinya. Tapi apabila pensakralan itu sudah merambah ke daerah-daerah pinggiran, seperti tetek-bengek soal aransemen yang sesungguhnya merupakan kulit luar dari sebuah komposisi musik, orang pun akan muncul dengan kesimpulan pendek: inilah ekses dari proses penyeragaman yang berlangsung secara besar-besaran di negeri ini. Aransemen Jos Cleber memang luar biasa. Dengan sentuhan seorang Cleber, Indonesia Raya yang mirip Le Marseillaise, lagu kebangsaan Prancis itu, menjadi lebih bergelora. Tapi mengukuhkan aransemen Cleber sebagai satu-satunya aransemen yang berlaku sama saja dengan menutup pintu terhadap perbaikan dan penyempurnaan. Yang jelas, melihat perkembangan pesat yang terjadi di dunia musik dewasa ini, tak tertutup kemungkinan bahwa Indonesia kini mempunyai arranger yang lebih piawai daripada Jos Cleber. Idrus F. Shahab

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan 1

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Bahasa Gambar nan Damai

Indonesiana

Wasit Goblok

Demonstrasi Tahi Sapi

Surat Dari Redaksi

Seabad Bung Hatta

TEMPO|interaktif

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

Ada Akun @TrioMacan2000, Ini Komentar Trio Macan  

Olahraga

Dukungan Interisti Indonesia Bikin Kagum Cordoba

Nasional

OPM Ingin Hidup Damai dengan Polisi

Nasional

TrioMacan2000 Akhirnya Mau Buka Identitas?

Olahraga

Juventus Perpanjang Kontrak Conte

Bisnis

Prospek Saham Teknologi Bebani Bursa Nasdaq

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif