• Home
  • 16 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 September 2002

    Dua Wajah Kiai Sadrach

    SESUNGGUHNYA apa lagi yang dapat didedah mengenai Kiai Sadrach Suropranoto, figur yang sering dijuluki "Rasul Jawa" terbesar itu? Hampir semua kajian tentang wajah kekristenan "pribumi", khususnya di Jawa, tidak alpa menyinggung tokoh yang karismatis ini. Bahkan, dalam ranah yang diistilahkan sebagai problematik "teologi kontekstual Protestan" itu, dialah satu-satunya figur yang paling rinci dikaji dan pa-ling sering dibicarakan. Prestasinya memang mengagumkan-kalau istilah ini dapat dipakai. Pada abad ke-19, sementara para petugas zending kelabakan mencari jalan bagaimana mengabarkan Injil di tengah masyarakat Jawa, Kiai Sadrach justru membuktikan diri sebagai "rasul" yang luar biasa. Pada Juli 1873, misalnya, dia berperan besar dalam pembaptisan lebih dari 1.000 orang Jawa oleh Pendeta Vermeer. Seperempat abad kemudian, jumlah pengikut Kristen sudah lebih dari 7.000 orang. Tidak hanya itu. Prestasinya yang mungkin paling luar biasa adalah membangkitkan kebanggaan diri pengikutnya, sehingga dengan sadar mereka memilih nama Golongané Wong Kristen Mardhika, je-maat Kristen pribumi yang merdeka. Golongan ini mandiri dari institusi resmi gerejawi kolonial yang "menolak" kehadiran mereka. Maka tidaklah mengherankan bila Sadrach selalu menjadi rujukan-bahkan role model-ketika orang membicarakan atau mencari wajah kekristenan yang genuine, yang berurat-berakar pada konteks kehidupan riil masyarakatnya, khususnya di Jawa. Setidaknya sudah ada dua disertasi yang lengkap mengupas Sadrach dan "gerakan"-nya. Disertasi pertama, ditulis Claude Guillot, peneliti Prancis, menyajikan dimensi sosiopolitis pada jemaat Sadrach; sementara yang kedua, ditulis Pendeta Soetarman Soediman Partonadi, memberikan dimensi pergulatan teologi kontekstual pada kiprah Sadrach. Wajar jika kita bertanya: apa lagi yang bisa disuguhkan buku Lydia Herwanto ini? Menurut Lydia, Kiai Sadrach dan jemaatnya masih merupakan "masalah yang belum dibahas secara terperinci, ditinjau dari sudut sejarah." Ini sebuah penilaian yang, menurut saya, sangat tergesa-gesa. Sebab, disertasi Guillot (edisi asli 1981, edisi Indonesia 1985), yang juga menjadi rujukan Lydia, sudah memberikan gambaran yang sangat rinci, bahkan lebih rinci ketimbang kajian Lydia, "ditinjau dari sudut sejarah." Harus diingat dari awal, Sadrach sendiri tidak meninggalkan dokumen tertulis mengenai langkah-langkah yang diambilnya-apalagi pergulatan pikirannya! Dengan kata lain, sumber-sumber utama mengenai dirinya ditulis orang lain. Bagian terbesar adalah catatan-catatan dari sudut pandang zending, sementara sumber "pribumi" yang utama ditulis oleh Yotham Martareja, anak angkat dan sekretaris Sadrach, yang memiliki cara pandang berbeda dari Sadrach. Pada 1933, sepeninggal Sadrach, Yotham secara resmi menggabungkan jemaatnya ke dalam Zending van de Gereformeerde Kerken in Nederland dan sekaligus mengakhiri riwayat Golongané Wong Kristen Mardhika. Di pihak lain, sumber-sumber tertulis dari sudut pandang zending agaknya memberikan gambaran yang bertentangan. Pada 1896, terbit buku karya F. Lion-Cachet, anggota Komite Direktur De Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereniging. Buku Lion- Cachet ditulis sebagai laporan kepada komite itu, yang mengutusnya untuk meneliti "Skandal Sadrach" di tanah jajahan. Lion-Cachet, menurut Guillot, meyakini cara pandang yang umum dipegang kalangan zending pada masa itu: kekristenan yang "tetap Barat dan seluruh unsur pribumi yang terserap di dalamnya dianggapnya bid'ah." Hanya tiga tahun kemudian terbit buku lain, sebagai reaksi atas laporan Lion-Cachet tadi. Berjudul Sadrach's Kring, yang bisa disebut sebagai karya besar tentang "Jemaat Sadrach", buku ini ditulis L. Adriaanse, misionaris yang pernah bertugas di Purworejo, pusat gerakan Sadrach. Adriaanse menyerang Lion-Cachet dan memberikan gambaran lebih positif tentang Kiai Sadrach. Adriaanse mengajukan tesis bahwa "kegagalan kerja sama antara misi dan Sadrach disebabkan oleh orang-orang Belanda kurang mengerti konteks budaya Jawa dan sikap rasialistis orang-orang kulit putih tersebut" (Guillot, 1985, halaman 52). Nah, tampaknya kajian Lydia lebih banyak mengambil sudut pandang laporan Lion-Cachet dan kurang mempertimbangkan tesis Adriaanse tadi. Ini terlihat pada bagian terakhir bukunya, yang membeberkan desas-desus "Skandal Sadrach" seperti ditiupkan para misionaris londo, yang semuanya menilai bahwa tata cara kehidupan jemaat itu telah "menyimpang dari ajaran agama Kristen." Sayangnya, Lydia tidak memberikan analisis lebih jauh tentang desas-desus itu. Kita harus membaca disertasi Soetarman (edisi asli 1988, dan setahun lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) untuk memahaminya lebih jauh. Saya menduga karya Lydia ini mula-mula adalah skripsi sarjananya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1985), mengingat tidak ada rujukan sama sekali pada disertasi Soetarman. Sayang sekali, ketika kemudian memutuskan untuk menerbitkan karyanya, Lydia tak memberikan perhatian pada disertasi itu. Padahal, kalau ini dipertimbangkan baik-baik, masih banyak wilayah problematik seputar "Skandal Sadrach" yang dapat didedah, terutama dalam konteks pergulatan "teologi kontekstual Protestan"-sebuah wilayah kajian yang, saya yakin, akan diminati oleh staf pengajar di Seminari Bethel Jakarta itu. Trisno S. Sutanto, Direktur Program Masyarakat

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengangkatan

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Dua Wajah Kiai Sadrach

Catatan Pinggir

Sancho

Fotografi

Guratan Sejarah Sosial Mathesie

Tari

Gendari yang Mengalir

TEMPO|interaktif

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif