• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Yang Pasrah Saat Sekarat

    SUNGGUH berbeda krisis keuangan klub-klub di negeri ini dibandingkan dengan tim di Eropa. Klub di negara semacam Italia kembang-kempis karena hak siar mereka dinilai rendah oleh pihak televisi. Di Indonesia? Justru karena tidak ada sumber pendapatan yang memadai. Tiada hak siar yang bisa dijual. Nasib mereka amat bergantung pada subsidi dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia dan penjualan tiket. Itu pula yang sekarang dialami Persatuan Sepak Bola Arema di Malang, Jawa Timur. Kondisi klub berusia 15 tahun ini sedang sekarat. Sejak Maret lalu, pengurusnya telah memulangkan para pemain karena tak sanggup lagi membayar gaji mereka. Solusinya? "Dengan sangat terpaksa Arema harus dijual," kata Lucky Acub Zainal, Sekretaris Umum Yayasan PS Arema, pasrah. Dia mematok harga Rp 4 miliar hingga Rp 5 miliar. Duit sebesar itu akan dipakai untuk melunasi utang sekitar Rp 1 miliar, kemudian biaya operasional yang harus mereka tanggung hingga Desember sebesar Rp 896 juta. Selain itu, klub ini harus melunasi sisa kontrak, gaji, dan bonus pemain, yang diperkirakan membutuhkan biaya Rp 2 miliar. Lucky menyebut sudah ada tiga calon pembeli yang menawar Arema. Dua investor, dari Batam dan Manado, sempat menyebut Rp 8 miliar. Adapun seorang pengusaha dari Denpasar mengajukan mahar Rp 6 miliar. Untung, dong? Tidak segampang itu. Para suporter Arema yang bergabung dalam Aremania menolak berpisah dengan tim kebanggaannya. "Kami tidak rela Arema pindah ke daerah lain," kata Andri, koordinator Aremania Wilayah Lawang, Kabupaten Malang. Pengaruh sekitar 35 ribu suporter Arema sangat besar. Berkat dukungan mereka, sembilan tahun lalu tim ini meraih gelar juara hanya dengan modal Rp 2 miliar. Dua tahun lalu, Arema masih meraup laba sekitar Rp 500 juta. Dengan tambahan dana segar Rp 1 miliar dari sponsor, mereka pun bisa ikut kompetisi. "Tiket merupakan sumber utama kami," kata Lucky. Dari 11 pertandingan yang digelar di Stadion Gajayana, Malang, Arema berhasil mendulang uang sekitar Rp 1,4 miliar. Tapi ternyata jumlah itu tidak lagi mencukupi sebagai modal satu musim kompetisi. Kebutuhan operasional satu musim kompetisi saja mencapai Rp 3,5 miliar. Inilah yang menyeret Arema ke jurang kebangkrutan. Pendukung Arema mendesak Pemerintah Kota Malang agar menyelamatkan tim ini. Namun, dengan alasan kas pemda yang cupet, Pemerintah Kota Malang hanya berani mengajukan harga Rp 3 miliar. Selain itu, mereka meminta berbagai masalah diselesaikan lebih dulu. Pemerintah Malang bahkan sudah membentuk tim teknis untuk meneliti pembelian Arema. Selain itu, menurut Wakil Ketua DPRD Malang, Oetojo Sardjito, pengurus yayasan belum memberikan informasi tentang jeroan tim berjulukan Singo Edan ini. "Jika pemilik yayasan ogah memberikan informasi, terpaksa take-over dibatalkan. Toh, masih banyak pos lain untuk kesejahteraan masyarakat," kata Oetojo. Agung Rulianto, Abdi Purmono (Malang)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui  

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif