• Home
  • 16 September 2002
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 16 September 2002

    Sancho

    KEMARIN saya berjumpa dengan seseorang yang berhenti membaca koran. Dari balik jendela mobilnya, ia akan melihat para penjaja surat kabar mengacungkan halaman pertama, dan akan tampak huruf-huruf besar membentuk headline. Tapi ia sadar, ia hanya melihat berita itu seperti ia melihat seekor tikus gempal yang melintas di kakus umum: ia tersentak sejenak, tapi tak akan tergerak pantat dan kakinya untuk mengambil sikap kepada hal-ihwal. "Dan bukan hanya saya yang begitu," katanya. Apatisme memang punya daya bius. Tapi ke manakah akhirnya? Koran tetap dicetak, berita tak putus berseliweran, tapi tampaknya informasi dan opini yang disajikan kepada orang ramai telah berhenti memberikan sesuatu yang berarti. Jika ada yang sedang mati kering sekarang, itu adalah rasa terlibat ke dalam sebuah dunia tempat kecelakaan, pembunuhan, kekonyolan, perang, atau korupsi, juga kemenangan dan prestasi, bukan hanya perkara orang lain, di sebuah jarak yang dingin. Kemauan untuk mengetahui, memikirkan, mengubah, atau menggalakkan pelbagai hal yang baik dan yang buruk dalam kehidupan bersama sedang menghilang. Dunia susut jadi kamar tersendiri di rumah petak. "Ah, politik begitu menjengkelkan sekarang," kata orang yang berhenti membaca koran itu. Hari-hari ini, politik memang kehilangan adegan yang memukau. Tak ada tinju yang dikepalkan dengan heroik seperti ketika orang tegak menantang sebuah rezim yang menakutkan. Politik bukan lagi konfrontasi, keberanian bukan lagi hal yang spesial. Pada saat yang sama, di dalam dan di luar parlemen dan partai-partai, tak tampak ada gairah untuk menggapai sesuatu yang luhur, hebat, dan abadi. Orang mengeluh bahwa inilah zaman besar yang dibopong orang-orang yang kerdil. Kita tak punya seorang Hatta lagi, kita tak punya seorang Mandela. Maka orang pun merindukan sesuatu yang lain, dengan atau tanpa membaca koran. Mungkin itu sebabnya ulasan politik oleh kaum cerdik cendekia sering terdengar seperti sebuah kritik terhadap keletihan moral: bukan sebuah deskripsi, melainkan sebuah imbauan, bukan sebuah analisis, melainkan paparan cita-cita. Pasti ada yang kurang ketika para cerdik cendekia mengeluhkan keadaan namun sebenarnya hanya bisa mengutarakan apa yang seharusnya ada. Mereka tak bicara bagaimana yang seharusnya itu didapat. Normatif dalam analisis, mencampur-baur "apa-adanya" dengan "apa-yang-seharusnya", terkadang mereka hanya seperti pemberi petuah budi pekerti. Mereka sebenarnya di jalan buntu. Di situlah Machiavelli berbeda dan memberi sumbangan besar kepada ilmu politik. Ia membedakan antara "kebenaran efektif dari hal-ihwal" dan "republik dan monarki imajiner yang tak pernah tampak atau tak pernah diketahui adanya." Ia menampik para pemikir politik sebelumnya yang hanya sibuk mengutarakan "republik dan monarki imajiner" itu, dan sebab itu tak mampu membimbing para penguasa untuk menjalankan perannya di dunia nyata. Sebab di dunia nyata, para pemimpin politik kebanyakan bukanlah pemikir yang luas pandangan; tak ada Republik yang diidamkan Plato. Di dunia nyata, tiap manusia terbatas oleh tempurung masing-masing. Dan kita hidup dengan warisan Cervantes. Para ksatria telah punah. Kita, dengan Don Quixote, tahu bahwa laki-laki tua yang naik kuda rombeng itu, yang membayangkan diri seorang Don yang bersedia berperang untuk menegakkan nilai-nilai yang luhur itu, adalah tetap Alonzo Quixano yang miskin. Bila ia meninggalkan rumahnya buat bertualang dan berperang untuk memperbaiki dunia, itu karena ia majenun. Ia terlampau banyak membaca dongeng kepahlawanan. Namun dari tangan Cervantes, Don Quixote tak jadi sebuah paparan yang sinis tentang manusia. Ada yang justru mengharukan dalam diri Alonzo Quixano-sesuatu yang mungkin menyebabkan Sancho Panza, seorang petani dengan pikiran sederhana, mengikutinya dengan setia, antara percaya dan tidak. Sebab itu Don Quixote bukan hanya sebuah cemooh kepada sikap ksatria ketika dunia mengunggulkan pasar. Cerita ini mungkin malah berlatarkan sebuah pemandangan yang sayu: di sana, laku politik yang berani, mulia, dan imajinatif adalah perbuatan yang ganjil. Di situlah Sancho Panza tampil sebagai tokoh penting. "Ajaibilah aku tanpa keajaiban!" serunya suatu kali. Ia tak punya waham. Ia tahu bahwa bertempur melawan kincir angin bukanlah bertempur melawan raksasa yang menyamar dengan sihir. Ia tak melihatnya sebagai suatu konfrontasi yang dramatik. Ia bisa hidup tanpa drama. Tapi ia tak meninggalkan Alonzo Quixano dan impiannya. Bagi Sancho, hidup (juga politik) adalah kiat untuk beroperasi di celah-celah apa yang mungkin. Tapi "the art of the possible" berarti tetap memerlukan art, membutuhkan kiat. Sebab hidup tak hanya sepenuhnya terdiri atas yang "apa yang mungkin". Ternyata manusia juga bisa menghendaki sesuatu yang lebih, yang pelik dan dalam, misalnya keadilan. Dengan kata lain-dan inilah yang tak dilihat Machiavelli-terkadang ada sesuatu yang berharga, yang berada di luar tatanan praktis yang mendorong manusia membuat sejarah. Justru karena miskin, Sancho bisa dekat dengan Don Quixote. Sebab itu ia berbeda dengan teman kita yang tak ingin terlibat di dunia, di mana yang luhur diperjuangkan tatkala yang busuk menyebar. Seandainya ia hidup di antara kita, Sancho mungkin juga akan mengeluh, "Ah, politik begitu menjengkelkan sekarang." Tapi seraya ia tahu zaman telah jadi mustahil bagi Don Quixote, ia berjalan setia di samping tukang mimpi itu. Ia tahu hanya manusialah yang bisa bermimpi dan menyiapkan perubahan, justru di dunia yang tak terpenuhi. "Manusia menentukan, Tuhan mengecewakan," begitulah ia berkata. Goenawan Mohamad

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengangkatan

Sakit

TEMPO DOELOE

Buku

Dua Wajah Kiai Sadrach

Catatan Pinggir

Sancho

Fotografi

Guratan Sejarah Sosial Mathesie

Tari

Gendari yang Mengalir

TEMPO|interaktif

Nasional

Kejaksaan Temukan Aliran Duit PNS Batam ke Dhana

Olahraga

Gagal Bawa Bayern Raih Gelar, Heynckes Ogah Pergi  

Gaya Hidup

Rumput Laut Jauhkan Jerawat dari Wajah  

Pria Stres Jadi Lebih Bersahabat  

Baru 15 Cagar Budaya Kalimantan Barat yang Diakui

Waktu Paling Seksi Para Wanita  

Olahraga

Liverpool Lepas Aurelio ke Gremio  

Nasional

BIN Diminta Tak Urus Serbuan Massa ke Anas-Ibas  

Nasional

Insiden Anas-Ibas Efek Konflik Internal Demokrat  

Nasional

Fans Trio Macan Tanya Soal @TrioMacan2000  

Jagoan Soto Padangnya Bambang Pamungkas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif