• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Manusia Gua di Sumenep

    SUDAH punya 14 rumah, tapi masih tinggal di dalam gua. Sebenarnya, apa yang dicari R. Edy Rajab, penduduk Kampung Ning-ning, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, Madura ini? Direktur PT Air Laut Sumenep ini memang mendapat bisikan gaib, sebuah bisikan yang ngetrend belakangan ini. Cuma, bisikan itu bukan dari paranormal atau ustad, melainkan lewat mimpi. Ceritanya, suatu malam pada 1997, Edy, 45 tahun, bermimpi kedatangan seorang nenek yang mengajaknya berjalan-jalan di sebuah gua. "Ini gua. Silakan kamu tinggali," si nenek berpesan. Semula bisikan itu tak digubris. Sebab, bagi sebagian orang Madura, mimpi memperoleh tempat baru berarti mendekatnya sang ajal. Cuma, mimpi yang sama menyapa lagi dalam tidur Aminah, istri Edy. Edy, yang berpendidikan sekolah teknologi menengah, kemudian berburu gua di sejumlah desa di Kabupaten Sumenep. Hasilnya nol besar. Untuk sementara, bisikan gaib itu dianggap pepesan kosong. Eh, kali lain, si nenek menyapa lagi dalam mimpi. Kebetulan Hendri, anak bungsu Edy, memungut secuil informasi tentang adanya sebuah gua di dekat Sekolah Menengah Pertama 6 Sumenep. Aminah lalu melihat tanah di sekitar lokasi sekolah itu. Dari luar tak tampak tanda-tanda sebuah gua. Namun, setelah mengubek-ubek halaman sekolah dengan teliti, Aminah terperosok ke dalam tanah sedalam 2 meter di kaki tebing. Setelah digali, ternyata lubang lebar itu mulut sebuah gua bekas galian kapur zaman Belanda. Wah, Edy girang bukan main. Ia membeli tanah itu pada 1999 dan kemudian memugarnya. Untuk itu Edy rela merogoh koceknya Rp 150 juta, hasil dari melego empat mobilnya. Kini Edy dan keluarganya tinggal di gua itu. Di sana ia dan istrinya banyak berdoa dan berzikir. "Di gua ini, saya lebih tenang berdoa kepada Allah," kata Aminah kepada Sunudyantoro dari Tempo News Room, Selasa pekan lalu. Cuma, rumah yang tak lazim itu sempat mengundang kecurigaan. Ada yang menuding Edy dan istrinya tak waras lagi. Lalu ada juga yang mengisukan bahwa gua itu dipakai untuk menyembunyikan Tommy Soeharto ketika buron. Kontan saja gua itu menjadi sorotan aparat. Pengurus desa, polisi, militer, dan bahkan petugas intelijen dari Jakarta pernah memeriksa tempat itu. Tak hanya itu. Edy juga diisukan menyebarkan ajaran sesat karena sejak gua yang berlokasi dekat makam Pangeran Kudus itu ditemukan, banyak peziarah yang mampir ke sana untuk numpang berdoa. Edy diperlakukan sebagai kiai, lengkap dengan tradisi cium tangan dan permohonan doa. "Saya sampai merinding, apakah saya pantas mendapat perlakuan begitu. Tapi tidak ada salahnya kan mendoakan orang lain?" kata Edy. Oya, seperti apa gua itu? Panjangnya 25 meter dengan mulut selebar 2 x 3 meter. Ada penerangan listrik dari PLN dan air PDAM. Tersedia kamar tidur yang dilengkapi spring bed, kamar mandi bertembok ubin porselen, ruang dapur, ruang tamu, musala, dan kolam ikan. Di salah satu dinding gua itu terpampang gambar sufi besar Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Ali bin Abi Thalib. Jadi, bukan sembarang gua, dong.... Kelik M. Nugroho

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

Metro

Bus Hantam Angkot di Jagorawi, 16 Cedera  

Otomotif

KMI Gelar Test Drive KIA on Tour 2012

PT KIA MOBIL INDONESIA
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif