• Home
  • 02 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 September 2002

    Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

    SEGEROMBOLAN lelaki berkerumun di sebuah gang sempit. Namun perhatian kamera tertuju pada paras seorang pria yang merapat ke dinding. Dialah pelaku penculikan yang baru saja digaruk polisi yang berpakaian preman yang mengelilinginya itu. Tampangnya tegang. Siang itu dia memang sial. Polisi berhasil menangkapnya. Tapi otaknya tak sepenuhnya buntu. Ia berusaha mengakali polisi. Dari mulutnya meluncur cerita palsu tentang rumah yang tengah digerebek polisi. Nah, saat polisi masuk ke rumah itu, ia langsung mengambil langkah seribu. Sontak, tindakannya itu membuat salah seorang polisi kaget. "Kabur, kabur," ucapnya seperti meracau. Tembakan pun meletus lepas ke mana-mana, hingga akhirnya sebuah peluru mencium si penculik. Seketika itu juga nyawanya terbang melesat. Adegan ini bukanlah adegan kejar-kejaran film Hollywood, melainkan the real thing alias kisah nyata aksi polisi Indonesia di kawasan Jakarta Timur. Kejar-kejaran ini beberapa waktu lalu ditayangkan di acara Patroli, program berita kriminal unggulan stasiun Indosiar. Tentu saja adegan ini bukanlah satu-satunya yang ditayangkan. Di bagian lain, kamera menayangkan sekelompok polisi preman yang berhasil menangkap pengedar narkotik. Penyajiannya disampaikan secara langsung alias on the spot. Penyajian berita kriminalitas kini memang telah bergeser dari sekadar menampilkan wawancara pelaku kejahatan atau korbannya berkembang menjadi kisah-kisah penggerebekan. Para wartawan atau kru televisi memperlakukan kamera sebagai "mata" pemirsa yang penuh keingintahuan untuk mencari sang penjahat. Alhasil, kamera menangkap semua yang ada dalam penggerebekan itu, tak terkecuali isi kamar tidur. "Tayangan eksklusif seperti itulah yang disukai pemirsa," kata Mahfudz Mabrori, produser Patroli. Tentu saja ini terjadi bukan tanpa sebab. Saat ini tayangan berita kriminal memang tengah menjadi primadona. Setelah Indosiar sukses menuai laba dengan Patroli, yang menayang sejak 1999, kini stasiun televisi lainnya mencari peruntungan di acara sejenis. Tahun silam, RCTI meluncurkan Sergap, yang kemudian diikuti Buser, yang ditayangkan di SCTV sejak April lalu. Dan kue iklannya masih gurih. "Pemasukan iklan Sergap mendekati program Seputar Indonesia," kata Driantama, produser Sergap. Sejauh ini, target pemirsa acara-acara kriminal ini adalah ibu rumah tangga. Tak dinyana, respons mereka pun cukup positif. Seperti telenovela, berita kriminalitas, acara yang penuh dengan darah, borgol, dan pistol, menjadi teman yang asyik kala mempersiapkan makan siang. Kenyataan ini bisa dipahami pengamat televisi Veven Sp. Wardhana. Menurut dia, berita kejahatan merupakan salah satu barang dagangan yang laku dijual. Cuma, menurut dia, acara semacam ini belakangan lebih banyak menonjolkan cerita sukses polisi dalam mengatasi kejahatan. "Seperti humas buat kepolisian. Jarang sekali kita menyaksikan kegagalan polisi," katanya. Pengamatan ini memang didukung dengan beberapa penayangan yang memperlihatkan peran polisi yang terlalu menonjol. Satu contoh adalah berita penangkapan dukun yang meng-aku bisa mengubah lembaran plastik menjadi uang di Tangerang, pekan lalu. Kamera beberapa kali menyorot pemimpin penggerebekan yang tengah menginterogasi sang dukun. Di sudut lain, beberapa pria memperhatikan mereka sambil menenteng pistol. Kok, bisa begitu? Ini penting untuk "dramatisasi". Simaklah pengakuan seorang produser acara ini. "Sesekali kami meminta polisi melakukan penangkapan ulang kalau kami gagal meliput langsung peristiwa itu," katanya. Belakangan ternyata hal ini juga bisa membuat pihak polisi gerah. Menurut Kepala Badan Humas Polri, Irjen Pol. Saleh Saaf, gambar-gambar yang ada di layar televisi tak semestinya ditampilkan secara vulgar. "Harusnya darah tak lagi ditampilkan," katanya gusar. Toh, hal itu dianggap bak angin lalu. Ia pun jengkel dan mengirim telegram ke daerah-daerah. "Isinya, agar mereka tidak mengundang wartawan dalam melakukan penggerebekan," katanya. Dia tentu lupa, penggerebekan itulah yang justru dianggap sebagai "drama" bagi penonton. Ingat film Showtime yang dibintangi Robert De Niro dan Eddie Murphy. Kriminalitas akhirnya menjadi suguhan yang legit dan ternyata polisi mampu menyajikannya, meski itu akhirnya menjadi sebuah acara "kisah sukses" semata. Irfan Budiman, Tomi Lebang

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

TEMPO DOELOE

Buku

Kanguru dalam Permesta

Paul Ormerod: "Pemutihan Utang Adalah Ide Buruk"

Catatan Pinggir

Sokrates

Neat and Tidy

Indonesiana

Manusia Gua di Sumenep

Ludrukan Telanjang

Marriage Vows

Televisi

Makan Siang Bersama Borgol dan Darah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

Prandelli Yakin Balotelli Tak Nakal Lagi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif