• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Bisnis di Sekujur Konferensi

    TIMBALAH ilmu sampai ke Afrika Selatan. Paling tidak dalam urusan membisniskan konferensi. Negaranya Nelson Mandela itu begitu cerdik menjual perhelatan yang hingga pekan lalu dihadiri sekitar 18 ribu peserta dari 191 negara, dan membuat Indonesia jadi terlihat sangat dermawan saat mengadakan pertemuan pendahuluan di Bali, Mei-Juni lalu. Konferensi itu diadakan di Sandton City, kota kosmopolitan baru di jantung Kota Johannesburg yang lebih mirip Paris, London, atau New York ketimbang berbau Afrika. Untuk sampai ke lokasi konferensi, tiap peserta harus melewati puluhan mal, kafe, restoran, dan pusat jajanan yang mengitarinya. Apa pun tersedia: parfum, baju, arloji, barang elektronik, hingga mobil mewah. Kevin, Manajer Restoran Imperial, yang jadi tempat makan favorit peserta asal Indonesia, mengatakan omzetnya naik sejak konferensi digelar. "Kenaikannya lumayanlah," kata lelaki asal Malaysia yang sudah 11 tahun tinggal di Johannesburg itu. Strategi penjualan sudah lama dirancang. Diskon hotel, misalnya, akan diberikan bila Anda mendaftar jauh-jauh hari. Tak aneh jika deretan hotel mewah macam Hilton, Crown, Michelangelo, atau Holiday Inn, yang berada di pusat kota, sudah penuh 1-2 bulan lalu. Kalau terlambat mencari penginapan, seperti kebanyakan delegasi Indonesia, terpaksa menginap di Rooderport, sekitar 60 menit dari Sandton, atau di kota kecil Nasrec, 45 kilometer dari Sandton, seperti para aktivis lingkungan. Tarifnya? Rp 450 ribu per malam. Jauhnya jarak antarlokasi itu dimanfaatkan oleh pemerintah Kota Johannesburg. Disediakan bus panitia. Silakan naik setelah mengantongi welcome card alias tiket. Harganya 600 rand atau sekitar Rp 600 ribu. Di sini tak ada yang gratis. Bahkan saat mendaftar pun setiap peserta mesti membayar US$ 150. Sementara itu, saat di Bali, mereka tak mengeluarkan uang sesen pun: mau daftar, mau keluar-masuk acara, mau keliling Nusadua dengan bus, semuanya free of charge. Saat malam mulai merambat, giliran taksi yang ambil keuntungan. Dengan tarif 8 rand—sekitar Rp 8.000—per kilometer, seorang peserta yang tinggal di Rooderport perlu 200 ribu perak sekali jalan untuk sampai ke lokasi acara. Satu-satunya yang tak membuat peserta Indonesia mengeluh hanyalah harga makanan dan minuman, yang sebanding dengan Jakarta. Bila Anda mau aman dan tak mau repot, sebuah perusahaan berlabel Johannesburg World Summit Company (JoWSCo) akan mengatur segalanya: akomodasi, tempat pertemuan, penyewaan kendaraan, hingga tur selama konferensi. Pokoknya semua ada, asal cukup uang untuk membayar. Yang paling mencolok adalah hadirnya para sponsor. Dengan biaya US$ 50 juta atau sekitar Rp 450 miliar—konferensi Rio cuma US$ 15 juta—pemerintah setempat mengundang para pengusaha untuk berbagi pembiayaan. Masuklah sponsor macam perusahaan listrik Eskom, Telkom, dan maskapai penerbangan South African Airways, dan De Beers, penghasil intan termasyhur, serta Standard Chartered Bank. Sisanya baru ditanggung negara donor dan PBB. Tapi semua pengeluaran yang gila-gilaan itu sudah diperhitungkan akan segera terbayar dengan keuntungan hingga US$ 100 juta buat Kota Johannesburg dari belanja para peserta dan pariwisata. Konferensi jalan terus, uang pun tak henti mengucur. Dian Basuki (Johannesburg)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif