• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Dulu Jual Karcis, Kini Selebriti

    RUMAH itu menempel pada sebuah gang di Ngawi, kota kecil di Jawa Timur. Bagian depan berbentuk pendopo dengan lantai keramik putih menyilaukan. Di seberangnya terletak garasi berisi Toyota Kijang dan bus mini. Mobil lainnya, Honda Stream, yang berharga sekitar Rp 220-an juta, ditaruh di Jakarta. Rumah itu milik Topan Sugianto, orang yang 12 tahun mengabdi di Siswo Budoyo dan kini jadi pelawak terkenal. Garis keberuntungan Topan berseberangan dengan sebagian besar awak Siswo Budoyo lain, yang untuk menopang hidup terpaksa berdagang kecil-kecilan. Bersama adiknya, Leysus Winarso, ia berduet di Ketoprak Humor, yang ditayangkan RCTI. Acara ini membuat namanya melejit serta menjadikannya pelawak favorit. Setelah keluar dari Ketoprak Humor, mereka membuat sejumlah acara yang sukses, seperti Ronda-Ronda dan Toples, serta tampil di Ludruk Glamour. Mereka pun laris dipanggil manggung di luar televisi, yang membuat pundi uangnya padat berisi. Pekan lalu, misalnya, Topan baru saja pulang dari Malang dan bersiap pergi ke Blitar untuk sebuah acara Agustusan, acara yang akan menambah tebal kantongnya hingga Rp 5 juta. Adiknya, yang menjadi pasangan duet melawak, juga tidak kalah makmurnya. Rumah Leysus di Jakarta berkerangka kayu jati mahal yang khusus didatangkan dari sebuah rumah di Tuban, Jawa Timur. Di halamannya terparkir Suzuki Escudo miliknya. Padahal dulu honor paling tinggi Leysus di Siswo Budoyo hanya Rp 7.500 semalam. Topan malah kurang dari itu. Bayaran gabungan dia dan istrinya, Tinuk Nurhayati, yang sama-sama pemain ketoprak, "hanya Rp 7.000 setiap malam." Sebelum jadi aktor ketoprak Siswo Budoyo, Topan adalah penjual tiket dan tukang cat dekorasi panggung. Pada 1982, ia bergabung dengan kelompok tersebut karena alasan yang sangat sederhana. Ia menikah dengan Tinuk, yang telah lebih dulu masuk. Dua tahun kemudian, ia mulai ikut bermain sebagai pelawak. Nama panggungnya saat itu adalah Joisin, melengkapi duet legendaris Siswo Budoyo, Jorono, dan Joleno. Belakangan, pada 1987, adik Topan, Leysus Winarso, ikut bergabung dengan julukan Jolewo. Di sana mereka ditempa oleh Siswondo, pendiri tobong ini. "Tak ada sutradara seperti dia," kata Topan, mengingat mendiang bekas pemimpinnya itu. "Bayangkan, untuk adegan menangis saja dia memberi contoh dengan sangat sempurna." Gaya lawakan Topan-Leysus pun digali dari Siswo Budoyo. "Bagi yang tahu, gaya lawak mereka gaya lawakan panggung," kata Yati Pesek, penari sekaligus pelawak yang pernah bergabung di situ pada 1970-1982. Yati sendiri praktis dididik di kelompok ini. Saat masuk, pada 1970, ia menjadi penari sekaligus pelatih tari. Kadang ia ikut bermain ketoprak tapi bukan sebagai pemeran utama, sekadar figuran untuk mempermanis cerita. Tapi, suatu ketika Siswondo mencoba kemampuannya dengan memberinya peran utama. "Kalau berhasil, kamu naik. Kalau gagal, ya kamu tetap sebagai ampil (figuran)," kata Yati, mengutip bekas gurunya. Yati dinilai berhasil. Kemampuan berperan itulah yang belakangan membawa Yati bermain dalam film Langitku Rumahku dan Malioboro-Malioboro. Dia juga membintangi sinetron, dan kini memiliki tiga unit kelompok campursari serta sebuah rumah makan. Yati keluar dari Siswo Budoyo karena ingin mencurahkan perhatian lebih banyak kepada anaknya. Ia tidak kesulitan memulai karir solonya karena punya 600 murid tari yang dilatihnya. Itu berbeda dengan Topan dan istrinya, yang nekat keluar pada 1994, dua tahun sebelum Siswondo meninggal, karena, "Saya merasa tidak bisa berkembang." Topan tak punya pekerjaan tetap yang menunggu di kampung halamannya, Malang. Untuk membuat dapur mengepul, ia bekerja sebagai pembawa acara di hajatan perkawinan. Tapi itu tidak lama. Tiga tahun bertahan seperti itu, ia hijrah ke Ngawi, tempat asal istrinya. Perpindahan ini rupanya membawa keberuntungan. Menjelang akhir 1997, ia mendirikan kelompok musik campursari bernama Elex Yoo Ben (biar saja jelek) dengan tarif Rp 500 ribu sekali tampil. Tarif itu sekarang naik sepuluh kali lipat. Tiga bulan kemudian, Leysus, yang sudah berada di Jakarta sejak 1991, mengajaknya bermain dalam Ketoprak Humor yang membuatnya terkenal. Keberhasilan ini tidak membuat Topan lupa pada Siswo Budoyo. Ia, misalnya, mengaku sempat "ngirim donga" ke makam Siswondo-pendiri Siswo Budoyo, di Kalangbret, Tulungagung-suatu hal yang bahkan tidak dilakukannya terhadap mendiang orang tuanya. Topan juga pernah tampil sebagai "bintang tamu" dalam sebuah pentas Siswo Budoyo di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Honornya, Rp 2 juta, ia bagikan semua kepada para pemain lain. Topan memang masih ingat pada rekan-rekannya. "Saya ingin semua kawan-kawan mantan pemain Siswo Budoyo bisa hidup berkecukupan seperti saya," katanya sambil menuju mobilnya. Mobil itu membawanya pergi dari Ngawi ke Blitar untuk mencari duit lebih banyak lagi. Nurkhoiri, Dwijo U. Maksum (Ngawi)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui  

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

Nasional

Besok, SBY Ikut Jalan Cepat di Borobudur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif