• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Peringatan Alam pada KTT Johannesburg

    Jeffrey Sach*) *) Guru besar ekonomi dan Direktur The Earth Institute di Universitas Columbia, Amerika Serikat ALAM menunjukkan kekuatannya yang mengerikan belakangan ini. Senyampang para pemimpin dunia berkumpul di Johannesburg untuk mendiskusikan ancaman terhadap lingkungan global, beberapa bagian dunia lainnya mengalami bencana banjir, kekeringan, panen gagal, kebakaran hutan, dan bahkan wabah penyakit baru. Sebenarnya hubungan antara manusia dan alam ini setua spesies kita, tapi hubungan itu telah mengalami perubahan yang sangat kompleks. Karena itu, kesimpulan paling penting dari KTT Johannesburg sepatutnya adalah sebuah keyakinan bahwa lebih banyak lagi riset alamiah dan kerja sama global yang harus dilakukan. Kendati banjir dan kekeringan adalah bencana yang hadir sejak dulu kala, frekuensi, besaran, dan dampak ekonominya semakin melonjak belakangan ini. Klaim asuransi akibat bencana alam melompat ke tataran yang belum pernah dicapai sebelumnya pada 1990-an. Ini menunjukkan bahwa biaya sosial akibat ulah alam telah meroket. Bencana perubahan cuaca seperti El Nino yang ganas pada 1997-1998 punya peran besar pada kekacauan ekonomi akhir-akhir ini. Indonesia dan Ekuador adalah contoh negara yang meng-alami krisis ekonomi 1997-1998 yang sebagian di antaranya berkaitan dengan krisis pertanian akibat El Nino yang parah. Perubahan cuaca drastis terjadi antara lain karena jumlah penduduk yang semakin banyak. Terutama karena kemajuan teknologi dalam 200 tahun terakhir ini, jumlah penduduk dunia telah melonjak tujuh kali lipat dari 900 juta pada tahun 1800 menjadi lebih dari 6 miliar sekarang ini. Akibatnya, manusia hidup berdesak-desakan di berbagai lokasi rawan di dunia. Lebih dari 2 miliar penduduk bumi bermukim di kawasan kurang dari 100 kilometer dari pantai. Mereka rentan terhadap badai laut, bencana banjir, dan naiknya permukaan laut akibat meningginya suhu dunia. Ratusan juta lainnya tinggal di habitat rawan seperti tebing curam pegunungan, sekitar gurun tandus, atau kawasan yang bergantung pada curah hujan, yang panennya gagal setiap kali musim hujan tak datang. Ulah manusia juga mengubah lingkungan di tempat lainnya, yang acap membuat masyarakat semakin rawan bencana. Ini terutama terjadi di negara miskin. Meningkatnya kepadatan penduduk di kawasan pertanian Afrika, yang mendesakkan intensifikasi pertanian, memicu terkurasnya lapisan subur secara masif. Setiap kali musim kemarau menerjang Afrika bagian selatan, seperti terjadi tahun ini, puluhan juta keluarga petani miskin harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Apalagi kepapaan Afrika, yang memberikan kontribusi pada penyebaran AIDS yang tak terkendali, berkombinasi dengan perubahan cuaca dan menimbulkan bencana tak terperikan. Jutaan anak yatim piatu korban AIDS di selatan Afrika hidup bersama kakek dan nenek mereka yang telah terlalu renta untuk mencukupi kebutuhan pangannya. Padahal terjadinya El Nino juga akan mengakibatkan musim kemarau tahun ini berkepanjangan. Memang hal yang paling menonjol dari perubahan lingkungan sekarang ini adalah jangkauannya yang tak lagi bersifat lokal. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan, kegiatan penduduk bumi telah merusak lingkungan pada skala global, melalui perubahan iklim, pemusnahan spesies, dan rusaknya ekosistem. Pemanasan global oleh manusia, yang terutama disebabkan oleh pembakaran minyak di negara maju, mungkin memainkan faktor penting dalam frekuensi dan keganasan musim kemarau, banjir, serta badai tropis. Frekuensi dan intensitas daur El Nino dalam 25 tahun terakhir ini mungkin disebabkan oleh peningkatan suhu bumi. Banjir besar di Cina pada tahun-tahun belakangan ini kelihatannya dipicu oleh pencairan salju secara berlebihan di dataran tinggi Tibet, yang mengalami kenaikan temperatur rata-ratanya. Semua perkembangan risiko lingkungan ini berlangsung dengan rumit. Dampak perubahan lingkungan mungkin baru terasa setelah bertahun-tahun dan menjangkau separuh belahan dunia. Atau dampaknya mungkin terjadi secara tak langsung. Perubahan peruntukan lahan, misalnya, dapat meluaskan daya tular penyakit akibat perubahan campuran spesies yang ada atau akibat perbedaan dalam interaksi antara binatang dan manusia di lokasi tersebut. Para politisi tak punya kemampuan untuk menangani persoalan seperti ini. Akibatnya, risiko lingkungan terus membesar tanpa kendali kebijakan publik yang memadai. Ketika bencana datang (seperti banjir besar tahun ini), para politisi tak dapat diminta bertanggung jawab atas kekeliruan yang telah berlangsung puluhan tahun. Konferensi Tingkat Tinggi Johannesburg dapat memfokuskan perhatian dunia pada masalah-masalah ini. Kalaupun pertemuan ini hanya menghasilkan beberapa keputusan, hasilnya akan berdampak positif jika tiga tuntutan diindahkan oleh para peserta KTT. Kita harus menuntut agar semua politisi dunia paham bahwa berbagai kajian ilmiah telah menyimpulkan hadirnya ancaman bencana lingkungan yang dapat memusnahkan umat manusia. Karena itu, para politisi tersebut harus didesak agar bersedia menganggarkan dana publik bagi investasi di bidang riset lingkungan dasar dan pengembangan teknologi baru untuk mengatasi risiko lingkungan. Contohnya adalah investasi dalam riset pengembangan sumber energi alternatif yang dapat mengurangi dampak pemanasan global. Tuntutan ketiga adalah para politisi sepakat meningkatkan kerja sama internasional di bidang lingkungan. Sebab, jika itu tidak dilakukan, gabungan kebijakan jangka pendek tiap-tiap negara akan menggumpal menjadi penyebab rusaknya ekosistem dunia. - Hak Cipta: Project Syndicate, Agustus 2002

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

Bisnis

Panin Sekuritas: Indeks Bergerak Datar Antara 3.940 – 4.000

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif